Menerima Rasa Pahit dengan Optimis

Lidah saya, menyukai rasa manis. Tergila-gila rasa asin, dan bisa menoleransi rasa asam.

Namun satu dan lain hal, mungkin karena perasaan mellow seharian kemarin, mungkin karena satu dan lain kejadian yang membuat saya gusar, -tentang menjadi umat mayoritas di negeri ini- saya mulai berusaha berhenti sepenuhnya untuk menambah aksesoris pada satu dan banyak hal.

Dalam hidup. Dalam keseharian.

Karena itu barangkali, pagi ini, saya urung menambahkan gula pada secangkir kopi dengan uap panas yang masih mengepul. Tidak juga krimer. Tidak juga susu kental manis.

Saya mau berdamai dengan rasa pahit.

Memahami tentang rasionalitas, adalah salah satu hal yang pahit. Manusia diciptakan dengan alat pikir. Kita belajar belasan (atau mungkin puluhan) tahun untuk menjadi manusia yang rasional. Memilah mana yang benar dan salah. Berusaha menyelaraskan dengan mana yang baik dan buruk.

Tapi kita juga belajar, di mana-mana, rasionalitas tidak bisa menang atas emosionalitas. Pelaku dunia bisnis pasti khatam dengan hal ini, apalagi pelaku kegiatan periklanan. Itu lah kenapa, pesan yang sangat rasional harus dibalut sedemikian rupa -bahkan norak dan kampungan- demi relevansi yang menyentuh audiens.

Apakah rasionalitas berkolerasi dengan tingkat pendidikan?
Tidak juga. Kita banyak melihat mereka yang berpendidikan tinggi pun sering gagap menegakkan argumentasi.

Apakah rasionalitas berkolerasi dengan tingkat penghasilan?
Tidak juga. Mereka yang punya banyak penghasilan bisa jadi malah jadi pemodal untuk hal-hal yang irasional.

Dan barangkali, alasan mencintai negeri ini pun semakin tidak rasional.

Lahir dan besar di sini,  sebutan ‘orang Indonesia yang beragama Islam’ terasa lebih relevan bagi saya, ketimbang sebaliknya: ‘orang Islam yang berwarganegara Indonesia’.

Kita bisa memilih menjadi warga negara mana berdasarkan alasan-alasan rasional. Misalnya karena tawaran kehidupan yang lebih mudah. Namun saya pribadi, tidak memilih berpindah keyakinan karena alasan rasional.

Dan, sekarang saya ingin mencintai negeri ini untuk alasan-alasan sederhana saja. Karena sisi rasional seperti berhenti pada semua karya luar biasa yang menurut saya esensial, namun tenggelam dalam ingar bingar hal-hal yang sengaja dibuat rumit dan kompleks.

Saya menyesap kopi pahit sambil melihat tayangan langsung mereka yang bernyanyi di balai kota pagi ini.

Untuk itu semua, untuk segala alasan irasional, saya akan berdamai dengan rasa pahit.  Karena memang itu adanya, sembari mengumpulkan semangat dan nyali untuk tetap optimis.

Melanjutkan hidup.
Melanjutkan perjuangan mencintai negeri ini.

 


Indonesia ibu pertiwi
Kau kupuja kau kukasihi
Tenagaku bahkan pun jiwaku
Kepadamu rela kuberi

 

Work Less, but How?

Saya bukan orang yang disiplin. Cenderung berantakan. Slordeh. Dan tipikal pemuja deadline. Kalau belum dekat deadline, rasanya otak belum bisa diajak kerja, masih main-main mencari distraksi lainnya.

Saya juga bukan orang yang persisten. Cita-cita banyak, tapi sering kandas karena kurang tekun saat eksekusi. Banyak kesempatan yang saya buat. Sangat banyak. Buat saya, lebih mudah menciptakan kesempatan ketimbang mewujudkannya dalam hasil yang nyata.

Tapi, jika kesempatan itu berhubungan dengan pihak lain, kita tidak bisa sekadar melupakannya ketika eksekusi di lapangan mengalami kendala.

Somehow,  I feel … lost.

Bingung menentukan prioritas karena semua TERASA PENTING.
Meski jangan-jangan, ya enggak penting-penting amat.

Salah satu kebiasaan buruk yang saya punya: overthinking, dan too much in to detil.  Oh, satu lagi: susah bilang “No” karena enggak enakan. 

Now, I should simplifies life.

Salah satu review buku yang dibagi Arianna Huffington melalui jejaring LinkedIn yang saya baca, berjudul  “Rest: Why You Get More Done When You Work Less”.   Terbit Desember 2016 dan saat ini baru tersedia versi Hard Copy. Resensi itu sendiri,  merupakan artikel  Arianna untuk New York Times.

Ada kutipan yang menarik.

“Work and rest aren’t opposites like black and white or good and evil,” Pang writes. “They’re more like different points on life’s wave.”

Pertanyaannya, bisakah semua pekerjaan yang segunung itu bisa diselesaikan jika kita mengurangi waktu untuk mengerjakannya?

