Jualan itu gampang, produksinya lain soal…

I never know that I can sell something. Really. 

Pengalaman menjual pertama kali yang kuingat, saat di SMA, mencari dana untuk tambahan study tour ke Bali. Standar, jualan kue kering dan parsel untuk lebaran. Caranya juga standar: cari provider, minta dibuatkan sample, lalu jualan.

Tapi yang kuingat, berdua bersama teman, kami jalan kaki menyusuri Jalan Majapahit Semarang yang terasa lebih dekat ke matahari saking panasnya. Jam dua siang, pulang sekolah. Keluar masuk toko plus kantor di jalan itu. Dua jam jalan kaki, gempor, dan tak ada satu pun yang laku terjual. Tapi kami tertawa-tawa saja. Tidak merasa bodoh. Tidak juga merasa sial. Hanya sekadar bahagia bisa keluyuran pulang sekolah sebelum pulang ke rumah.

Continue reading “Jualan itu gampang, produksinya lain soal…”

Alhamdulillah, kantor buka juga…

Ada yang berubah ketika seseorang memutuskan pindah kuadran, dari karyawan jadi pebisnis yang punya kewajiban membayar karyawan.

Saat jadi pegawai, masuk angin atau flu ringan bisa jadi alasan untuk ambil sick leave seharian. Enteng aja kirim email, izin.  Saat jadi pebisnis, boro-boro. Udah mimisan, lemes pun masih dijabanin ketemu klien buat meeting.

Saat jadi pegawai, gampang ngiri saat dapat jatah kerja ketika orang-orang lain libur tanggal merah. Saat punya bisnis sendiri, tanggal merah itu siksaan karena berarti proses produksi berjalan lebih lambat. Kalau bisa nih, hari tuh Senin ke Senin lagi. Skip aja Sabtu dan Minggu. Hahaha.

Dan liburan akhir tahun 2014 sungguh-sungguh menyiksa karena sejumlah pekerjaan dan project jadi lebih slow. Sementara yang sini semangat dan obsesif, kepingin semua cepat kelar dan dapat kepastian. 😀

Jadi, mari ngebut di bulan pertama 2015. Mumpung semangat juga masih tinggi. Biar kebeli rumah berhalaman luas di Pasar Minggu dan tahun ini punya libur panjang di akhir tahun. Itinerary kota-kota Eropa Barat sudah menanti. Ish! 😀 😀

Mengenal Allende lewat Portret Warna Sepia

Tidak banyak buku-buku Amerika Latin yang diterjemahkan dengan sangat baik dalam Bahasa Indonesia. Umumnya, memang tidak selalu ada terjemahan buku dari bahasa apapun, yang baik dan pas betul.

Max Havelaar (Multatuli), contohnya. Meski kini sudah diterjemahkan dalam tiga atau empat versi, dan diterbitkan oleh penerbit berbeda-beda, kualitas terjemahan HB Jassin tetap tak terkalahkan (diterbitkan Djambatan).

Yang kuingat juga, The God of Small Things dialihbahasakan dengan sangat baik oleh A. Rahartati Bambang Haryo, nama yang familier untuk pembaca buku komik Asterix. Dan tentu saja, Ibunda (Marxim Gorki) yang diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer, yang pada saat itu sedang miskin-miskinnya dan dibayar Rp7.000 untuk menerjemahkan (jumlah yang besar untuk tahun 1955).

Jadi, membaca buku-buku terjemahan membutuhkan syarat: penerjemahnya mesti paham konteks dan memiliki rentang diksi yang kaya. Itu lah kenapa, buat saya pribadi, membaca novel atau sastra terjemahan membutuhkan pertimbangan lebih panjang.

Beberapa hari lalu menjelang tutup tahun 2014,  saya menemukan Portret Warna Sepia (Isabel Allende), terbitan Gramedia Pustaka Utama di toko buku yang selalu sepi di Kuningan City. Nama Allende membetot perhatian dan langsung mengingatkan saya pada Ronny Agustinus, pemimpin redaksi Marjin Kiri yang akrab dengan naskah-naskah Amerika Latin.

