Ribut ribut transportasi online

Kemarin, anak magang tak bisa datang. Ia berangkat dari Cibubur, menuju kawasan Cassablanca, lalu terjebak saat masuk tol dalam kota, kemudian memilih balik pulang. Dari pagi, banyak orang sudah wanti-wanti, sebaiknya tak usah meeting jauh-jauh sebab para supir taksi bakal demo besar-besaran. Tapi ibu komisaris sukses loh, mendatangi pasar dan mal dengan teman-temannya. Mengandalkan Waze, ia sukses melipir menjauhi jalan-jalan yang dikabarkan sulit ditembus.

Lalu menjelang sore, di sejumlah titik ibu kota, supir-supir taksi yang demo saling lempar batu dengan para pengemudi ojek online. Lantas, seorang CEO menampilkan dirinya, mengingatkan agar tak rusuh, agar para mitra driver tak menodai keberpihakan mereka kepada masyarakat selama ini (tak takut antar penumpang saat teror dan tak gentar menembus banjir). CEO lainnya, duduk berbincang di stasiun televisi, meminta maaf atas yang terjadi hari itu.

Jadi, ini siapa vs siapa?

Melihat para driver lempar batu, sementara mereka juga sama-sama cari makan, siapa yang sebetulnya sedang diadu? Pemilik taksi biru itu orang kaya di Indonesia, mungkin masuk 30 besar. Dan yang mereka tawarkan hari ini ialah sebatas layanan gratis naik taksi.  Apa sih gimmick ini? Saya merasa ini aneh dan murahan. Gratis naik taksi, untuk konsumen. Apa di kemudian hari bisa memperbaiki nasib para driver yang setiap hari ditekan setoran minimum?

Image:hngn.com
Image:hngn.com

Kemarin, tulisan Profesor Rhenald Khasali tentang anak-anak muda yang mengeksplorasi Sharing Economy  yang dimuat di bisniskeuangan.kompas.id lantas menjadi viral. Katanya: model bisnis sudah berubah, dari owning economy menjadi sharing economy. Makanya apa yang ditawarkan aplikasi online itu (grab, uber, gojek) jadi jauh lebih murah. Segera lah beradaptasi jika tak mau kukut.

Setuju.
Tapi, dengan segala hormat, saya kira itu semua jadi terasa terlalu naif.  Kenapa?

Yang pertama, perlu ditanyakan lagi: apa iya grab, uber, gojek itu implementasi dari sharing economy?

Apa yang terjadi kemarin  bukan sekadar  kemenangan inovasi dan teknologi yang mengubah model bisnis. Meski saya sempat juga berpikir: ribet amat sih, kenapa ga bikin aplikasi juga yang oke. Produk dilawan dengan produk.

Tapi ketika mencoba berpikir lebih jauh, ya  enggak gitu juga sih.
Apakah jika ada aplikasi online tersebut maka argo taksi akan menjadi lebih murah? Mungkin enggak juga. Kan modal mereka udah tinggi. Gampangnya gini: mobil buat taksi dihitung sebagai modal kan? Sementara perusahaan aplikasi online seperti grab tidak perlu modal mobil. Kemudian, perusahaan taksi begitu ada izin sendiri. Itu bayar. Sementara untuk jadi pengemudi grab ga perlu izin apa-apa, apalagi bayar. Jadi, modalnya aja udah ga sama. Makanya tarif dasarnya juga ga mungkin sama.

Saat ini argo taksi pertama saja sudah di atas tarif grab car yang Rp4.500/km. Perusahaan aplikasi menawarkan kerjasama kepada pemilik mobil, dengan tarif konsumen yang disepakati dan potongan 20%  untuk fee perusahaan. Tinggal tergantung mitranya, mau apa enggak mobilnya digrab-kan?

Dari kacamata mitra, ya lumayan lah dapat segitu daripada mobil cuma diam dan jadi bayar mahal buat parkir. Saya kenal pemilik mobil yang meng-grab-kan mobilnya saat ia bekerja bertemu klien dan supir menunggu jam jemput anak sekolah. Jadi daripada supir cuma stand by mulai jam 9 sampai jam 15.00, kan lumayan di grab-kan.

Dan betul lumayan. Nyupir tiga hari, terima nyaris satu juta, on hand.  Tapi kalau mau jujur berhitung, masukkan komponen bensin dan modal mobil, apakah hitungannya masih menarik untuk jangka pendek? Plus, saat ini, si pemilik mobil juga ga perlu kasi seragam ke supirnya, ga perlu urus izin apa-apa, kecuali mungkin urus SIM dan surat keterangan berkelakuan baik pada saat mendaftar ke perusahaan aplikasi.

Jadi, kalau perusahaan taksi bikin aplikasi sejenis yang juga canggih, bisa saja harga akan tetap diatas tarif yang ditawarkan grab atau uber. Dan kalau harganya ga bersaing, ya ga mungkin juga narik pelanggan lebih banyak.

Maka saya setuju dengan artikel dari Yanuar Rizky. Menurut saya, tulisannya lebih jelas dan logis mengurai persoalan dasar ribut-ribut kemarin. Masalahnya bukan di aplikasi, atau inovasi, tapi di tarif, yang ujung-ujungnya: regulasi.  Yanuar Rizky juga menawarkan solusi: serahkan aja kepada si pengusaha aplikasi, mau main di ranah transportasi atau aplikasi.

Dan dari semua keributan kemarin, ada catatan penting yang digarisbawahi Yanuar. Yaitu, perubahan yang merusak hanya akan menghasilkan pertumbuhan yang juga merusak. 

Sekonyong-konyong, saya ingat sebuah film. The Big Short.