#NyalaUntukYuyun

candle-YS

Berita YY ada di mana mana, dua pekan terakhir. Solidaritas untuknya dibuat di depan istana, Rabu (4/5). Apa yang bisa saya ceritakan di sini selain kemarahan yang entah bagaimana mesti saya sampaikan. Marah bukan lagi kepada 14 pelaku yang luar biasa tak terbayangkan oleh saya. Mungkin marah kepada betapa belum beresnya cara kita berpikir tentang pemerkosaan.

Sering kali, korban yang disalahkan. Sudah diperkosa, tewas, dan masih disalahkan. “Salahnya sendiri kok jalan sendirian di hutan.”

Gilak ya.

Kalaupun nanti 14 orang itu akhirnya dihukum mati, atau RUU Kebiri itu kemudian disahkan jadi UU, apa itu bisa mencegah kasus pemerkosaan?

Belum tentu juga.

Kenapa ada pemerkosaan?

Kenapa banyak fotografer yang memotret model telanjang dan tidak memperkosa?

Kenapa ada kasus pemerkosaan pada nenek-nenek, pada ibu penjual sayur yang berpakaian lengkap?

Pemerkosaan terjadi bukan karena perempuan jalan sendirian. Bukan karena perempuan buka-bukaan. YY itu bocah SMP pakai baju seragam sekolah.

Pemerkosaan terjadi karena pikiran pelaku yang emang enggak bener, karena merasa berkuasa atas perempuan. Karena buat mereka, perempuan ini obyek saja. Ini kan semprul.

Aksi Solidaritas YS Rabu 4 Mei 2016. Foto: www.konde.co
Aksi Solidaritas YS Rabu 4 Mei 2016. Foto: www.konde.co

Dalam perkembangannya, disebut dalam sejumlah berita, bahwa para pelaku biasa dicekoki vcd porno. Jadi mereka adiksi dan menjadikan YY sebagai pelampiasan.

Disebut juga dalam beberapa berita yang banyak bersliweran, mereka mabuk tuak, yang memang jadi kebiasaan warga miskin di Bengkulu. Sudah miskin, mabuk pula. Ini di Bengkulu, yang banyak perusahaan kelapa sawit, yang mungkin setoran pajaknya juga cukup untuk dibuat memakmurkan kota. Terasa seperti Timika, banyak anak muda lokal yang ditemui mabuk keleleran tiap pagi, setidaknya sampai sekitar 2008.

Dan pada sebuah acara talkshow di televisi, si presenter panjang berbicara sebelum bertanya. Bahkan sempat ia cerita, mungkin dengan maksud berempati, “Saya juga punya anak perempuan, seperti apa rasanya jika anak saya jadi korban.”

Lalu narasumber yang memang biasa ketus dan nyinyir itu nyeletuk, “Seperti apa jika anak Anda pelakunya?”

Ya, seperti apa?

Kita berjuang agar tak ada lagi pelaku kekerasan, bukan “agar tak ada lagi korban.”

Sebab jika tak ada pelaku, maka tak akan ada korban.
Tapi meniadakan korban bisa saja dengan cara mengatur cara perempuan berpakaian, mengurungnya atau melarang bepergian ke mana-mana. Dan jika begitu, tetap saja, sejumlah fakta malah menyebutkan pemerkosaan terjadi pada mereka yang berpakaian lengkap, dan beberapa terjadi di rumah/lingkungan domestik.

Begitu, bukan?

Toko Budi dan Dongeng Kopi, tentang 6 jam yang istimewa di Yogya.

Yogya selalu bisa membuat saya suka. Mungkin karena tak pernah menetap terlalu lama, mungkin karena memang Yogya punya banyak pesona. Entah. Tapi saya suka atmosfernya. Makanan. Tempat-tempat menarik, dan tentu saja buku-buku Yogya. Ehm, maksud saya ialah Yogya tidak dalam peak season-nya ya.

Akhir Maret lalu saya ke Jogja. Singkat saja. Pergi pagi, pulang maghrib. Untungnya yang ngajak meeting tahu tempat menyenangkan hati. Ia mengajak kami ke Toko Budi, lalu ngopi dan berbincang di Dongeng Kopi. Letaknya di kawasan Gorongan, Condongcatur. Ada di sana juga, Indie Book Corner.

Toko Budi ialah toko buku, kecil saja. Seperti kamar kos-an yang umum ditemui di kota-kota mahasiswa. Bangunannya menempel dengan Dongeng Kopi dan Indie Book Corner. Koleksi buku di Toko Budi tidak banyak, tapi judul-judulnya menggoda untuk diborong. Kalau kalian orang Jakarta yang doyan ke Pasar Santa, tampilan Toko Budi ini mirip-mirip POST lah, semangatnya, juga beberapa koleksinya. Seperti buku-buku penerbit Oak dan Marjin Kiri. Di toko buku yang kecil ini, umumnya kita bisa bahagia. Bisa ngobrol tentang buku dengan yang kebetulan sedang bertugas jaga.

TokoBudi

TokoBukuBudi

Saya sempat beli Pangeran Mandasia si Pencuri Daging Sapi. Karya Yusi Avianto Pareanom ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca, terutama kalau kamu udah mulai kebanyakan baca buku-buku Tere Liye dan Andrea Hirata. Kenapa? Haha. Beli aja. Saya belum sempat nulis review-nya. Sudah banyak kok yang nulis, googling aja. Percayalah, dongeng kontemporer ini sangat layak dibeli. Halaman demi halamannya begitu membetot perhatian.

Anyway, ada Olie di Toko Budi saat kami tiba. Ia berbaik hati memberi diskon 10% untuk buku-buku yang kami beli. Yang mengundang meeting, juga baik. Dia membawakan sekantong berisi buku-buku dan mentraktir kopi. Asyik!

DongengKopi

CoffeeKilltheTea

Dan kopi di Dongeng Kopi itu bukan bualan enaknya. Apalagi kalau kamu (seperti saya) biasa minum kopi cap ratu bermahkota bintang. Duh, lewat lah. Saya sempat coba dua rasa. Coffee kill the tea yang hot (iya, namanya emang gitu) dan something cold apple coffee brew atau apalah gitu. Dua-duanya enak. Tapi mungkin karena siang dan Yogya agak gerah, saya lebih suka kopi dingin rasa apel. Asli, enak banget.

Ada beberapa pengunjung siang itu, yang kemudian mengerubungi Eka Pocer. Ternyata wawancara. Mungkin anak-anak kampus. Ada Mas Adhe, penulis buku Declare yang saya suka itu, sedang menyelesaikan tulisannya yang kemudian dipublikasikan di  blog Kampung Buku Jogja.

DongengKopi-Titik1

 

Dan ya, meeting kami lancar siang itu. Mudah-mudahan kelancarannya kelak bisa mendatangkan banyak alasan untuk saya selalu pergi ke Yogya. Terima kasih buat yang ngajak meeting. Jadi saya bisa tau tempat-tempat asyik seperti Toko Budi dan Dongeng Kopi. Hari itu berakhir di rumah ibu mertua,  tempat saya menjemput 10 kotak bakpia lalu kembali ke Jakarta.