Dugaan saya benar. Namanya tercantum sebagai penerjemah buku setebal 406 halaman itu. Buat saya, itu jaminan mutu. Bukan karena kenal, tapi lebih kepada minat dan kecintaan mas Ronny pada sastra Amerika Latin hampir tak terbantahkan, yang ia dokumentasikan di sastraalibi.blogspot.com

Buku Portret Warna Sepia (Retrato en Sepia) merupakan sekuel dari buku Allende sebelumnya, Daughter of Fortune (Putri Keberuntungan) dan prekuel dari House of Spirit (Rumah Arwah). Buku ini juga yang paling tipis dibandingkan keduanya. Dan buku ini, (meski sudah diterbitkan tahun 2001 dan terjemahannya diterbitkan tahun 2012) menjadi awal perkenalan saya dengan trilogi karya Allende.


 

Allende

 

Butuh dua hari menyelesaikan Portret Warna Sepia, diantara pekerjaan yang menggebu pada liburan akhir tahun. Dan itu, terus terang menyebalkan karena alasan-alasan sentimentil, meski sebal itu bisa dikompromikan.

Buku ini membuat saya jatuh cinta sejak halaman pertama, walaupun agak was-was. Saya selalu jeri membuka buku yang diawali dengan pohon/silsilah keluarga. Lebih ke perasaan khawatir tak mampu mengingat para tokoh dan hubungan antara mereka. Tapi, ya, saya sudah jatuh cinta di halaman pertama dan bertekad menuntaskannya.

Aku lahir di dunia ini pada hari Selasa musim gugur 1880, di rumah kakek-nenekku dari pihak ibu, di San Fransisco. Sementara dalam rumah kayu yang ruwet itu Ibu mengejan keras dengan hati yang gagah dan tulang rapuh berusaha membuka pintu keluar bagiku, di jalanan luar rumah, kehidupan keras kampung Pecinan berlangsung riuh rendah, dengan aroma masakannya yang tak terlupakan, teriakan-teriakan memekakkan dalam logat asal mereka, dan kerumunan manusia bak lebah yang tak habis-habisnya bergegas kian kemari.

Aku lahir dini hari, tapi di Pecinan waktu tak kenal aturan. Saat itu jam buka pasar, lalu lintas gerobak mulai ramai, begitu pula salak mengenaskan anjing-anjing dalam kerangkeng yang menanti pisau tukang daging.

Saya jarang suka kalimat-kalimat panjang. Tapi tentu saja, menghadirkan sebuah gambaran tentang situasi yang riuh rendah dan berantakan dalam satu entakan, butuh kalimat panjang yang dijeda koma. Efektif untuk menarik kesan pertama.  Tapi entah kenapa, saya sedikit pusing merasakan teknik ini di halaman pembuka Aruna dan Lidahnya (Laksmi Pamuntjak).

Terutama yang saya suka pada paragraf di atas, “Aku lahir dini hari, tapi di Pecinan waktu tak kenal aturan”.

Satu kalimat itu langsung menguatkan kesan kehidupan keras yang terus menerus bergulir tak kenal waktu istirahat di kampung imigran Tiongkok. Kalimat yang efisien untuk membangun setting lokasi tanpa terlalu puitis dan mengaburkan makna.

Dan jangan salah, halaman pertama cuma pembuka kisah si ‘aku’, narator kisah ini,  Aurora del Valle, perempuan fotografer yang kehilangan memori tentang lima tahun pertama dalam hidupnya dan kerap diganggu mimpi seram hingga ia dewasa.

Karena sesungguhnya, cerita ini diawali dari sebuah ranjang Florensia pesanan nyonya besar di Amerika.

Berukuran sangat besar, ranjang ini dipreteli dalam peti-peti kemas dan berlayar sampai ke batas selatan Samudra Atlantik, melintasi perairan berbahaya Selat Magellan, memasuki Samudera Pasifik, singgah sebentara ke sejumlah pelabuhan di Amerika Selatan lalu berlabuh ke California utara, di dermaga San Fransisco.

Sebelum diantar ke rumah nyonya, ranjang itu harus dipasang dengan baik, lalu dinaikkan ke gerobak berkuda, dan dikirim perlahan-lahan ke tengah kota, dengan dua putaran penuh mengitari Union Square dan dua kali mengitari balkon selingkuhan suami si nyonya. Si sais juga diwajibkan mendentingkan genta kecil di depan balkon itu. Setelahnya, baru ranjang dikirim ke tujuan akhir.

Semua itu dilakukan di tengah-tengah Perang Saudara, saat tentara Yankee dan Konfederasi saling bantai dan bukan waktunya berkelakar dengan genta-genta kecil.

Waaainiiii…ini menarik!

