Baper-an…

Baper, bawa perasaan.

Coba dengarkan anak-anak yang kekinian itu ngobrol, maka pasti lah tertangkap kata “baper”. Kata ini mengacu pada respons yang sangat personal. Misalnya, liat kucing jadi inget mantan. Itu baper. 😀

Nah, berteman ama orang yang baper bisa bikin rumit.  Lha wong apa-apa dibawa perasaan.

Umumnya, orang nuduh perempuan yang baper-an. Apa-apa dibawa perasaan. Tapi sesungguhnya, laki-laki juga bisa baper-an. Bapakku, yang sepuh itu, sekarang mulai baper-an. Makanya si anak mesti rajin-rajin nelpon atau bertukar kabar via sms.

Dalam dunia pekerjaan, baper-an juga dituduh bikin enggak produktif karena cenderung menebar hawa negatif.

Tapi, sabtu pagi begini aku lagi tertarik memandang baper-an ini dari sisi positif. Apa bisa baper-an menjadi sesuatu yang positif?

Sejauh pengalaman hidup yang baru seuprit ini,  mostly we deal with people, not a product nor a services. Kita nge-hire baby sitter, mempekerjakan pegawai, kebanyakan karena kita merasa oke dengan orang-orang itu. Kita mengerjakan project dari klien, kebanyakan juga bisa berakibat menyenangkan apabila  ‘perasaan’ kita bilang bahwa itu project yang menyenangkan. Tak selalu semata karena imbalan yang menggiurkan meski berharap bisa mendapatkan keduanya sekaligus. 😀

Orang-orang memberi support, menjadi sponsor, apakah karena semata tertarik dengan kontraprestasi yang ditawarkan? Enggak.  Banyak hal membuktikan, faktor kedekatan antar manusia lah yang memuluskan itu semua. Jelas, ini pake perasaan. Bisa klik enggak, chemistry nya dapet apa enggak, dsb.

Orang-orang mau berinvestasi pada sebuah produk, apakah karena cuma semata percaya ama produknya? Enggak. Mereka percaya kepada orang yang menciptakan produk itu, percaya pada kepala yang mengelola produk itu. Lagi-lagi ini urusannya perasaan. Rasio berhitung, tapi ‘feeling’ pegang peranan.

Jadi, baper-an itu enggak selamanya negatif.  Kalau kebetulan ada sikap kita yang enggak disukai, tidak bisa lah dengan mudah kita bilang: ah dia sih baper-an aja, alih-alih introspeksi diri.

Selamat sabtu pagi 😀

 

 

 

 

4 Replies to “Baper-an…”

  1. Ah. Papaku juga mulai baperan. Kalau telpon darinya tidak terangkat atau chat nya tidak langsung terbalas olehku. Mulai baperan ke Ibu, kasak-kusuk bertanya “ke mana anak kita? kenapa susah sekali dihubungi? baik-baik sajakah ia?”

    terkadang, baper itu perlu. untuk mengingatkan bahwa kita berhubungan, bersentuhan dengan manusia. bukan dengan benda mati.

  2. Iya juga yaa.. baper ga selalu negatif kalo diliat dari sisi itu.. :).. Tadinya aku jg sering sebel soalnya ama org2 yg baperan.. suka bertingkah childish.. Tapi dipikir2, kita semua pasti dasarnya baperan kalo berhubungan ama org lain :D.. aku sendiri kalo interview anak baru, juga yg aku liat attitudenya dulu kok mbak :D..Hasil tes nya biar sebagus apa juga, kalo ga sreg di hati ama kelakuan, ga bakal aku lolosin ;p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *