Cihuy, SIUP beres juga- pengalaman mengurus SIUP di Jakarta (part 2)

Satu hari saja buat urus SIUP Kecil di Jakarta. Bukan 3 hari, 5 hari, apalagi dua minggu. Sebab bukan cuma JNE yang punya One Night Service. Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (BTPSP) DKI Jakarta, juga punya One Day Service. ­čśÇ

Aselik, satu hari aja urus SIUP. Datang, verifikasi, jadi. Asalkan, isi data online sehari sebelumnya ya.  Jadi cukup satu hari urus di PTSP Kecamatan.

Kalau kita isi data online sebelum jam 12 hari ini, maka besok pagi bisa ambil SIUP.  Nah, sebelum jalan ke PTSP buat verifikasi, cek aja websitenya. Akan terbaca keterangan apakah proses belum bisa dilanjutkan, atau sudah beres semua. Artinya, kalau disebutkan verifikasi ditolak, maka harus ulang registrasi baru hari ini,  besok ambil SIUP (kalau semua persayaratan udah benar).

Dan itu bikin saya galau hari ini.

Di website, ada keterangan┬á“verifikasi ditolak” gara-gara penulisan Jasa Periklanan yang tak tercantum di akte.┬á

Tapi daripada galau dan ga kepengen mundurin satu hari lagi (buat registrasi ulang), ┬ásaya putuskan tetap datang ┬áke PTSP Kecamatan Kebayoran Baru. Sengaja, pagi-pagi. PTSP buka jam 8. Saya tiba jam 8.45 ┬ádan belum ada antrian. Ketemu lagi dengan Ibu Annisa yang masih muda, ramah, dan manis itu. Yang kemarin menyarankan untuk memasukkan “Periklanan” (KBLI 7310) dalam permohonan SIUP.

“Bu, berkas saya ditolak lagi. Padahal sudah mencantumkan izin sesuai informasi ibu.”
#langsungngadu.

Dia rupanya masih ingat saya. Ia lantas melihat berkas yang saya bawa, meminta akte, dan membawanya ke ruangan di balik meja layanan. “Sebentar, ya. Saya tanyakan.”

Enggak berapa lama, dia datang lagi. “Maaf ya, tim verifikatornya mungkin lupa. Register baru saja. Enggak usah nunggu besok, bisa kami verifikasi langsung hari ini. Sudah bawa dokumen-dokumen lainnya kan?”

#LangsungSumringah

Laptop yang saya bawa pagi itu jadi berguna. Bolt yang dibawa Dani, salah satu orang paling wara-wiri di Arkea, jadi sangat luar biasa manfaatnya.

Sayangnya, enggak ada tukang mie yamin yang yahud hari itu. Tempat mangkalnya di bawah pohon besar yang rindang, di depan kantor pengacara, terlihat kosong. Tak ada juga tukang es buah dan gorengan yang biasa mangkal di seberangnya, di depan kantor Palyja. Belakangan, saya baru tahu. Ada acara pak camat dan banyak tamu undangan yang hadir. Lokasi itu sementara disterilkan dari pedagang kaki lima.

Tanpa penjual yamin pagi itu, Dani langsung menunjukkan┬áspot terbaik ke-2 ┬ábuat laptopan dan online. Ada bangku kayu, di sebelah ruang untuk ATM Bank DKI. ┬áIni ketiga kalinya dia ke kecamatan kebayoran baru (saya baru dua kali), dan dia udah kaya calo aja ya, punya tempat-tempat yang bisa diklaim sendiri. ­čśÇ

Di tempat itu, saya mulai register baru lagi. Mulai input data lagi. Untungnya, sistem online PTSP ini lumayan oke. Berkas-berkas yang sudah pernah kita upload enggak akan hilang. Sudah ada di ‘brankas pribadi’ jadi kita enggak perlu ngulang upload.

Sudah beres, balik lagi ke ruangan layanan PTSP. Kasih tau kode registrasi kepada Ibu Annisa untuk segera dilakukan verifikasi. Katanya, “jangan lupa, semua berkas diletakkan di map warna biru, ya.”

Sembari menunggu verifikasi, kami cari layanan jasa nge-print. Sebab, data-data yang kita input mulai dari nama, sampai nomor NPWP dan data neraca perusahaan itu, akan tercetak sebagai formulir/surat permohonan SIUP. Kalau input data baru, ya mesti print baru. Sedangkan di PTSP kecamatan enggak ada ‘business center’ yang bisa dioptimalkan. ┬áBuat nge-print, kita mesti bergerak ke sekitar Gandaria, enggak jauh dari taman puring itu lah. Sekalian beli map warna biru. Oh ya, kebutuhan map warna biru ini mungkin berbeda di setiap PTSP kecamatan ya. Sebab tidak ada pemberitahuan tentang ini di website pelayanan.jakarta.go.id.

Well, anyway, proses nge-print dan beli map biru lancar-lancar saja. Saat kembali ke layanan PTSP, Ibu Annisa nyamperin. “Duh, maaf ya. Tadi saya sempat panggil, tapi sudah pada pergi.”

