30 Hari Mencatat Senyuman

Kata ibu mukaku judes. Menurutku sudah lama begini, kenapa baru bilang, Bu?

Sebab kupikir-pikir tak ada yang salah denganmu.
Paras tak jelek-jelek amat. Kau kan anakku dan wajahku tak buruk.
Pintar juga, karena kerjamu membaca saja.
Tapi usiamu sudah 32. Tak inginkah kau bersama seorang pria?
Dipuja olehnya dan kau bisa bermanja.

Oh, itu.
Aku punya banyak teman pria, Bu.
Dan sepertinya, muka judes ini tak terlalu memberiku masalah.

Siapa? Andri? Itu teman kecilmu. Tampaknya kamu juga sudah tak bernafsu menjadikannya suami toh? Lalu, Ryan? Itu teman saling bersautan di ponsel. Jauh. Dia di Amerika dan sepertinya tak mau pulang. Memangnya kamu mau ke sana? Atau siapa sih? Tobi? Aku kira dia suka laki-laki.

Ya itu kan yang ibu tahu. Teman priaku banyak, percayalah.

Bukan teman, Nak. Pacar. Calon suami. Suami.

Oh, itu gampang. Nanti aku bisa pilih salah satu dari mereka.

Ah, ibu bosan kau janjikan. Tiap tahun tambah teman priamu hanya untuk menemanimu ke sana kemari. Tak ada yang bisa kau ajak ke kamar sembunyi-sembunyi. Ibu pernah muda. Dulu aku lebih genit daripada kamu.

Idih.

Maksudku, Nak. Tak inginkah kau merasakan satu atau dua kali ciuman? Atau sudah?

Belum.

Tuh. Usiamu 32 tahun. Di usiamu dulu, aku sudah punya 2 anak, sudah cerai dan sudah pacaran lagi. Sudahlah, jangan mendebat dulu. Ingat senyum. Senyum.

Maka aku membeli buku besar, polos. 50 halaman. Kuberi judul besar-besar 30 Hari Mencatat Senyuman.

Kepada diri sendiri aku berjanji, setiap malam aku akan mencatatnya di buku itu. Dan sepanjang hari, aku akan memotret objek yang kepadanya aku tersenyum. Lalu merekam suaraku sendiri, kenapa aku tersenyum. Kalau sudah, akan kuberikan pada ibu.

Dan hari ini hari pertama.

Dari pagi aku berjaga. Bangun pukul tiga dan seperti biasa tak langsung siaga. Buka ponsel, cek lini masa. Aku membaca dengan setengah minat. Buka whats app, masih ada sisa-sisa obrolan semalam dengan beberapa teman. Buka Facebook, terdampar sebentar ke sejumlah status teman yang mengundang rasa ingin tahu. Lalu berselancar di jagat maya.

Baca ini. Baca itu. Baca essay lama. Baca blog TKW di Hong Kong. Baca mojok.co. Baca cerpen di lini masa, dan tersentuh dengan kisah Burung Pipit dan Rajawali. Tapi aku belum tersenyum. Meski hatiku menghangat.

Dua jam yang bisa terlihat sebagai kesia-siaan oleh ibuku.

Bertemu ibu pagi-pagi di dapur. Ia menjerang air panas dan membuat kopi hitam di gelas belimbing. Saat berpapasan, aku menarik bibir ke kiri dan ke kanan, demonstratif.

Tak perlu kau tersenyum begitu rupa kepadaku. 

Ini agar ibu tahu, aku ingat dan berniat mengamalkannya.

Lalu tawanya memenuhi udara, mengundang Durry, anjing kampung yang kuselamatkan saat terbawa arus banjir di kawasan Bukit Duri Tebet menyalak riang. Ia menyeruak masuk dari pintu dapur yang terbuka dan menggoyang-goyangkan ekornya.

Setiap hari, ia tidur di halaman belakang dan boleh masuk ke dalam rumah hanya sebatas area dapur belakang. Ketika ibu minum kopi pagi-pagi sembari mengunyah headline koran dan memamah pisang goreng. Durry akan di dekatnya, mengusel-usel kaki ibu lalu ibu akan menjatuhkan sepotong pisang goreng, atau jadah, atau jajanan pasar yang sekarang makin jarang tapi ia buat sendiri di dapurnya yang besar.

