Menerima Rasa Pahit dengan Optimis

Lidah saya, menyukai rasa manis. Tergila-gila rasa asin, dan bisa menoleransi rasa asam.

Namun satu dan lain hal, mungkin karena perasaan mellow seharian kemarin, mungkin karena satu dan lain kejadian yang membuat saya gusar, -tentang menjadi umat mayoritas di negeri ini- saya mulai berusaha berhenti sepenuhnya untuk menambah aksesoris pada satu dan banyak hal.

Dalam hidup. Dalam keseharian.

Karena itu barangkali, pagi ini, saya urung menambahkan gula pada secangkir kopi dengan uap panas yang masih mengepul. Tidak juga krimer. Tidak juga susu kental manis.

Saya mau berdamai dengan rasa pahit.

Continue reading “Menerima Rasa Pahit dengan Optimis”