Menerima Rasa Pahit dengan Optimis

Lidah saya, menyukai rasa manis. Tergila-gila rasa asin, dan bisa menoleransi rasa asam.

Namun satu dan lain hal, mungkin karena perasaan mellow seharian kemarin, mungkin karena satu dan lain kejadian yang membuat saya gusar, -tentang menjadi umat mayoritas di negeri ini- saya mulai berusaha berhenti sepenuhnya untuk menambah aksesoris pada satu dan banyak hal.

Dalam hidup. Dalam keseharian.

Karena itu barangkali, pagi ini, saya urung menambahkan gula pada secangkir kopi dengan uap panas yang masih mengepul. Tidak juga krimer. Tidak juga susu kental manis.

Saya mau berdamai dengan rasa pahit.

Continue reading “Menerima Rasa Pahit dengan Optimis”

Work Less, but How?

Saya bukan orang yang disiplin. Cenderung berantakan. Slordeh. Dan tipikal pemuja deadline. Kalau belum dekat deadline, rasanya otak belum bisa diajak kerja, masih main-main mencari distraksi lainnya.

Saya juga bukan orang yang persisten. Cita-cita banyak, tapi sering kandas karena kurang tekun saat eksekusi. Banyak kesempatan yang saya buat. Sangat banyak. Buat saya, lebih mudah menciptakan kesempatan ketimbang mewujudkannya dalam hasil yang nyata.

Tapi, jika kesempatan itu berhubungan dengan pihak lain, kita tidak bisa sekadar melupakannya ketika eksekusi di lapangan mengalami kendala.

Somehow,  I feel … lost. So…. HOW?

Continue reading “Work Less, but How?”