Berani dan Belajar Gagal Lewat Platform Digital

Thomas Wayne: And why do we fall, Bruce? So we can learn to pick ourselves up. 
(Batman Begins, 2005)

Platform digital membantu bisnis kita lebih maju, dengan cara membuat kita lebih berani untuk…….. gagal.

 

Bisnis yang berhasil ataupun gagal, pasti sama-sama harus melewati kegagalan-kegagalan di awal. Makanya, belajar gagal sama pentingnya dengan belajar menjadi sukses.

Lantas, berapa banyak seharusnya kita mengalami kegagalan sebelum benar-benar berhasil?

Sayangnya, tidak ada formula pasti. Tidak pernah ada yang tahu berapa jatah gagal untuk dihabiskan sebelum akhirnya menjadi sukses.

Malcolm Gladwell, dalam bukunya The Outliers pernah menulis. Jika kita memanfaatkan waktu kita sebanyak 10 ribu jam untuk berlatih, kita bisa menjadi ahli di bidang itu. Belakangan, ada studi yang mungkin akan mematahkan formula tersebut. Menurut temuan studi yang salah satunya dilakukan akademisi Universitas Princeton itu, kita bisa menggunakan patokan 10 ribu jam dalam bidang yang punya aturan main tetap. Misalnya, olahraga bola basket atau main tenis.

Tapi untuk dunia yang sangat dinamis, seperti kewirausahaan, formula itu bisa dianggap tidak valid. Seorang Richard Branson yang lama berkecimpung di industri musik terbukti bisa punya bisnis penerbangan luar biasa.

Tak ada formula pasti.

Juga tak ada yang tahu, seberapa banyak kegagalan yang umumnya harus dilalui agar bisa seperti para entrepreneur yang dinilai sukses. Katakanlah Mark Zuckerberg. Atau Jack Ma.

Self-publishing is hard work

 

Daya tahan

Thomas Alfa Edison sering dijadikan contoh klasik tentang ketahanan merasakan kegagalan. Ia disebut-sebut baru menemukan bola lampu pijar setelah percobaan ke 10.083 kali. Edison menyebut kegagalannya sebagai eksperimen. Barangkali itu lah kenapa ia punya daya tahan. Ia punya mindset yang pas.

Bukankah, seperti kata banyak orang: kita kadang baru ketemu jodoh tepat setelah banyak bertemu orang-orang yang salah. #eh.

Maksud saya, kadang kita perlu mencoba beragam cara untuk memastikan sebuah cara yang tepat. Ya, tepat. Sebab cara yang benar, belum tentu tepat.

Inovasi yang benar belum tentu tepat saat pasarnya tak siap. Energi nuklir, misalnya. Selama trauma Chernobyl tak dapat dikesampingkan, maka selamanya energi terbarukan yang sejatinya bersih itu akan dilabeli sebagai masa depan jahanam. Tapi, bagaimana kita tahu pasar sudah siap menyambut temuan kita? Dan bagaimana memilih momentum yang tepat?

Maafkan, saya juga belum membaca adanya formula yang bisa menjadi dasar valid.

Seperti misalnya, tak pernah ada penjelasan kenapa sepatu Hush Puppies yang nyaris bangkrut itu mendadak jadi beken kembali di kalangan peggila mode, kecuali alasan ‘tipping point’. Atau, seperti ABDC Coffee membuat Pasar Santa Jakarta menjadi bergairah dan memicu ongkos sewa lapak bulanan yang tinggi. Sebab tak ada cerita sebelumnya, sebuah pasar di Jakarta sukses jadi tujuan para hipster urban. Atau, kenapa tiba-tiba anak SD di Jakarta gandrung main slime, dan para pembuat slime (yang juga masih bocah SD) jadi jutawan dan selebritas lewat instagram?

Apa yang membuat sebuah bisnis sukses?

Kalau kata para bos-bos MLM yang beromzet besar,
bisnis sukses itu ialah bisnis yang d-i-j-a-l-a-n-k-a-n. Ya iya lah.

Tapi itu berarti, bisnis baru sukses jika berkali-kali melakukan percobaan. Sebuah percobaan punya kemungkinan sama besar: 50% berhasil dan 50% gagal. Itu sudah tidak bisa didebat, sekalipun kita berusaha menaikkan kemungkinan untuk berhasil. Meski riset pasar dilakukan secara komprehensif, prototype juga sudah dibuat, semua faktor sudah diteliti dan dianalis.

Walaupun di awal tampak 99% bakal pasti sukses, unsur 1% kemungkinan gagal mampu membuat semua berubah.

Lantas bagaimana?

pexels-photo-121585

 

Mencoba, dan mencoba.

Bisnis merupakan proses yang akrab dengan percobaan. Masalahnya sekarang, seberapa tahan kita mencoba dan mengalami proses kegagalan?

Daya tahan bisa berarti ketahanan mental, atau ketahanan modal. Gagal berkali-kali bisa menggerus modal dan melemahkan mental. Bagaimana cara mencoba dengan biaya murah dan waktu yang singkat, sehingga daya tahan manusia yang tak jelas takaran per individunya ini bisa cukup kuat ditempa gagal sebelum tiba di titik sukses?

