Multitasking is nothing…

Dan kini saatnya mulai belajar bilang ‘enggak’.

Ada orang yang selalu bersemangat untuk meng-iya-kan semua tawaran yang datang pada dirinya. Tapi lupa, ia cuma punya tenaga dan waktu yang serba terbatas. Haha. Iya, itu saya banget.

Diajakin ngapain aja, cenderung bilang hayok. Lalu saat waktunya ngerjain, baru deh ngeh betapa padatnya daftar tugas akibat janji sebelumnya. Mau di-drop, malu. Dikerjain, enggak ada waktu.

Ada dua alasan yang biasanya bikin saya menyanggupi. Yang pertama karena penawarannya yang seru, entah jenis aktivitas atau bayarannya memang menarik banget. Yang kedua, karena orang yang menawarkan, memang super baik dan manis. Ini tipe orang yang bisa bikin orang lain ngerjain apa maunya tanpa merasa keberatan, meski akhirnya ngerasa jadi ‘korban’. Cuma, saya jarang kena nih sama yang beginian. Mau sebaik apa dan semanis apapun orangnya, saya masih bisa ‘jaga jarak’.

Saya lebih sering ‘terjebak’ atas penawaran yang memang menjanjikan pengalaman, tantangan atau jejaring baru. Biarpun ditawari oleh orang yang enggak seru-seru amat, atau mungkin malah ditawari oleh orang yang belum dikenal, bisa tuh langsung nyamber.

Dan seharian kemarin, baru kerasa banget.

Kemarin ialah satu hari dimana notifikasi whatsapp menumpuk lebih dari 20an orangyang menuntut perhatian, saat ponsel didiamkan 20 menit saja. Mau menjawab yang mana dulu saja, sudah keder.

Yang bikin parah, semua menuntut perhatian seputar produksi barang. Buku yang harus dicetak, proposal yang harus dikirim, naskah yang harus dibuat. Semua berurusan dengan tenggat. Artinya, butuh waktu buat memproduksi semua itu, bukan sekadar nyiapin isi kepala buat bahan ngecap.

Secepat-cepatnya cetak buku, ya enggak mungkin juga 100 eksp beres dalam hitungan satu jam toh. Enggak mungkin dadakan. Apabila terburu-buru, kesalahan fatal bisa terjadi. Jika sudah begitu, rugi uang dan waktu.

Dan saat jeda singkat sehingga bisa diam sesaat, saya sadar, apa yang terjadi kemarin bersumber pada satu hal: gak bisa nolak penawaran di awal. Terutama dalam hal waktu. Main iya aja saking bersemangat.

Menjadi orang dengan antusiasme berlebihan kadang-kadang membawa kita masuk ke jejaring baru, dan kesempatan baru. Pe er-nya ialah gimana cara biar semua delivered. Bisa dengan punya tim yang siap mengeksekusi semua akibat dari ‘hayok’ itu. Atau jika tidak, ya sesimpel bilang, sorry I can’t.

Dan itulah pe er orang gengsian.
Rasanya malu banget kalau bilang I can’t.
Padahal bilang ‘can’ juga berisiko over promised.

Begitu.
Jadi sekarang mestinya :

  1. Belajar bilang enggak kalau penawaran yang datang berpotensi sebagai distraksi bukan kesempatan yang betul-betul ‘wah’.
  2. Membesarkan tim yang sudah ada sekaligus meningkatkan efisiensinya agar semakin liat bergerak.

Sebab sudah semakin terbukti, multitasking is nothing. Sebab dengan begitu, pada akhirnya semua jadi sebatas agar tak lewat tenggat. Padahal, sudah saatnya nge-treat tiap produk bisa jadi masterpiece.

#DialogDiniHari

Menuju tiga…

Setiap ibu (mungkin) akan sedikit sentimentil pada hari ulang tahun anaknya. Oh, atau itu cuma saya saja? 😀

Meski postingan ini dipublikasikan pada hari kedua setelah tanggal lahir anakku, draft sudah siap H-1. Di antara kejaran tenggat sebuah buku yang (harus) launching minggu depan, juga keinginan menulis tentang Pramoedya Ananta Toer dalam rangka #90TahunPram untuk IDWriters.

Sayang, saya terlalu ciut menulis Pram. Haha. Jadilah posting-an ini yang terpublikasikan.

Jadi, secara kebetulan, anakku lahir di hari yang sama dengan Pram. Mudah-mudahan, kelak, bisa jadi orang baik dan pintar sebesar Pram.

Tapi mengenai nama, tak kebetulan. Aku dan bapaknya, menamai Tirto Adhi. Jauh-jauh hari. Mungkin saat bulan kedua kehamilan. Atau mungkin bulan pertama. Yang jelas, ide itu sudah jauh lebih lama mengendap di kepala bapaknya. Aku tahu, sebab ada rajah wajah TAS di punggung kanannya.

Jadi, aku setuju saja.

Meski tak berharap Tirto-ku akan jadi wartawan juga, seperti TAS. Toh kupikir, profesi untuknya juga belum ada saat ini. Ia bebas menjadi apa saja, menuruti kata hatinya.
Aku dan bapaknya juga sudah sepakat akan mencari surga kami sendiri.

Biar ia salah sesekali, berproses sesuai pilihannya sendiri.
Dan mungkin, kami akan kerap beradu argumentasi.

Itu nanti. Kalau dia sudah besar.

Kini, anak itu menjelang tiga. Dengan kosa kata yang luar biasa berkat tontonan di youtube. Dan memiliki kemakluman semacam, “Ibu kerja di laptop deh. Dedek bobok dekat ibu ya.”