Anjing enggak makan ketan Bu. Nanti ususnya lengket loh. Kataku menakutinya suatu kali.

Itu kalau anjing impor. Durry anjing kampung. Cemilannya juga cemilan kampung.

Pagi ini, seperti yang sering kami lalui sebelumnya, ibu pun berpesan.

Kalau nanti ibu mati duluan, berjanjilah untuk merawat anjing-anjing kita. Saudaramu tak akan ada yang bersedia.

Ah, ibu sehat kok.

Obrolan tentang kemungkinkan ibu mati lebih dahulu selalu membuat mataku panas. Aku anak perempuan yang hidup bersamanya lebih lama dari saudara-saudaraku lainnya.

Kami berempat bersaudara. Satu lelaki dan tiga perempuan. Sulung pertama, Mbak Astri, tinggal jauh di Manchester, menjadi dosen kimia di sana dan menikahi imigran Iran. Dua anak mereka bermata besar dan berhidung bangir.

Kakak lelakiku, Mas Dani, lebih sering di rig minyak ketimbang bersama anak istrinya, apalagi kami. Ia punya jadwal rutin mengunjungi kami, tiga hari dalam tiga bulan. Bersama sepasang anak kembar dan istrinya yang santun, yang selalu kulihat tak mau melangkah masuk ke dapur kuatir terkena ludah Durry tapi membolehkan anak-anaknya bermain bersama anjing kampung super jinak yang protektif itu.

Lalu aku, tiga puluh dua tahun bersama ibu. Dan ada si bungsu, Mila, yang dinikahi tentara dan selalu tak bisa bertahan lama di satu area. Berempat bersama kedua anak mereka, selalu berpindah tak lebih dari 12 purnama.

Sebetulnya, kau tak perlu kuatir. Ibu tak takut sendiri. Kau bisa menjalani hidupmu. Menikah, punya anak, mengunjungi ibu sesekali. Tenang saja, ibu bisa menyibukkan diri dan menjaga diri.

Pagi-pagi sudah ada obrolan tentang mati. Bagaimana aku bisa tersenyum pagi ini, Bu?

Ibu tertawa. Justru kau harus dibikin imun dengan kesedihan yang belum ada bentuknya. Dasar anak parno.

Aku melenggang ke kamar mandi. Sambil berkaca, aku berpikir-pikir, kepada apa atau siapa aku akan tersenyum hari ini?


Apa sulitnya tersenyum?
Kau kan bisa tertawa lepas.

Ya, menurutku juga tak sulit kok. Tapi seharian ini memang aku tak tersenyum. Pun tak jengkel.

Itu obrolan via whatsapp dengan Ryan. Ia baru bangun di Brooklyn, sedangkan aku sudah di rumah lagi setelah seharian wira wiri. Dan menyadari, aku belum tersenyum seharian ini.

Pada petugas yang memeriksa tas sebelum masuk gedung kantor, aku tak tersenyum. Cuma mengangguk sekilas. Formalitas yang rutin. Pada bos yang memujiku, aku juga tak tersenyum senang.

Lantas kenapa perkara senyum ini jadi menganggumu? Sampai harus kaubuat catatan sendiri?

Entah. Aku cuma ingin tunjukkan pada ibu bahwa dugannya keliru. Bahwa aku selalu mudah untuk tersenyum dan bukan itu alasan yang membuatku belum bertemu laki-laki untuk kupilih jadi suami. Agar mendukung pendapatku, aku butuh dokumentasi tercatat. Kau tahu, ibu selalu suka hal-hal seperti itu. Terukur.

Jadi, hari ini tak ada satupun yang membuatmu tersenyum?

Iya.

Saat ini pun?

Iya. biasa saja.

Maksudnya kau tak senang?

Bukan, Ryan. Tentu saja aku senang kita bicara seperti ini. Tapi kita melakukan ini tiap hari. Aku senang, tentu.

Tapi tak membuatmu tersenyum ya?

Iya. Aku mencari senyum yang muncul tiba-tiba, spontan, polos, primitif. Begitu, maksudku.

Oh, Mungkin itu karena hidupmu terlalu cepat?

Menurutmu begitu?

Lama kutunggu. Tak ada balasan. Meski pesanku sudah ia baca.
10 menit kemudian ku beranjak ke tempat tidur. Ryan tak akan bicara lebih panjang. Aku tahu itu.


 

Hari kedua, mencatat senyuman.

Pagi yang mirip dengan pagi-pagi sebelumnya. Dengan ibu yang khusyuk  membaca surat kabar di depannya, Durry yang bergoyang-goyang girang di sekitar kakinya, kopi hitam di gelas belimbing, kue apem di atas meja mahoni dua meter.

Istri Pak Saman meninggal saat melahirkan semalam.

Innalillahi wainnalillahi rojiun.
Pak Saman siapa sih, Bu?

Tukang sayur keliling. Yang baru pulang haji gara-gara menang undian. Yang memanggil pembeli dengan terompet.

Oh. Kukira anak-anaknya sudah besar semua. Sudah tua begitu.

Kalau sudah tua memang tak boleh menghamili istrinya.

Komentarku salah. Iya, tentu saja boleh. Lalu bayinya gimana?

Ada di rumah sakit. Tapi desas desus sudah ke mana-mana. Itu bukan anak Pak Saman.

Tuh, apa ku bilang?

Hus. jangan bicara buruk tentang orang yang sudah meninggal.

Aku mengangkat bahu. Masuk ke kamar mandi yang tak jauh dari dapur. Hari ini, aku harus mengikuti si bos meeting dengan banyak orang. Mudah-mudahan, ada yang membuatku tersenyum.

Kalau nanti kamu pulang cepat, temani ibu ke rumah sakit ya. Kita lihat bayi Pak Saman.

 

*Cukilan – draft- 30 hari mencatat senyuman.

Just spread the idea…

Don’t judge people. Just spread your idea. Keep talking and you’ll find a team.

I learn it from Oriflame. And it’s works for other things.

Ya, jadi pebisnis MLM Oriflame, mengajari saya banyak hal.

Bahwa kadang-kadang, kita terlalu banyak mendengarkan pendapat orang lain, yang tak relevan dengan kehidupan kita, dan celakanya, membuat kita percaya tanpa betul-betul memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk mengeksplorasi lebih jauh.

Bahwa kadang-kadang, kita terlalu cepat menghakimi orang, menilai ia tak butuh dan tak mau. Padahal cuma kita yang terlalu malas untuk bicara. Mungkin karena kita malu, mungkin tak suka sama orangnya untuk alasan-alasan yang tak terlalu prinsipil, mungkin gengsi, atau mungkin justru karena kita yang tak percaya diri.

Bahwa sebetulnya, banyak hal dalam kehidupan keburu menjadi produk salah sangka. MLM dianggap hanya membuat kaya mereka yang bergabung duluan. Ouh, yang punya pendapat ini, coba deh gabung Oriflame. Berasa banget kerja yang sesungguhnya. Terasa sekali investasi perusahaan ini di dunia digital -dashboard yang canggih plus kini tersedia aplikasi mobile. Ya, saya belajar bahwa yang namanya MLM beda dengan money game. Dan ada MLM yang profesional. Oriflame. 😀

Bahwa sebetulnya, kita perlu memberi kesempatan pada banyak hal untuk mampir dalam kehidupan. Tak perlu ketakutan atau paranoid berlebihan saat mencoba hal baru.Kita tak pernah tahu bagaimana nasib berkelindan. Tentu saja, tak perlu repot mencoba narkoba karena sudah banyak contoh buruk dan kita tak perlu menambahnya.

Bahwa sebetulnya, modal sebetul-betulnya bukanlah uang. Tapi kepala yang berpengetahuan, kemampuan berempati dan mendengarkan, kemauan untuk membantu  dan tersu belajar, serta keberanian berjejaring. Dengan siapa saja. Tanpa menghakimi.

