Entrepreneur itu HARUS terus bergerak

Entrepreneur itu mindset, kata Sandiaga Uno dalam sebuah acara yang digelar IPMI yang saya hadiri bersama seorang teman. Jadi seorang pegawai pun sah-sah saja dan justru lebih baik jika punya mindset entrepreneur. Seperti apa? Ya yang bergerak terus untuk menjajal solusi dari semua peluang -yang umumnya timbul saat krisis- atau malah menawarkan solusi baru.

Beberapa hari sebelumnya, pada perayaan Hari Kartini 21 April lalu, ada gelaran StartupLokal menyajikan tema Kartini di Era Digital. Yang bicara, Shinta Dhanuwardoyo, salah satu perintis tech-startup di Indonesia.  Apa yang ia bicarakan, bisa dibaca di sini: Perempuan Indonesia di Ranah Bisnis Digital

Anyway, Shinta termasuk orang lama di jagat tech-startup Indonesia. Tahun 1996, ia sudah mendirikan Bubu.com, sebuah perusahaan yang khusus menyediakan layanan pembuatan website. Shinta cerita susahnya cari klien saat itu. Pasarya belum terbentuk, lha wong internet juga baru-baru ada. Maka ia harus membuatkan sejumlah website gratis untuk beberapa perusahaan sebagai bagian dari edukasi. Kepada setiap calon klien yang ia jumpai, ia harus menjelaskan terlebih dahulu apa itu internet dan apa itu website.

Yang sudah ada pasarnya saja, belum tentu bisnis bisa jalan. Apalagi yang belum ada pasarnya?Sebab kita tahu, bisnis itu dimulai bukan pada saat kita berhasil bikin produk, tapi saat ada klien yang beli produk kita. Dan pasar, harus terus diuji.

Bagaimana cara mengujinya?

Kalau bidang jasa, langsung aja uji pasar dengan menawarkan jasa yang kita bisa. Kalau ada peminatnya, bisa lah dibilang ada peluang bisnis. Baru pikirkan bagaimana menduplikasi. Cara Shinta patut dicoba jika jasa kita termasuk masih jarang. Sebab portofolio itu penting, kan?

Dari situ lah, peluang bisa terbuka. Kalau sudah ada contoh, dan sudah teruji.  Susah di awal, seperti minim modal kerja, itu biasa. Tapi jangan kecil hati dulu.

Intinya, seperti kata Sandiaga dan Shinta yang saya dengar minggu ini, teruslah bergerak. Sekecil apapun langkah yang dibuat, atau sekecil apapun nilai nominal yang didapat, kita sudah lebih jauh dari pencapaian kemarin, atau pemasukan kita sudah bertambah dibandingkan kemarin.

Selamat bergerak.

Sharing Office: Ruang kerja untuk bisnis, saat kondisi di rumah tidak lagi produktif

Bekerja di rumah, tak selalu kondusif.

Teman yang bekerja freelance sebagai desainer grafis, dan mengerjakan layout-an, pernah bercerita. Jika ia bekerja di rumah, ibunya akan selalu tergoda meminta ia melakukan ini dan itu. Tak mungkin menolak, ia pasti mengerjakan. Tapi begitu kelar kerjaan dari sang ibu, konsentrasinya sudah keburu buyar. Ia butuh waktu tak sebentar untuk kembali “tune in” dengan ritme kerjanya.

Seorang teman lain, yang memutuskan bekerja sebagai penerjemah lepasan, juga mengalami distraksi serupa saat di rumah. Ia kesulitan membagi garis tegas kapan bekerja sebagai penerjemah, kapan mengerjakan pekerjaan domestik. Padahal ia cuma punya waktu sekitar 3 jam, dari jam 9-12 siang sebelum anak pulang sekolah. “Lingkungan itu penting, kalo buat gue. Ya, kali mindset gue belum ajeg.”

Lalu apa yang mereka lakukan?

Ada yang memilih bekerja di kafe, ada yang memilih nge-kost di sebuah kamar, hanya untuk bekerja. Pilihan lain, nebeng di ruang kerja teman atau sekalian sewa co-working space yang makin menjamur saat ini.

“Sebab gue butuh mental visual bahwa gue pergi ke suatu tempat untuk bekerja. Jadi, agak sulit ya kerja di rumah,” ujarnya lagi.

Kalau kebetulan kamu seperti teman-teman saya, yang butuh ruang kerja ajeg tapi belum bisa terikat kontrak lama, mungkin bisa cari teman yang punya kantor dan siapa tahu mereka kelebihan ruangan. Seperti workshop Arkea di Palbatu, misalnya.

 

Saat ini Arkea punya dua kantor. Yang pertama, memang di Palbatu, di seberang Mal Kota Kassablanka. Semua aktivitas dilakukan di situ. Sekitar bulan Maret 2016, kami diberi ruang kantor di kawasan SCBD Sudirman, tepatnya di Office 8. Jadilah aktivitas terbagi. Untuk urusan administrasi, marketing dan sejumlah workshop dilakukan di Office 8. Workshop Palbatu tetap ada, khusus untuk konten dan produksi. Namun, masih tersisa dua ruang yang kini bisa ditempati oleh para pekerja lepasan, atau solopreneur, atau mungkin malah start up tahap awal.

13002355_10206699224819489_9128054300531560001_o

Fasilitas:
1. Meja dan kursi, ruangan ukuran 3×3 meter cukup nyaman sampai 4 orang.
2. AC
3. Bisa ditambah rak buku
4. WIFI
5. Sharing pantry (air minum, teh kopi, etc), perpustakaan mini dan parkir motor.
6. Waktu operasional 08.00-19.00 WIB

Rate: Rp2.000.000/ bulan.
Minimal sewa 3 bulan, deposit 1 bulan di muka.

Jika tertarik, hubungi WhatsApp 08176630230 atau email ke story@arkea.id
Silahkan ya.

Besok kita akan bertemu di reuni 20 tahun

Besok kita akan bertemu setelah 20 tahun berlalu, dan aku masih belum tahu apakah aku bisa menyapamu biasa-biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Tiket sudah di tangan. Urusan dengan si Bos sudah aku bereskan semalam. Aku bawa suami, buat jaga-jaga kalau aku perlu gandengan saat lihat kamu yang sekarang.

Sudah jam 12 malam dan aku tak bisa tidur. Mungkin terlalu gembira atas apa yang akan terjadi besok. Jangan salah sangka, selain kamu, aku ingin bertemu teman-teman lama zaman SMA. Saat pilihan-pilihan hidup sederhana saja. Pilihan baju ya seragam putih abu-abu, atau seragam olahraga. Bahkan pilihan makanan di kantin yang tak banyak itu sudah membuat aku begitu bahagia.

Jam 1 dini hari, dan bunyi notifikasi messenger di ponsel mulai terdengar jarang. Mungkin sudah pada lelap. Terakhir ku periksa satu jam lalu, tak ada satu pun dari kamu. Mungkin sekarang ada, entahlah. Aku tak lagi berselera melihat karena di dalam kepalaku sendiri begitu riuh. Bisa jadi karena video kompilasi foto yang sudah kulihat berulang-ulang.

Seharusnya ingatanku tentang kamu berhenti 20 tahun lalu saat kita tidak lagi bersekolah di tempat yang sama. Kita berjarak 1000an kilometer dan aku menikmati hidupku selanjutnya, dunia kampus yang penuh warna perjalanan menuju dewasa. Ku kira kamu pun begitu.

Tapi foto-foto lawas yang tak banyak itu ternyata cukup cepat menarikku kembali lagi ke 20 tahun silam. Mengingat perasaan hangat jika melihatmu memasuki gerbang sekolah,  tanpa terburu-buru, seiring bel sekolah tanda masuk.

Tanpa terasa, 20 tahun sudah terlewati, oh life is so damn short! Hidupku saat ini, tidak sesempurna bayanganku dulu, tapi semua baik-baik saja.  Dan ternyata betul, ya. Kerap kali kita menyesal atas hal-hal yang tidak kita lakukan ketimbang pencapaian yang gagal.

Suamiku bangun. Ke dapur, mengambil minum. Ia sering kali begitu. Berarti sudah nyaris jam dua. Dan aku pura-pura terpejam.