Ia terbiasa dengan bunyi papan keyboard pada dini hari. Kadang-kadang ngelilir lalu melempar senyum. Dan tidur kembali.

Lain waktu, ia berkeliling rak supermarket dan menunjuk mainan. Tanpa sadar, pernah kuucap, “Mahal yang itu sih.”

Lalu katanya, “Oh, yang enggak mahal yang mana? Ibu abis duit? Ambil dong di ATM Mandiri.”

Nyehehehehe.

Suatu waktu, kepada mbah utinya dia bisa bercerita, tentang ibunya yang sibuk menulis di depan laptop. Ia bilang, “Dedek juga mau kerja. Pake laptop.”

Dan di malam hari, saat ku’paksa’ ia tidur cepat sebelum jam sembilan malam agar aku bisa nyaman terbagung dini hari, matanya akan membundar saat mendengarkan cerita kelinci dan kura-kura. Atau cerita ketika ia lahir di air. Atau cerita ketika cincin dan tosky masih sering lari-lari di lapangan bola dekat rumah di pesanggrahan. Atau cerita ketika ia naik kereta ke Bogor bersama si bapak. Atau cerita si marice yang hobi mogok.

Dia juga berdoa. “Bismillah. Dedek minta crv hitam ya. Dan rumah crv-nya.”
Seingatku, berminggu-minggu ia begitu.

Tapi malam menjelang tiga, doanya menjadi begini “Bismillah. Mana rumah crv dedek? Kok belum ada.”

Eaaaaa……

Sekrup Sains Dunia #arsip

Catatan: Mumpung nemu kerjaan lama, diarsipkan saja. 
Wawancara dilakukan via email, dan diterbitkan pada 2010. 
Jadi tentu saja, sudah banyak perkembangan dan kebaruan dari si empunya cerita. 

Taruna Ikrar,
Sekrup Sains Dunia

Di Indonesia, karier dokter Taruna Ikrar cuma sampai pegawai tidak tetap (PTT).
Di Amerika Serikat, ia tergabung dalam tim ilmuwan elite sebagai investigator otak manusia.

Jauh-jauh dari Indonesia ke Amerika Serikat, Taruna Ikrar menorehkan jejak penting pada dunia kedokteran internasional. Dialah pemegang paten metode pemetaan otak manusia-dipatenkan 2009.

Temuannya menjadi penting dalam perkembangan ilmu saraf modern. Bagaimanapun, misteri rangkaian rahasia dari organisasi dan fungsi otak harus dipecahkan. Metode temuan Taruna berhasil menggambarkan dinamika pada otak manusia dengan rinci.

“Sekarang kami sedang fokus pada investigasi fungsi otak manusia, serta hubungannya dengan sirkuit otak dan berbagai jenis penyakit otak. Misalnya alzhaimer, parkinson, paralyses (kelumpuhan), serta
ketergantungan narkotika dan psikotropika,” tulis Taruna melalui surat elektronik, pekan lalu.

Setelah fungsional sejumlah penyakit itudiketahui, lanjut Taruna, barulah teknik pengobatan terbaru seperti terapi gen dan terapi sel punca bisa diterapkan. Untuk memahami tema besar itu, seorang investigator otak manusia dituntut memiliki keahlian yang sangat spesifik. Antara lain memahami
pencitraan pemetaan otak, laser photostimulalion, sampai aspek genetika molekuler. Makanya, tidak banyak ahli di dunia yang menguasai teknik tersebut. Taruna mengaku beruntung mampu melakukannya dengan baik.

Lentingan

Taruna datang Ice AS pada 2008. Saat itu, ia baru saja kelar pendidikan di Jepang. Taruna beroleh jalur khusus, diundang pemerintah AS untuk bergabung sebagai peneliti pasca-doktoral di Departemen
Inter-disipliner Neurosains di Universitas California, Irvine, AS.

Maklum, Taruna memiliki apa yang mereka butuhkan saat itu. Dialah pakar dalam penggunaan patch damp, paham rekayasa genetika serta memiliki keahlian klinis. Selama lima tahun di Jepang, Taruna mendapat banyak pengalaman. Dia mendalami pemasangan alat pacu jantung dan pengobatan berbagai penyakit jantung. Dia juga mendalami teknik whole cell recording, semacam teknik untuk mengetahui dinamika di dalam sel tubuh.

Sebagai kardiolog. Taruna sempat dikirim Univer-sitas Niigata ke Universitas Bologna di Italia, salah satu universitas tertua di dunia. Di sana Taruna belajar memahami lebih jauh tentang arhythmia
pada penyakit jantung. Lantaran itu, kehadiran Taruna di AS melengkapi kekuatan tim peneliti
di Universitas California. Dia menjadi kardiolog pertama yang bergabung ke pusat penelitian otak terbesar di dunia itu-skala universitas.

Tanggung jawab Taruna bertambah sejak November 2009. Dia dipromosikan menjadi Wakil Direktur Progam Paska-doktoral di Universitas California. Taruna juga dipilih mengepalai proyek penelitian
pemetaan sirkuit otak dan genotipe di laboratorium itu.

Posyandu

Sebelum berkiprah di pentas dunia. Taruna lebih dulu berbakti di Puskesmas Jatinegara, Jakarta, sejak 2000. Dokter asal Makassar ini bekerja selama tiga tahun di sana. Dia menjabat kepala puskesmas meski saat itu statusnya ialah pegawai tidak tetap (PTT).

Continue reading “Sekrup Sains Dunia #arsip”