I hope we can.

Caranya? Berdasarkan sejumlah bacaan, berikut yang saya coba.

Pareto 20:80 

Buat daftar semua yang harus dikerjakan. Pilih mana yang mendatangkan hasil dan impact paling banyak.  Eliminasi yang tidak membawa banyak impact. Atau, jika tidak bisa dibuang, delegasikan.

Konsep ini juga bisa diterapkan juga untuk memilih mana barang yang tidak perlu lagi kita simpan. Bahkan, mungkin, bisa diterapkan juga untuk bagaimana kita memutuskan untuk membuang kenangan yang tak perlu. #eh

30 Menit: 30 Hari: 30 Minggu

Saya lupa membaca konsep 30:30:30 ini di buku siapa. Yang jelas, saya ingat ini metode untuk memutuskan apakah sesuatu layak dikerjakan atau bisa ditunda.  Untuk setiap hal yang membutuhkan keputusan, pikirkan efek dan impactnya selama 30 menit ke depan, 30 hari ke depan, dan 30 minggu ke depan.

Ada yang sifatnya sangat urgen, dan jika tidak dilakukan bisa merugikan dalam waktu 30 menit.

Dan menariknya, saat menerapkan konsep ini, banyak hal yang kita kira penting ternyata tidak segitu pentingnya.

Jadi, jika kita punya sekitar 100 “things to do”, maka dengan menerapkan konsep Pareto, kita bisa memilih 20 hal saja. Dari 20 itu, kita bisa menyusun skala prioritas dengan konsep 30:30:30.

Kerangka Waktu 

Tetapkan waktu dan tenggat untuk menyelesaikan apa yang sudah menjadi komitmen prioritas kita. Kadang-kadang, ada pekerjaan yang beres dalam waktu lima menit tapi bisa tertunda sekian lama, hanya karena kita menunda…kemudian lupa.

Ada ide tentang bekerja 4 hari dalam seminggu, masing-masing 10 jam kerja per hari dengan jeda break 3 kali. Total waktu bekerja tetap 40 jam per minggu.  Dan cara ini (dengan detail yang berbeda) sudah diterapkan di beberapa perusahaan besar, seperti Google dan Amazon.

Ada banyak faktor yang dibutuhkan agar cara itu berhasil. Tapi, jika kebanyakan cara dan proses bisnis kita masih bersifat manual, rasanya membatasi waktu kerja menjadi 4 hari seminggu mungkin berdampak pada konsekuensi bisnis.

Saya sendiri tertarik mencoba 4 hari kerja seminggu,  plus Friday Creative Session.  Jadi, inginnya Jumat khusus untuk meet up, dan seharusnya bisa untuk brainstorm ide baru, atau chit chat bahas analisis seminggu.

Mengurangi Distraksi 

Teknologi seharusnya mempersingkat waktu kerja kita. Namun yang lebih sering terjadi, teknologi membawa distraksi yang tak berkesudahan.  Tak ada cara lain, selain disiplin menjauhkan diri dari ponsel, dan internet, saat harus bekerja.

Apalagi, kalau kita menjalankan prosesnya dengan betul, maka email-email yang sifatnya insidensial semestinya tidak akan terjadi.  Tidak perlu ada krisis yang harus diselesaikan segera.

Cara Scrum 

Scrum umumnya diterapkan untuk pembuatan software. Kerjakan satu per satu. Jika ada lima project, maka bereskan satu per satu, bukan kelimanya dalam satu waktu.

Apakah bisa diterapkan untuk sebuah proyek kerja jasa? Well, agak chalenging, tapi layak dicoba. Sebab biasanya, kita enggak bisa dengan mudah mengatur waktu klien untuk kick off program. Bisa saja semua menumpuk di satu waktu dan deadline berdekatan.

Ciri khas Scrum ialah cara kerja per tahapan kecil, dan bersifat iteratif. Scrum juga menerapkan tiga hal dalam monitoring: transparan, inspeksi, adaptasi.

Di pabrik Toyota, setiap orang punya hak untuk menghentikan mesin kapan saja ketika melihat ada yang tidak beres. Lalu ada perbaikan saat itu juga, dan mesin kembali berjalan.

Dari sisi tim,  metode Scrum membutuhkan tiga pihak. Yaitu product owner, development team, dan scrum master. Product Owner mendesain. Development Team yang membuat. Keduanya bertanggungjawab pada hasil/produk. Sedangkan Scrum Master bertanggungjawab atas proses. Ia yang memastikan proses berjalan sesuai tahapan, dan membantu agar tim bekerja efisien dan agile.

Lebih lengkapnya, suatu saat saya akan posting tentang bagaimana kami melakukan cara ini ke sebuah project.

So, apakah semua yang ditulis di atas bisa diterapkan untuk bekerja lebih singkat namun memberi hasil lebih banyak?

Silakan dicoba. Dan silakan berbagi pengalaman di kotak komentar ya.

 

We Work Remotely, & We Are So Happy!

