A Good Company

If you join a good company, you’ll get more than a salary. After all those works you did best, you’ll get fruitful experience, also a great’new family’.

For last 10 years, I work as an employee.The longest period at Media Indonesia, 2004-2011, after that ‘poem moment’ in my life.

I learned how to be a writer, while working as a journalist. With my mathematic background, I learned how to observe. I learned to do some fact analysis, do works for both sides of the story.

I learned how to deal with difficult condition, how to negotiate for incredible sources. I learned to persist and keep the faith until deadline comes. I learned how to ‘steal’ the chance, and grab any way to get an access. I learned how to invest in networks.

I learned that every moment matters. Every single person is a hub. Every word leads to other new fact. Then I learned to recognize simple miracles which actually happens in our daily life.

And most of all, I learned how to be happy without much money.

This job let me traveled to the moon New York City. And other countries as well. And so many places in Indonesia -the most beautiful country in the world (still!). Yes, it was for free.

Sometimes, that was not even for duties. Being a journalist gave me a privilege to jump in so many opportunities to see the world: fellowships, workshops, short term courses, even a conferences.

Surely, it’s like a dream comes true. Since I read the book series Serial si Roy Gola Gong, I always want to travel, see new places, meet various people, and visit bookshops and libraries from all over the world.

And it did. When traveling was not a narcissistic thing to celebrate yet.

After 7 years,then comes the time to learn something new. But first, I have to leave all that privileges. Surely, it wasn’t easy to say good bye. I even still remember those tears, while talking to my editor in chief. It was a mixed feeling. But I realized, it was a kind of normal thing when you leave a comfort zone.

No need to feel sorry when you decide to go away. Especially if you did your best for your job. Sometimes, it just a melancholic things attached.

At that time, I decided to join Wego Indonesia. I was the first one recruited in Indonesia. And we start in Wisma Metropolitan before move to a lovely permanent office in Menara Palma, Kuningan.

After 7 years, I challenges myself to jump in digital content area. I learned to create content that easily digest. With our little team, we experiment some approach to deliver the message. Some works, some failed, but never be useless.

I learned how to communicate in digital world- the place with so many distraction and judgement that influences how people think and absorb the message. It was a rush.

But more or less, I learn how to build a start up, with all that kind of digital campaign, or movement. Balancing with my business activity in Oriflame, a growing direct selling business in Indonesia.

I learn to build a system. I learn to use a lot of digital tools. I learn to create something. I see it works, or fail, but again, never be useless.

Now, after 3,5 years at Wego ID, then comes a time to spread the wings. To do what I’m good at and love the most. To focus with my own business and watch it grows, day by day.

So, a resignation letter seems perfect in the end of year. It’s my way to celebrate my 10th anniversary as a company worker. It’s like closing the book as employee and start a new page as a business owner.

After all these 10 years, I realized my professional skill has been developed in a good path and ready to improve. More than that, I built friendships. A great new family. And that’s priceless.

Feeling so blessed with this experience, I can say that sometimes money is not a reason to make us stay or leave. When we apply a job, a big salary surely tease us. But keep consider about how we can grow in that play ground.

A good company will let us do our best, grows our personal development and professional skill. And if that’s happen, we get a new family as a bonus.

Senang-senang di Reading Festival

READ-FEST

 

 

Wuidih! Ada Sapardi Djoko Damono. Dan ada aku, Sica Harum.
Hohoho… aku mah siapa atuh?

Hihihi, bukan siapa-siapa.
Cuma turis literasi, penulis profesional dan pendongeng amatir untuk tole tersayang.

Lalu kenapa ada namaku di situ?
Sebab Elsara, yang menawarkan dengan ajakan “aku juga diminta, kok.”
So. baiklah mari tampil bersama.

Dan ternyata…
Wakwaw!

Tak ada nama Elsara.

Meski merasa mau pingsan melihat nama-nama lain, ya mau tak mau cuek sajalah. Tanggung!

Jadi esok sore, aku akan membaca satu bab dari Surga Sungsang, buku cerita Triyanto Triwikromo. Ini salah satu favorit bukuku tahun ini. #IndonesianBook. #2014MemorableBooks

Kalau sempat, silahkan datang.
Sampai berjumpa besok.

 

Ghostwriter, jejaknya ada di rekening bank

menulis

Seorang ghostwriter yang bekerja dalam diam mengalami tiga kali kesenangan. Yang pertama saat dibayar. Yang kedua, ketika klien dipuja pembacanya. Yang ketiga, ketika si klien membuka rahasia siapa penulis sesungguhnya.

Seorang klien yang puas tak ragu membeberkan identitas ghostwriter kepada temannya yang kebetulan berkomentar “Eh, hebat lo. Sempet-sempetnya bikin buku.”

Lalu klien yang happy akan bilang, “Oh, itu gue pake ghostwriter. Si Sica. Tau kan lo? Kondang kok.”

Okeh. Abaikan. Komentar di atas tentang betapa kondangnya si Sica itu cuma hoax. #mesem

Tapi cerita tentang klien yang happy dengan ghostwriternya lalu merekomendasikan, nyata adanya. Itu betul. Rezeki ghostwriter terus mengalir seiring promosi dari mulut ke mulut.

Ada yang jadi bekerja sama dan sukses jadi buku.

Ada yang tidak. Mostly karena kurang sreg, atau terbentur waktu dan kesibukan klien.

Iya, ghostwriter berhak kok memilih klien.
Kalau saya, syaratnya dua. Hati dan bayaran mesti cocok keduanya. Hahahaha.