Her.

nature-fashion-person-woman-600

 

Besok aku akan melihatnya lagi setelah 20 tahun tak pernah bersua. Baru setahun terakhir, itu pun bisa dihitung jari, aku menyapanya lagi. Lewat media sosial. Lalu lewat messenger, meski tak pernah sungguh-sungguh mengobrol. Kebingunganku menyapanya tertolong dengan tombol like. Atau emoticon. Atau perbincangan seputar sekarang di mana, kerja di mana, anakmu berapa. Itu bukan ngobrol, seperti ‘ngobrol’ yang kupahami. Tapi lama tak bersua tak lantas bisa membuatku bercerita panjang lebar tentang hidup dan pilihan-pilihan yang kujalani. Semakin lama tak bertemu, semakin sulit menemukan kata pertama selain “Sehat?”.

Emoticon-emoticon yang lucu itu menyelamatkan aku yang tak punya kata-kata.

Dari foto-fotonya, ku lihat hidupnya menyenangkan. Seperti aku, ia juga sudah berkeluarga meski ia tak banyak memajang foto bersama suami dan anak-anaknya. Teman bersama kami hanya teman SMA dulu, dan dua orang teman (satu teman kuliah, satu teman di kantor lama) yang kebetulan juga mengenalnya karena urusan pekerjaan. Pernah sesekali aku mengajaknya bicara tentang dua teman itu.  Tapi tak pernah bisa membawaku mengajaknya bicara lebih jauh. Mungkin memang ia tak pernah tertarik bicara lagi tentang hal-hal baru. Mungkin ingatannya selesai 20 tahun lalu.

Dan besok, aku akan melihatnya lagi.  Aku tahu ia akan datang. Meski aku tak pernah bertanya langsung, namun di grup whatsapp ia bilang, ia usahakan datang. Detik itu juga, aku tahu, ia belum berubah. Ia tak pernah mengecewakan. Dulu saat kerja kelompok pun, selalu ia yang menyelamatkan muka. Ia, selalu bisa diandalkan. Jadi aku tau, atas nama apapun, ia pasti datang. Lantas apa yang harus aku katakan saat aku bertemu lagi?

Rindu, sudah pasti. Tapi perlukah ia tahu?

Aku menyukai hidupku saat ini. Dengan anak dan istri yang aku cintai. Tapi aku pun suka punya kenangan dalam hati. Cinta itu terasa manis kalau tentang dia. Mungkin karena cinta ini baru berupa ilusi. Dan ilusi itu, akan kutemui esok hari.

Him.

bench-man-person-night-600

 

Besok aku akan menemuinya. Sudah terlambat 20 tahun untuk bilang sepotong perasaan yang kini menggoda lagi lewat byte demi byte foto lawas yang didigitalkan. Paling mentok, aku cuma akan bilang, apa kabar. Mungkin dia lupa, aku yang menemaninya saat dia mengawasi temanku yang datang dengan langkah tak tergesa itu,  tiap bel sekolah berdentang. Tapi tentu saja, ia pasti lupa dan tidak ada gunanya mengingatkan kembali.

Tanpa kuingatkan pun, aku yakin ia akan mendatangiku, menjabat tangan dengan erat, dan kita akan akrab berbincang.  Lebih akrab, mungkin, ketimbang waktu itu. Kali ini, mungkin dia benar-benar akan memberitahu rahasianya dulu, sepotong perasaan untuk temanku.

Her best friend.

pexels-photo-600

 

Besok aku akan bertanya, apa kabarmu sekarang? Aku akan pura-pura lupa, bahwa aku sudah bisa meringkas hidupnya, setelah lulus SMA, lalu kuliah, bekerja dan berkeluarga. Bahkan aku tau apa hadiah untuk putra kecilnya. Tentu saja lewat media sosial, foto-foto cerah yang diunggah istrinya-yang aku tak tahu siapa-. Tapi aku hanya akan bertanya apa kabar, dan mungkin akan tersenyum sedikit lalu melihatnya dari jauh, di antara gelak tawa teman-temanku lainnya. Itu akan lebih aman. dan mungkin akan membuatnya lebih nyaman.

His secret admirer.

man-strip-600