Aih, kenapa lagi?

Saya diminta duduk di bangku layanan, dan dia memanggil salah satu tim verifikator, Pak Tommy. Masih muda juga, dan ramah. Dia jelaskan ruang lingkup kelembagaan untuk pengajuan SIUP. Jadi, ada kelembagaan penyalur, distributor, expor dan impor, ada kelembagaan jasa. Kalau kita pilih yang pertama, maka kita bisa masukkan jasa di dalamnya. Sebaliknya, kalau kita pilih kelembagaan jasa saja, ya harus jasa saja enggak bisa ada perdagangan besar, misalnya.

Oh, oke. Baiklah. Jadi, ulang registrasi lagi.

Saya mengulang ritual sebelumnya. Cari spot buat online.  Input data. NIK, NPWP, Akta perusahaan dan perubahan, SK Kumham, SKDP. Kasi lagi kode registrasi untuk verifikasi. Ini berarti sudah empat kali saya registrasi untuk SIUP.

Enggak nunggu lama, finally, Ibu Annisa keluar dari ruangan dalam dengan membawa lembar SIUP. Yay!

Tapi katanya, “Ini belum ditandatangani. Nanti kembali setelah jam 1 ya. Sekalian bawa kelengkapan berkas.”

Okay. Sebab mesti ada yang harus diprint ulang. Serta dua lembar surat pernyataan yang harusnya diberikan tapi malah terbuang saking banyaknya copy-an dokumen. ­čśÇ

Kami kembali jam 14.30 dengan membawa kelengkapan berkas plus pas foto. Yak, SIUP itu akhirnya di tangan juga. Lanjut urus TDP. Mari!

Jadi kesimpulannya, mengurus SIUP bisa sendiri. Biayanya pun gratis. Paling modal buat fotocopy dan 3 materai kalau urus sendiri, atau 4 kalau pakai surat kuasa. Sistemnya udah oke, dan pelayanannya pun relatif cepat. Stafnya ramah plus kreatif kasi solusi yang memudahkan. Yang bisa dipercepat, mereka percepat tanpa biaya apa-apa. Tumbs up lah! Serius!

Dan  kalau harus membayar pun, saya rela kok jika ada layanan business center lengkap dengan layanan konsultasi pengurusan SIUP biar enggak salah-salah masukin data Klasifikasi Baku Lapangan usaha Indonesia (KBLI), misalnya.  Mungkin dua hal itu yang bisa diperbaiki. Tapi overall, udah oke banget.

Plus, mie yamin di dekat Kecamatan Kebayoran Baru itu enak betul. ­čśÇ

 

 

 

 

SIUP oh SIUP- Pengalaman mengurus SIUP di Jakarta (part-1)

SIUP menjadi salah satu syarat badan usaha untuk menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP). Perjalanan menuju PKP lumayan penuh pelajaran. Tidak sulit, tapi membutuhkan kesabaran. Banyak printilannya. Dan buat saya, ini kesempatan berurusan dengan layanan publik.

Tapi, kenapa harus PKP? Kalau dari sisi bisnis, ya biar dapat kerjaan bernilai besar dari sesama PKP. Hehehe. Untuk dikukuhkan sebagai PKP, ini syaratnya:

  1. Harus punya akta perusahaan. Ya iya lah ya. ­čśÇ
  2. Kalau ada perubahan ya lengkapi dengan akta perubahan.
  3. Lalu, dilengkapi dengan SK Pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM.
  4. Mesti punya Surat Keterangan Domisili Perusahaan (dikeluarkan oleh PTSP Kelurahan) plus surat keterangan domisili gedung (kalau kantornya di gedung).
  5. SIUP
  6. TDP
  7. NPWP perusahaan dan salah satu pengurus.
  8. Surat keterangan terdaftar
  9. Foto kantor. Kalau menggunakan virtual office, mesti melampirkan foto rumah salah satu pengurus.
  10. KTP salah satu pengurus perusahaan dengan jabatan tertinggi.

Nah, kalau lihat syarat di atas, paling gampang emang urus NPWP. Jadi kalau sudah beres akta pendirian dan pengesahan, plus direkturnya udah punya NPWP orang pribadi, langsung aja cus bikin NPWP perusahaan. Gratis, pun cepat.

Yang agak terasa jadi PR ialah mengurus SIUP. Kenapa?

Yang pertama, pengajuan SIUP kecil (modal perusahaan disetor 50-500 juta) di Jakarta tidak simultan dengan TDP (tanda daftar perusahaan). Jadi, harus urus SIUP dulu, baru TDP. Satu selesai, baru bisa urus selanjutnya. Dulu, gosipnya urusan SIUP 2 minggu lalu TDP juga dua minggu. Saat browsing, saya juga dapat info itu dari link Cermati.com. Tapi, kalau belum coba, enggak boleh komen dong ya. ­čśÇ

Yang kedua, sistem online itu juga banyak tantangannya.
Cara daftar SIUP, sebetulnya mudah secara teknis, karena bisa online. Silakan langsung ke pelayanan.jakarta.go.id. Klik login, dan pilih menu pendaftaran. Ya, daftarnya juga online. Gampang banget, ga perlu konsultan atau calo. Lagipula cuma butuh data NPWP perusahaan, nama perusahaan, no hp dan email.  Lalu Anda akan mendapatkan login plus password. Kalau sudah masuk, klik izin baru. Silakan pilih sesuai kebutuhan, mau urus apa.