 

 

 

Mari bekerja. Kerja.Kerja.

Semalam, mata cuma bertahan sampai 2 menit menjelang pukul 10 malam. Lelap. Hingga siang. Padahal rumah terkepung dar der dor petasan. Saya luput dari ingar bingar itu.

Saat bangun, perasaan yang timbul pertama kali: kerja.

Bukan karena daftar resolusi yang panjang. Toh sebetulnya, saya pribadi sudah berhenti membuat resolusi tahun baru. Beberapa daftar sudah ditetapkan lebih awal, sebelum menutup 2014. Plus, sudah mencicil dengan langkah-langkah kecil.

Mungkin karena itu, semangat bekerja seperti menyentak. Mungkin juga karena spirit yang terasa di akhir tahun ini ialah: kerja.

Tahun 2014 ialah tahun yang gaduh. Majunya Joko Widodo sebagai calon presiden yang kemudian terpilih secara dramatis plus heroik, sungguh meramaikan jagat media sosial. Sitok Srengenge ditetapkan sebagai tersangka kasus pemerkosaan. Jonru menjadi kata benda dan kata sifat. Istilah tabayun di mana-mana. Naiknya BBM. Yayasan Karta Pustaka Yogyakarta ditutup. Penembakan di Papua. Meninggalnya Sitor Situmorang.  Wafatnya Mbah Lestari. Lalu bencana Air Asia, yang satu kalipun tak pernah mengalami kecelakaan fatal  sebelumnya.

Dari semua kegaduhan ini, hal yang paling teringat dan mencuat ialah sosok-sosok pemimpin di masa krisis. Tony Fernandes, CEO Air Asia dengan cekatan dan empati dalam, berdiri paling depan. Mengambil tanggung jawab dan memastikan proses berjalan benar. Joko Widodo, yang bertubuh kerempeng itu, nyata betul menghayati makna Panglima Tertinggi Republik Indonesia, memegang komando langsung, memastikan jajarannya bekerja dengan efisien.

Sebagai warga negara Indonesia, sejujurnya saya bangga. Dalam krisis, kualitas kepemimpinan sejati akan diuji. Presiden, Basarnas, TNI, Ibu Riesma, dan segenap jajarannya menunjukkan bagaimana seharusnya pemerintah bekerja. Bukan mengucap belasungkawa dari podium istana.

Beberapa waktu sebelumnya, presiden juga berdiri mengumumkan sendiri kenaikan BBM. Pemimpin, dibutuhkan saat kriris. Ia harus maju, ambil tanggung jawab dan menelan komentar pahit.

Krisis dibutuhkan agar kita menjadi manusia yang lebih liat, dan terbang makin tinggi. Sebab mau tak mau, dalam perjalanan hidup, pasti akan bertemu kriris.

Tahun 2014 dalam ranah kehidupan pribadiku pun tak kalah gaduh. Pertengahan tahun, aku memutuskan membuat badan usaha agar move on dari segala status freelancer. Lalu si bocah yang sudah berani pergi sendiri tanpa aku, ibunya. Lalu sejumlah karut marut relasi personal. Lalu niat sekolah lagi yang belum kesampaian. Lalu satu dan dua bisnis yang tak berjalan sesuai rencana.

Dan dari semua itu, keputusan terbesar ialah berhenti menjadi pegawai. Agar lebih bayak menulis dan mengurus bisnis. Membuka pintu-pintu kemungkinan yang manis. Serta tentu saja, terus menerus memanaskan cinta, membangun pengertian dan pemahaman. Bahwa hidup memang terlihat tak sempurna, tapi keajaiban selalu bisa diusahakan. Bahkan kadang-kadang begitu mudah dan tersedia, begitu dekat dengan kita.

Sepanjang 2014, tak ada yang disesali. Kecuali tumpukan lemak yang sedikit banyak memberatkan langkah dan harus segera diusir. Pun perlu menakar kemampuan tubuh dengan bijaksana agar penyakit lama tak kambuh tahun depan.

Welcome 2015.