Ibu #1

Ibu-1
Ibu, pernah suatu kali, ia ingat sebagai orang paling bahagia sedunia. Paling kaya. Paling berpunya. Apa yang ia minta, pasti ada.

Pernah, ia minta sebuah tawa.

Ibu menyanyikan sebuah lagu, beriring dengan rima hujan, lalu ada kodok meloncat sangat tinggi hingga sampai di kepalanya. Ibu menjerit. Dia tertawa.

Pernah ia minta sepotong senyum di hari hujan yang sama.

Ibu membuka pagar, menyilakan bapak-bapak tua yang sedang mengendarai sepeda dan bajunya bakal kuyub jika ia tak berteduh. Bapak tua itu tersenyum.

Saat menjelang dewasa, ia memergoki ibunya menangis di atas sajadah. Ia ikut menangis melihatnya. Ibu kenapa? Ibu bilang tak apa. Cuma sekadar rindu bapak. Dia bilang, dia tak ingat bapak tapi meminta ibunya berhenti menangis.

Lalu keesokan harinya listrik di rumah padam.

Lalu lusanya, ia dan ibu berbekal sebuah koper pindah ke kamar kos.

Kata ibu, biar praktis tak perlu repot beberes. Dia mengangguk. Kamar mereka kecil dan tak banyak barang. Bertahun-tahun mereka di sana.

Ibu masih jadi orang paling kaya sedunia

Lalu suatu hari,

Ia tahu ibunya jadi buruh cuci di rumah orang. Tiga rumah dalam sehari. Totalnya, lima majikan.
Pada suatu siang yang tiba-tiba hujan itu, ia meneduh di rumah kawan. Lalu melihat ibunya serabutan menarik baju yang sudah dijemur, di loteng seberang rumah si kawan.
Dia kecewa. Ibu bilang, kerja kantoran.
Lantaran itu ia mendiamkan ibunya berhari-hari.
Lalu ibu merayunya dengan banyak cara.
Dari sepotong apem bakar dengan topping keju.
Sampai majalah go girl.
Sampai suatu hari, ia memutuskan untuk berbaikan.
Ia tetap tak bilang kenapa ia diam, cuma tersenyum lalu tertawa.
Ia kangen ibu. Tak tahan diam berlama-lama.
Lalu hari-hari selanjutnya cair seperti sedia kala.

Kini ia sudah menjadi ibu.
Makin dewasa, dia tahu ibunya cuma pura-pura tabah karena menolak buat kalah.

#kereta tebet-depok.

Sebab yang berarti, ya saat ini…

Pernah pada satu masa, saya berada di sekeliling manusia-manusia yang berlari begitu cepat. Mau kejar impian, katanya. Mumpung anak masih kecil, butuhnya kan nanti.

Betul.

Tapi, perasaan saya, harusnya ada cara yang lebih selaras. Harusnya ya. Saya juga belum nemu bagaimana. Tapi harusnya ada. Cara yang selaras, harmonis.

Ketika dalam keselarasan, upaya kecil kita bisa menghasilkan hal yang jauh lebih besar. Dan karena effort kecil itu mengundang hal besar, maka tak perlu lagi menunda hal-hal esensial yang terkesan kecil namun bisa disyukuri setiap saat.

Enggak perlu bilang ‘nanti, ya…ibu lagi repot. sebentar ya.”

Lalu tiba-tiba tanpa terasa, makhluk mungil yang dulu ringkih itu sudah bisa bilang apa maunya, dan sesekali protes.

“Mau sama ibuuuuu. Aku kan cuma mau digendong sebentar sama ibu.”

Zing!

Well, jadi perempuan itu, buat saya, sudah rumit.
Rumit lah..mesti siap pembalut dan efek emosial gegara hormon 😀
Lalu menjadi perempuan menikah itu setingkat di atas rumit.
Kadang-kadang bisa bikin lupa sama diri sendiri demi kompromi dan cinta mati.

Lalu menjadi ibu itu kompleks. Ya belajarnya, ya bahagianya.

Hinga kemudian ada satu fase, dimana badan, hati dan pikiran seperti terbelah tiga.
Meski inginnya tak begitu.
Meski inginnya semua hal yang dilakukan mewakili identitas yang sama.
Saya sebagai saya, dengan atribut sudah menikah dan punya anak.

Tapi kenyataannya, kaadang-kadang tidak begitu.
As me.
As a wife.
As a mom.

Kalau semua selaras, dua atribut itu tak mengacaukan identitas personal sehingga tak perlu dipilah, tak perlu salah satunya seolah disembunyikan atau ditangguhkan, untuk memenuhi hal yang satunya lagi.

Kalau semua selaras, maka saat ini ialah saat ini.
Tak lagi menunggu nanti, atau menyesali hari yang telah lewat. Sebab satu dongeng sebelum tidur malam ini tak sama lagi artinya dengan dongeng nanti malam. Selamanya akan jadi utang.