Yang menjadi prioritas, tentu yang pertama. Bakal cocok enggak chemistry-nya? Sebab menulis sebagai ghostwriter butuh waktu dan pengamatan yang tak sebentar. Kalau dari awal rasanya enggak terlalu sreg, lebih baik jangan. Itu prinsip.

Tentang syarat kedua, bukan ukuran pasti. Kadang-kadang, saya berhitung juga, terutama dari sisi networking. Buat saya, ini lebih penting ketimbang delapan digit di rekening bank. #Ehm.

Biasanya, klien baru si ghostwriter cenderung berputar-putar di jejaring klien lama. Maka penting juga untuk menentukan harga awal. Jadi, dari klien pertama ke selanjutnya, ada variasi penambahan tarif.

Besarnya berapa? Yang ini, murni berdasarkan keberanian ghostwriter mengajukan harga. Memang, tak ada parameter pasti terkait tarif menulis. Kalau suka, bayar. Kalau enggak, tawar.

Biasanya, kalau pemula masih takut-takut kasih harga.

Kalau sudah punya bukti kerja dua atau tiga buku, mulai deh berani pasang harga dengan semangat ‘ngetest’. Kalau klien bersedia syukur, kalau enggak ya buka kesempatan ditawar. Ada yang matok harga Rp400 juta buat satu project (cleguk!). Ada yang cuma 10%-nya, untuk 200 halaman.

Jadi masalah harga ini, tinggal ditimbang-timbang saja. Terutama dari sisi effort. Jika mengerjakan project itu, bisa enggak terima job lain? Terutama untuk orang-orang yang suka bekerja dengan sistem paralel. Mereka ini kadang-kadang butuh distraksi demi kelancaran project utama.

Nah, sebelum bicara harga, biasanya ngobrol-ngobrol dulu lah ya.

Pertanyaan yang umum ditanyakan ialah, “gimana caranya kamu menulis buku atas nama saya, yang berbeda dengan dengan buku untuk klien lain?”

Waini…

Saya selalu bilang,  sejujurnya saya tak mampu menulis buku berdasarkan wawancara email, chat dan telepon. Harus ketemu. Paling tidak, seminggu sekali, sekitar 3-4 jam tiap pertemuan. Kira-kira dua sampai tiga bulan. Terutama untuk buku-buku yang dituntut menampilkan ‘suara pribadinya’.

Sesi pertemuan itu tak seluruhnya terkait isi buku. Melainkan lebih dimanfaatkan untuk menggali pribadi si klien. Bisa saja ngobrol (seolah) ngalur ngidul, merekam gaya tertawa, memerhatikan caranya menelengkan kepala, menghitung jeda sebelum ia bicara. Mengamati baju, warna yang sering ia pakai, cara dandan, caranya menghalau distraksi ponsel. Apapun. Pengamatan ini lah yang sangat membantu.

researching

Dan tentu saja, sebelum bertemu, saya ngepo habis-habisan. Semua postingan personal di akun media sosial si klien wajib dibaca, dirasa-rasa, dikunyah, ditelan, dipikirkan, diendapkan. Biasanya saya memperhatikan diksi yang sering keluar dalam percakapan, dan kecenderungan mengambil sudut pandang atas suatu hal.

Dengan bantuan google, biasanya saya bisa menyisir hingga puluhan halaman. Atau ratusan. Tergantung popularitas si klien -google friendly atau tidak-. Kalau ada blog si klien, lebih yahud. Lebih memudahkan saya bekerja. Kalau tidak, postingan-postingan kecil dalam grup milis pun saya baca. Stalker abis deh, pokoknya! T_T

Sebagai tambahan, biasanya saya mewawancari orang-orang di sekitar si klien. Tentu saja, tanpa sepengetahuan si klien. Dan kadang-kadang, tanpa pengetahuan orang yang saya ajak bicara. Perbincangan mengalir begitu saja. Penting buat saya, mendapatkan citra si klien -tentu saja dari pihak lain-.

Dengan cara begitu, mudah-mudahan proses memindahkan isi kepala klien menjadi sebuah teks bisa lancar jaya.

Kalau sudah wawancara, sudah ngepo, biasanya begitu ada satu bab yang kelar, langsung saya kirimkan. Tujuannya biar segera mendapat konfirmasi. Kalau oke, lanjut dengan gaya begitu. Kalau tidak, ya sodorkan opsi baru. Kesediaan menerima kritik dan revisi jadi syarat mutlak. Da aku mah apa atuh? Cuma ghostwriter yang dibayar per halaman.  😀 

Ada beberapa penulis hebat yang saya tahu menolak menjadi ghostwriter. Mereka mengajukan opsi menjadi co-author agar nama masih terpampang. Bagi mereka, itu jejak penting. Betul. Saya setuju sekali.

Tapi sekali lagi, hidup itu pilihan. #Ishhh….

Saya cuma mau bilang, bekerja dalam diam itu asyik juga. Diem-diem aja, ga perlu kondang, tapi punya rekening bank yang lumayan. Kalau cuma butuh duit, enggak perlu nunggu jadi penulis novel best seller. Asal mau diam, punya kebesaran hati buat revisi berulang kali, mau menurunkan ego dan punya networking lumayan, sudah bisa kok jadi ghostwriter.

Tapi  tahun 2015, saya enggak ghostwriter-an lagi. Hiatus dulu sampai dua atau tiga tahun ke depan. bakal fokus ke karya sendiri, mudah-mudahan bisa launching paling telat pertengahan  2015.

Gitu sih.

Oh ya, kapan-kapan saya ngeblog tentang gimana caranya jadi ghostwriter dan dimana mencari klien potensial yang saling membutuhkan.