Video wawancara Profesor Robert Kelly di BBC NEWS membuat saya terbahak. Intervensi di area domestik (dari anak bagi yang sudah punya anak, atau dari orang tua bagi yang belum menikah) tak bisa kita tolak. Dan itu lah yang memang terjadi saat bekerja dari rumah.

Lepas dari isu rasis yang muncul sebagai efek lain dari viralnya video itu, saya sekadar ingin sharing tentang remote working.

Saya memutuskan tim Arkea tidak lagi berkantor pasca Lebaran tahun 2016. Semua bekerja remote. Meski hingga saat ini, kantor administratif kami masih tercatat di kawasan SCBD, Sudirman, Jakarta Selatan.

Kenapa?

  1. Letaknya di kawasan bisis Sudirman, dan Jakarta di pagi hari sungguh terasa kejam dengan kemacetan yang sudah menjadi realita sehari-hari. Apa rasanya tiba di kantor setelah menghabiskan energi sepanjang jalan menuju tujuan?
  2. Kebanyakan pekerjaan kami bersifat soliter. Menulis. Mendesain. Mengonsep. Betul, dua kepala lebih baik daripada satu. Tapi terlalu banyak kepala dalam waktu yang terlalu lama juga cenderung menciptakan drama (terutama jika sedang sepi project).
  3. Lebih murah. Tidak perlu biaya transport. Tak perlu ongkos makan siang berlebih. Tak perlu banyak budget untuk baju kerja. Dan yang jelas, waktu bekerja 8 jam sehari bisa betul-betul dioptimalkan tanpa menambah 2 jam perjalanan yang melelahkan.

Sekarang, kami semua bekerja remote, dengan kewajiban satu kali monthly meeting, dan  weekly meeting sesempatnya.  Sehari-hari, kami bekerja dari rumah, kamar kos, atau kafe. Untuk komunikasi, kami mengandalkan WhatsAppGroup.

LALU, SETELAH ENAM BULAN BERJALAN, APA EFEKNYA? 

BISNIS BERJALAN TERUS

Untuk bisnis kami yang berfokus pada jasa strategi komunikasi, layanan konten & media yang bersifat intangible, cara kerja remote working ini sama sekali tidak berdampak buruk. Justru sebaliknya, makin produktif dan berimbas sangat positif bagi bisnis.

Arkea juga mulai menerima pekerjaan lintas negara. Memang, pekerjaan tersebut tidak tergolong rumit dan butuh strategi khusus. Pekerjaannya tergolong teknis, namun dalam volume besar.

Kami diminta melokalkan konten website. Untuk itu kami berkolaborasi dengan sekitar 50-an freelancer di sejumlah kota di Indonesia, paling banyak di Jakarta, Yogya, dan Bandung. Modalnya: email, whatsapp messenger, dan google drive.

Pekerjaan itu beres dalam hitungan minggu. Rasanya senang, bisa bekerja sama dan menaruh rasa percaya di antara kami yang sama sekali belum pernah tatap muka.

LESS DRAMA

Untuk jenis pekerjaan soliter, kebanyakan pertemuan tanpa arah dan target yang jelas cuma jadi paguyuban penuh gosip. Tak produktif. Dan mungkin, malah menyulut segala macam drama yang kontra produktif.

Ditambah energi yang sebagian habis di jalan. Emosi. Hormon. Lalu dipicu momen yang sebetulnya tak terlalu penting, dan malah membuat komunikasi berjalan buruk.

Bekerja secara remote, mengurangi hal-hal demikian.

Jika jam kerja mulai 09.00 WIB, maka silahkan saja jika punya me-time pagi hari. Mungkin bersantai dulu sambil menyesap kopi dan menghirup aromanya. Bukankah menyenangkan jika memulai kerja dengan rasa bahagia?

LOWER COST, BETTER IMPACT

Biaya menyewa kantor virtual untuk urusan administrasi dan perpajakan sekitar Rp6 juta per tahun. Bandingkan dengan biaya sewa ruko di tengah kota sekitar Rp75 juta per tahun. Biaya dapat dialihkan menjadi biaya akses internet, atau langganan berbagai macam aplikasi untuk produktivitas kerja. Dan tentu saja, alihkan untuk biaya pemasaran serta kualiatas SDM.

Gaya kerja full remote banyak diterapkan sejumlah perusahaan jasa, utamanya bidang kreatif. Dan sejauh yang saya tahu, omzet mereka juga tidak kecil.

Nilai gengsi dari sebuah “alamat yang representatif” sudah tidak lagi relevan dan terlalu mengada-ada.  Karena kini sudah banyak wadah untuk memajang hasil kerja kita.

Satu-satunya alasan beralamat di perkantoran ialah semata urusan administrasi dan legal. Sebab, umumnya pemukiman tidak diperuntukkan untuk berkantor/berbisnis.

Oh ya, ini video Professor Robert Kelly yang sudah ditonton lebih dari 6 juta kali di Youtube. Happy remote working! Mau berbagi cerita seputar pengalaman remote working? Silakan di box komentar yaaa 🙂