Saya, urus SIUP Kecil.

Kalau sekadar memasukkan data, mudah. Masukkan data sevalid mungkin, sesuai dengan akta pendirian (dan perubahannya jika ada) beserta surat pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia. Biasanya, ini sudah satu servis paket ekonomis dari Notaris (pembuatan akta dan pengurusan surat pengesahan).

PR-nya ialah memasukkan kategori usaha untuk memohon SIUP, utamanya bagi perusahaan yang aktanya masih umum. Kategori SIUP di situs pelayanan agak berbeda dengan yang tercatat di BPS (KBLI-Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia)

Nah, percobaan pemohonan SIUP via online, pertama kali saya kerjakan di akhir Agustus. Entah kenapa, saya enggak bisa upload. Kalaupun bisa, file tidak terbaca. Setiap malam saya cek, selalu tertera catatan website sedang maintenance. Barulah pada tanggal 1 Agustus 2016 bisa diupload sempurna. Upload foto warna 3×4, akta dan perubahaannya, surat pengesahan, dan surat keterangan kedudukan badan usaha.

Belakangan, saya ketemu trik-nya. Dan mulai paham, kenapa di percobaan awal kok sering gagal.

Akta pendirian perusahaan itu sekitar 25 halaman. Di scan satu per satu. Per halaman aja udah 2 MB. Lalu, akta perubahan itu 14 halaman. Di scan satu per satu juga. Jadi totalnya udah nyaris 80 MB. Akhirnya, mesti dicompress dulu, trus di merge. Atau merge dulu, baru compress, biar filenya jadi satu paket dan ukurannya dibawah 5MB. Saya pakai ilovepdf.com buat merge, dan compress biar ukuran file cukup kecil dan cepat diupload.

Begitu juga dengan surat pengesahan, harus digabung dulu jadi satu file.

Setelah semua berhasil diupload dengan sempurna (usahakan beres dalam waktu kurang dari 1 jam setelah kita login), maka selanjutnya  kita bisa memilih sesi pengambilan SIUP. Ada dua pilihan sesi. Saya pilih Selasa, tanggal 2 Agustus 2016, sesi pagi 08.00-12.00 WIB.

Selasa pagi, sebelum ke PTSP Kecamatan Kebayoran Baru, saya sempatkan intip dashboard pelayanan.jakarta.go id. katanya, proses belum bisa dilanjutkan karena belum ada berkas surat pengesahan. Duh. diupload sih udah, tapi menurut sistem, ada file yang belum masuk.

Baiklah. Kegagalan itu saya manfaatkan sebagai kesempatan untuk langsung datang ke kecamatan. Sembari konsultasi kategori usaha SIUP karena emang agak membingungkan. Kategori yang terdata di ptsp itu berbeda dengan di BPS.

Sampai di kecamatan sekitar pukul 10.00 WIB, ada beberapa orang duduk menunggu. Mesin antrian sedang rusak. Jadi saling pengertian aja untuk tahu diri enggak nyelak antrian.

Petugas yang melayani saya,  baik dan ramah. Belakangan, saya baru tahu namanya Annisa. Dia melihat akta pendirian dan perubahan dan membaca di akte itu salah satunya tercantum: jasa konsultasi promosi perusahaan. Kemudian ia berkonsultasi dengan tim-nya. Lalu, ia menyarankan saya untuk menambah izin Periklanan, selain penerbitan. Sebab di Jakarta, kita bisa urus sampai 3 izin usaha untuk satu SIUP. (Di Tangerang, kabarnya malah bisa lima). Woaaa..

Tentang izin periklanan itu, semalam sebelumnya saya baru rasan-rasan. Gara-gara liat lelang kerjaan pagu Rp3,5 Miliar buat kerjaan sosialisasi minat baca dengan siup periklanan. Hihihi. Kok ya jadi terasa diingatkan.

Berdasarkan saran Ibu Annisa,  saya ulang registrasi baru saat itu juga. Setelah brunch  semangkuk yamin yang sedap, dijual di seberang kantor Palyja, tak jauh dari Kecamatan Kebayoran Baru. Di bawah rindang pohon besar sambil minum teh botol, sukses juga semua data diunggah sebelum jam 12 siang. Maka SK dapat diambil pada 3 Agustus 2016, yang berarti Rabu, hari ini.

Tapi, subuh tadi, saat saya intip dashboard pelayanan.jakarta.go.id, lagi-lagi ada tulisan  proses tidak dapat dilanjutkan karena Jasa Periklanan tidak tertulis di akta pendirian ataupun perubahan.

#lah.
#kokgitubangetsih
#sabar