[Arsip] Nyoman Paramitha: Perempuan Penguasa Hanggar

Haram bagi Nyoman Paramitha untuk meninggalkan telepon genggam. Meski bukan tentara, Manager Capacity Planning and Performance Analysis di PT Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia ini harus siap setiap saat. Apalagi jika ada masalah dengan pesawat. Misalnya, delay.

“Satu menit delay urusannya bisa panjang,” kata  perempuan yang akrab disapa Mitha itu di kantornya di Cengkareng, Tangerang, Selasa (20/4/2010).

Mitha sehari-hari bertanggung jawab untuk memastikan kebutuhan perawatan pesawat. Mulai dari mekanik sampai alat yang dibutuhkan. Umpamanya ketika satu pesawat terlambat, Mitha dan timnya sudah bersiap. Termasuk jika pesawat harus ditarik masuk ke hanggar dan digantikan dengan pesawat cadangan.

Untuk itu, Mitha menghitung kebutuhan, mengombinasikannya dengan kalkulasi waktu dan dana agar optimal. “Banyak yang bisa dioptimalkan. Mulai dari cara membentuk seseorang menjadi mekanik sampai mengoptimalkan manajemen rantai suplai. Misalnya, sekarang kita tidak punyainventory material pesawat, tapi cukup langganan dengan provider saja. Lagi pula sekarang pesawat banyak variasinya sehingga tidak efisien jika punya penyimpanan sendiri,” kata Mitha.

Apalagi GMF bukan hanya melayani Garuda Indonesia, melainkan juga sejumlah penerbangan lain. Di antaranya Air China sampai Helenic Imperial Airlines asal Yunani. “Mereka itu langsung datang kemari karena membutuhkan servis,” kata Mitha.

Jadi, selain menyediakan perawatan rutin harian, Mitha mesti berhitung dengan kebutuhan pengguna jasa GMF lain yang membutuhkan perawatan khusus. Misalnya, perawatan khusus yang dilakukan setelah pesawat beroperasi selama 1-2 tahun, atau bahkan delapan tahun.

Dia lantas memberi ilustrasi. Di Bandara Soekarno-Hatta dalam sehari pesawat yang ‘masuk kandang’ sebelum terbang kembali esok harinya bisa lebih dari 30 buah. Saat pesawat menginap itulah, pemeriksaan rutin dilakukan. “Biasanya mulai jam empat sore sudah pada pulang. Puncaknya sekitar jam delapan sampai jam sembilan malam,” jelas Mitha.

Untuk itu, kebutuhan teknisi harus dihitung cermat, menyesuaikan jadwal masuk pesawat ke bandara. Termasuk menghitung tim yang menangani pemeriksaan pesawat pada saat transit.

Servis prima

Kata Mitha, pemeriksaan saat pesawat transit tergolong ringan. Mereka memeriksa apakah pesawat layak untuk melanjutkan penerbangan berikutnya. “Bisa saja ada yang perlu perbaikan saat itu. Bisa ringan atau berat. Misalnya karena pendaratan tidak mulus. Nah, saat itu tim teknis yang memutuskan apa pesawat perlu ditarik ke hanggar. Mereka berkomunikasi dengan pihak penerbangan dan bandara,” jelas Mitha.

Persoalan muncul ketika ada temuan masalah teknis di pesawat yang membutuhkan seorang ahli, sedangkan tidak semua expert bersiap di tempat. “Bisa saja sedang dinas, misalnya. Nah, kalau sudah begitu, ya siap dikomplain dan mesti dihadapi. Kita tanya masalahnya apa, lalu cari solusi. Hal-hal seperti itulah,” terang Mitha.

Lantas ia fasih menjelaskan detail teknis kebutuhan pesawat. Memang sebelum menduduki posisi saat ini, Mitha lebih dulu menjadi aircraft engineer. Dia hafal betul anatomi pesawat dan tetek bengek kebutuhannya. “Dua tahun pertama bekerja, saya kan muter ke semua bagian. Benar-benar turun ke lapangan,” kenang Mitha yang bergabung dengan GMF Aero Asia sejak 1993.

Sebetulnya, agak sulit membayangkan Mitha memelototi dan mengulik material pesawat. Sosoknya mungil, cara bicaranya juga halus sehingga menciptakan label perempuan lembut yang jauh dari urusan mesin pesawat.

Pernah suatu saat, Mitha memimpin sebuah proyek pengembalian pesawat sewaan. Dia bersama timnya harus memastikan agar kondisi pesawat yang baru disewa dikembalikan sesuai dengan kontrak awal.

Dalam industri penerbangan, tidak semua pesawat dimiliki sendiri oleh maskapai. Proses pembelian pesawat membutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan bisa sampai tujuh tahun. Selama menunggu pesawat yang dipesan selesai dibuat, biasanya maskapai menyewa. Saat pesawat itu tiba, ada yang dirombak mengikuti standar maskapai. “Misalnya kursinya bagaimana. Warnanya apa. Setelah masa sewa selesai, pesawat dikembalikan sama persis ketika ia datang,” kata Mitha.

Mekanik yang datang dan pergi

Salah satu fokus Mitha saat ini ialah menyiapkan sumber daya manusia untuk memenuhi kebutuhan perawatan pesawat semua pelanggan GMF. “Membangun SDM itu enggak mudah. Untuk menjadi teknisi, misalnya, butuh waktu lima tahun,” kata Mitha.

Sementara itu, persaingan dunia penerbangan yang ketat juga membutuhkan teknisi-teknisi andal. Tawaran muncul bukan saja di wilayah domestik, melainkan juga dari luar negeri. “Terutama penerbangan di Timur Tengah, ya. Dan kualitas mekanik jebolan GMF itu luar biasa, dianggap bagus. Sementara itu, kita tidak bisa menahan orang untuk mendapatkan penghidupan lebih baik sesuai dengan harapan mereka,” jelas Mitha.

Menurutnya, dalam dunia penerbangan– terutama yang berkaitan dengan mesin pesawat–tiga tahun terakhir sudah lebih terbuka bagi  perempuan. “Di luar negeri pun begitu. Dulu orang berpikir, maintenancepesawat itu ya urusan lelaki lah. Namun, sekarang tidak begitu. Perempuan sudah bergelut dengan komponen mesin pesawat,” tutur Mitha.

Cabin maintenance, kata Mitha, membutuhkan banyak perempuan karena terkait dengan estetika. Ia tidak menampik anggapan bahwa perempuan bisa diandalkan untuk urusan ketelitian atas detail, sesuatu yang dibutuhkan di bisnis penerbangan. “Selain teliti dan telaten, ya harus paham bagian-bagian pesawat itu. Harus tahu persoalan-persoalan yang ditemui di lapangan biar benar-benar bisa menyatu dengan pekerjaannya,” jelasnya.

Utamanya karena ‘kecelakaan’ merupakan hal yang tidak boleh terjadi. “Di dunia aviasi, kita jaga betul agar tidak ada istilah accident. Kita punya ruangan yang menyimpan dirty record,” kata Mitha sambil menunjuk sebuah ruangan berkaca berisi deretan lemari arsip.

GMF menyimpan dokumentasi setiap pesawat sampai dua tahun terakhir. Termasuk masalah legalitas. “Regulasi penerbangan sangat ketat. Harus dipenuhi semua. Setiap bulan kita juga diaudit, entah dari regulator ataupun customer, apakah yang kita lakukan masih sesuai dengan prosedur,” ujarnya.

Belajar dan adaptasi

Berlatar belakang keilmuan teknik industri, alumnus Institut Teknologi Bandung itu dengan cepat menyesuaikan diri ketika bergabung dengan GMF. “Dulu sih berpikirnya sederhana saja. Saya lulus tahun 1993, masih idealis. Bangga bergabung aircraft maintenance sebesar ini di Indonesia,” kata Mitha, lalu tertawa.

Lantas karier Mitha menanjak. Sekarang, dari 200 manajer di perusahaan itu tiga di antaranya ialah perempuan. Mitha menjadi salah satunya. Resep Mitha ternyata sederhana. ”Saya yakin sekali, kalau kita memberi baik, kita akan diterima baik. Itu saja. Tunjukkan prestasi, tidak perlu sikut kanan kiri,” ujar ibu dua anak yang beranjak remaja ini.

Dengan posisinya kini, Mitha mengaku belajar kembali. “Karena tadinya saya di engine, sekarang lebih ngurus pesawatnya. Itu kan sudah berbeda sekali,” terang Mitha yang rutin berlatih yoga dan senam aerobik ini.

Posisi yang ia duduki sekarang, jelas Mitha, menawarkan tantangan lebih menarik karena pekerjaannya dinamis. Bagaimanapun, urusan perawatan pesawat tidak mengenal istilah libur. Selama ada pesawat terbang, pelayanan perawatan tidak bisa tutup. Mitha pun biasa menerima telepon urusan pekerjaan di jam-jam istirahat. “Karena dunia aviasi bicara masalah pelayanan dan keselamatan, makanya harus standby,” ujarnya penuh penekanan.

Sumber: Media Indonesia, Jumat, 23 April 2010 | Sica Harum