Perempuan macam apa, yang mampu memperlakukan selingkuhan suaminya sedemikian rupa? Jika tak punya harta, ia tak mungkin mampu memesan ranjang gigantik dari Italia ke Amerika. Jika tanpa kuasa, tak bisalah ia memerintahkan proses pengiriman ranjang yang ngenyek dan nyelekit itu. Dan sebesar apa dendamnya pada selingkuhan si suami? Apakah karena cinta? Atau malu? Atau sekadar ego yang sulit ditundukkan. Sebesar apa egonya?

Dari potongan adegan pengiriman ranjang yang penuh drama itu, saya makin yakin bahwa perempuan diposisikan memiliki kekuatan dalam kisah ini. Umumnya memang begitu pada kebanyakan novel Amerika Latin yang baru sedikit saya baca. Misalnya, pada One Hundred Years Solitude- Gabriel Garcia Marquez (diterjemahkan dalam kualitas ‘ya, lumayan lah’ dengan judul Seratus Tahun Kesunyian, diterbitkan Benteng Press Yogyakarta, 2001)

Perempuan menikah digambarkan sebagai ibu yang berkuasa, punya peran sentral, menggerakkan roda bisnis keluarga sekaligus mengurus suami dan anak-anak mereka.

Silsilah keluarga yang digambarkan pada awal buku, mengantarkan saya pada keyakinan: keluarga ini pasti penuh drama, dan drama ini lah yang akan dikuliti lapis demi lapis oleh Allende.  Cara bertutur lewat keluarga ini sekaligus menggambarkan kondisi sosial  di San Fransisco pada zaman itu, 1862- 1910, dari sudut pandang pendatang dan kelindan masalah mereka, dengan latar belakang perang saudara, dan ide-ide besar nasionalisme dan feminisme yang tengah bergelora.

Allende memasukkan semangat perempuan menuntut hak mereka di era itu lewat sosok guru Aurora bernama Senorita Matilde Pineda, serta lewat bibi Aurora, Nivea del Valle yang pro kreasi hingga melahirkan 15 anak dan keluyuran aktif kian kemari saat hamil (yang waktu dinilai sangat tak pantas dan dianggap tak tahu malu).

Demi menyerukan perhatian pada hak pilih perempuan, Nivea kerap merantai diri di gerbang Kongres dengan dua atau tiga nyonya yang antusias dengannya, diiringi cemooh para pejalan kaki, kemarahan polisi dan rasa malu suami-suami mereka (hal 247).

“Bila perempuan bisa memilih, mereka akan memilih secara berkelompok. Kita akan punya daya tawar begitu besar sampai bisa menggeser keseimbangan kekuasaan dan mengubah negeri ini,” ucapnya.

“Kau salah, Nivea, perempuan akan memilih siapa yang dibilang suami atau pastornya, perempuan itu jauh lebih bodoh daripada yang kau kira. Lagi pula, sebagian dari kita berkuasa dari balik takhta. Kau lihat bagaimana kita menggulingkan pemerintahan yang lalu. Aku tak perlu hak suara untuk mendapatkan apa yang aku mau,” sebut Paulina del Valle, si nyonya pemesan ranjang gigantik dari Florensia, nenek Aurora.

“Itu karena Bibi punya uang dan berpendidikan. Berapa banyak yang seperti Bibi? Kita harus perjuangkan hak suara, itu yang paling pertama,” Nivea berkeras.

Dan tentu saja, kisah ini tak melulu bicara tentang perempuan pintar dan pemberani pada zamannya. Tapi juga cinta yang memaafkan, kesetiaaan yang keras kepala, kebutaan nafsu yang dimengerti, serta hasrat hidup manusia yang terus menggelora, mencari jalan keluar dari kelindan masalah yang tak pernah merupakan kebetulan, mengeruk keuntungan bisnis masa perang, perjuangan berusaha memahami kehidupan dan upaya keras untuk menolak kalah.

Tak ada cahaya tanpa bayangan. Sama seperti tak ada bahagia tanpa rasa sakit (hal 262).

Meski buku ini merupakan buku kedua dari trilogi Putri Beruntung – Portret Warna Sepia – Rumah Arwah, namun percayalah, tak pernah jadi masalah untuk mengenal Allende dari logi yang mana saja. Semuanya bisa menjadi gerbang masuk menyenangkan ke karya-karya Allende yang kuat bercirikan ‘family saga‘, dan kisah-kisah Amerika Latin lainnya.