Jawabannya, platform digital.

Akses internet ultra cepat membuat informasi datang begitu deras dan melimpah, untuk kita pilah kapan saja kita butuhkan. Belajar hal baru di Youtube, atau mengurus orderan klien, atau bahkan koordinasi dengan sesama pekerja freelance, bisa dilakukan dengan lancar. Cari inspirasi, tak akan sulit dengan dukungan data. Jam 1 dini hari pun, kita selalu bisa menelusuri informasi terbaru atau membaca top stories kanal bisnis ChannelNewsAsia. Imajinasi dan kemampuan kita “menghubung-hubungkan” informasi yang kita dapat, biasanya bisa jadi ide produk atau servis. Selanjutnya, bisa nge-tes pasar.

Media sosial barangkali wahana paling juara untuk mengetahui respons pasar, meski tak otomatis merepresentasikan real life. Sebuah acara atau kampanye yang mengundang ratusan like di media sosial bisa jadi sepi-sepi saja di lapangan. Namun, apa sulitnya membuat prototype, lempar ke pasar, lalu periksa, apakah ada yang menyambutnya? Jika itu barang, apakah barang itu ada peminatnya?

Platform digital, saya rasa, membuat daya tahan pengusaha menjadi lebih lama.

office-notes-notepad-entrepreneur-38556

Bayangkan begini. Dulu kalau mau jual kaos, kita harus beli dulu kaosnya, disablon, dijual lewat bazaar atau antar teman. Sekarang, kita menjual desain. Jika ada yang mau, baru diproduksi. Itu pun bisa pre order. Bayangkan, modal bisa datang dari konsumen. Platform digital memungkinkan orang menjual ide sebelum produksi. Hitung saja berapa modal yang tak mesti keluar di awal.

Betul memang, jualan ide di media online membuka kemungkinkan pencurian ide.  But, so what? Nothing new under the same sun. Jika tak mau dicuri, bagikan saja sekalian. Toh prinsipnya, ide boleh sama. Tapi eksekusi dan servis lah yang akan menentukan juaranya. Bukan malaikat. Makanya kita lihat, selalu ada tukang nasi goreng yang lebih laris daripada tukang nasi goreng lainnya, meski sama saja komoditasnya.

Bisnis yang lebih baik  

Banyak orang yang saya kenal mengaku ingin bisnis, tapi tidak tahu mau bisnis apa. Sejujurnya, itu aneh. Bisnis, saya rasa, ialah sebuah idealisme. Ia berangkat dari hal-hal yang dekat dengan kita, sesuatu yang sering kita lakukan, atau nikmati, tapi ingin kita buat lebih baik, menjadi ideal sesuai takaran kita.

Bisnis, sejatinya ialah cara kita membuat sesuatu menjadi lebih baik. Dari sisi produknya, atau dari sisi prosesnya. Dan kemudian bisa dinikmati orang banyak. Bisnis ialah cara kita berbagi produk dan jasa yang lebih baik,  kepada lebih banyak orang.

Upaya untuk itu lah yang kemudian ditukar dengan sejumlah uang. Lalu bagaimana membuat sesuatu menjadi lebih baik?

Platform digital, lagi-lagi memudahkan kita untuk mengamati apa yang sudah dilakukan orang-orang di seluruh dunia. Adakah yang sudah membuatnya lebih baik?

Misalnya, kita suka makan mie instan. Adakah cara lain yang membuat mie instan lebih enak dinikmati bersama teman-teman? Adakah cara lain menjadikan mie instan bisa dinikmati dalam bentuk yang tak biasa. Saat mencoba resep-resep yang bertebaran di dunia maya, kita mungkin akan gagal beberapa kali sebelum menemukan resep paling pas buat kita. Tapi hitunglah modal riset Anda. Mungkin tak lebih dari satu kardus mie instan, paket akses internet ultra cepat, beberapa minggu di dapur, dan sejumlah anak kost yang bersedia jadi pencicip awal.

Jika Anda membuat produk yang punya keawetan lebih lama dari makanan, media sosial dan ragam marketplace bisa jadi pilihan untuk menjajal pasar. Membuat akun media sosial, atau bergabung dengan marketplace, setidaknya masih gratis. Tapi membuat website atau online shop khusus, urusannya berbeda.

Now-Learn-How-to-Conquer-Your-Writers-Block-and-Summon-Inspiration-820x380

Tak sulit meski sendirian

Saya pribadi, menyukai ide Etsy.com mendukung para pemula. Marketplace untuk para crafter independen ini memberi etalase luas bagi pekerja seni skala rumahan, termasuk mereka yang baru coba-coba pasar. Tapi kredibilitas dan branding Etsy terjaga karena mereka strict tak membuka diri pada barang-barang masif.

Seharusnya, di era ekonomi kreatif ini ada lebih banyak marketplace yang mendukung kerja artisan. Karena itu bisa mendukung ekosistem lebih baik tentang nilai intengable asset para pekerja kreatif.

Dari sisi bisnis, bergabung dengan marketplace membantu pebisnis awal belajar teguh pada komitmen pelayanan, serta kerapihan administrasi. Sejumlah marketplace menahan pembayaran sampai pembeli puas. Jika ingin bergabung dengan situs e-commerce, ketentuan lebih ketat. Ada yang menerapkan denda jika pebisnis tak merespons pembelian dalam jangka waktu tertentu. Untuk jangka panjang, ini bisa membangun sikap mental bisnis yang lebih baik. Bahwa berapapun modal yang kita siapkan –baik uang, waktu, atau tenaga dan pemikiran- ialah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan. Tak bisa sekadar bosan, lalu yuk bye!

Platform digital juga memudahkan seorang pebisnis yang berjuang sendirian. Sebab saat ini sudah banyak layanan online yang mendukung proses bisnis.

Ingin jualan, bisa menggunakan marketplace yang gratisan. Promosi gratis pun dapat dijalankan melalui media sosial. Modalnya, kemampuan memotret yang kini juga sudah terbantu dengan maraknya aplikasi filter dan olah visual. Produsen kamera pun kini berlomba-lomba menghadirkan teknologi yang makin ramah di kantong.

Jika butuh membuat poster sederhana, ada canva.com dengan segala pilihan template desain yang cukup keren. Bahkan jika ingin membuat video dari foto, bisa pakai animoto.com. Dan yang tak kalah penting, punya blog. Domain berbayar dengan nama bisnis kita, itu wajib, sebab bisa jadi takaran keseriusan bisnis.

workingless

Dengan semua aplikasi digital itu, seorang solopreneur sekalipun bisa seperti punya pegawai, meski sebetulnya yang mengerjakan ya “lu lagi, lu lagi”. 😀

Sebab, namanya pebisnis pemula ya harus siap dan mau capek sendirian tanpa anak buah. Investasi pada manusia itu mahal! Hasilnya pun kadang tak bisa ditebak. Makin banyak SDM, bisa jadi malah jadi menambah beban jika mereka ternyata tak bagus-bagus amat. Harus diakui, brand yang belum besar biasanya tak menarik bakat-bakat brilian, kecuali yang memang kita kenal sebagai  teman atau kerabat keluarga.

Untuk urusan administrasi, pebisnis bisa menggunakan layanan akuntansi online, misalnya jurnal.id. Saya baru coba versi trial-nya, dan merasa punya harapan tinggi untuk membereskan administrasi yang berantakan. Salah kelola dan ketidakrapihan administrasi kerap jadi penyebab bisnis yang babak belur. Paling tidak, itu yang saya pelajari saat membangun usaha saya sendiri, Arkea.id

pexels-photo (3)

Arkea merupakan penyedia jasa penulisan dan desain. Kami biasa mengerjakan pembuatan buku untuk individu, organisasi, dan perusahaan. Kadang-kadang, kami juga membuat konten website dan company profile. Kami juga menggarap fotografi dan video.

Karena bergerak di bidang jasa, maka aset terbesar Arkea ialah manusia dengan segala kompleksitasnya. Permintaan yang masuk, kadang tak bisa dipenuhi dengan optimal lantaran keterbatasan SDM. Administrasi jadi terbengkalai akibat terlalu repot dengan cara-cara manual dalam proses bisnis, dan sibuk produksi.

Buat penyedia jasa, layanan umumnya tak dapat diduplikasi. Ada beberapa yang dapat diotomasi, tapi produk utamanya tak bisa dibuat masif tanpa menambah orang.  Misalnya, di Arkea, kemampuan penulis tak bisa diduplikasi, kecuali lewat penulis baru. Sama hal nya dengan desainer grafis.

Makanya, jika menang lomba blog My Republic, saya jadi punya modal tambahan, dan dapat digunakan untuk memperpanjang daftar nama penulis dan desainer grafis. Misalnya, dengan membuat sebuah kompetisi yang fokus pada storytelling. Dengan begitu, saya bisa menjaring potensi baru. Saya juga bisa menambah amunisi pemasaran. Caranya, lagi-lagi lewat platform digital.

Well, anyway, dalam perjalanan Arkea yang baru digarap serius setahun terakhir ini, saya belajar banyak tentang daya tahan. Pekerja bisa datang dan pergi, order bisa ramai dan sepi, tapi pemiliknya bertahan karena punya daya tahan: seberapa tahan kita menjalani proses, tahap demi tahap.

new-zealand-lake-mountain-landscape-37650

Semakin ke sini, semakin saya yakin bahwa daya tahan itu bisa kita perpanjang dengan memanfaatkan platform digital. Sehingga nanti, saya bisa membuktikan ucapan Friedriceh Nietze yang kemudian diolah menjadi kalimat witty Joker dalam The Dark Knight (2008).

“I believe, whatever doesn’t kill you, simply makes you…stroanger.”

 

CNA-blog-webbanner-WINNERS

13 Replies to “Berani dan Belajar Gagal Lewat Platform Digital”

  1. Kalau aku, aku jualan layangan, soalnya aku kan anak alay (bukan lebay ya ?) alay itu anak layangan (tapi nggak suka nongkrong di pinggir jalan) pokonya alaayyyy banget…hehehehehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *