Buat Bung

Seorang kenalan baru menyodorkan sebuah buku. Kecil. Manis. Tebal.

Kubuka sekilas. Isinya mengingatkan pada buku “Bermain-main dengan Cinta” yang ditulis Bagus Takwin, lebih dari satu dekade silam. Haha. Jadi ketahuan deh usia kita ya.

Sampul buku itu didesain manis. Ungu yang sederhana. Judulnya, “Buat Bung”.

Kutanya, “Mana yang Buat Non ?”

Dia tertawa saja. Tapi tawanya agak panjang. Dan berulang. Padahal obrolan kami terus bergerak tak lagi di titik perbincangan yang sama. Sampai tiba-tiba, tanpa ditanya, ia bilang, “Enggak banyak yang tahu bahwa pasangan “bung” itu “non”. Apalagi anak-anak sekarang.”

Hahaha. Lagi-lagi, bahasa menunjukkan usia kita.

BB1 BB2

Buku itu sendiri, menurut saya, merupakan kompendium. Tentang hal-hal yang merupakan refleksi seseorang memaknai hubungan personal, setelah memiliki jeda waktu dan jarak.

Saat hubungan kita dengan orang (yang tadinya) spesial tak lagi berkelanjutan, yang tersisa cuma kenangan. Kadang penuh kecewa, kemarahan dan kekesalan. Kadang ada kata-kata yang tak kelar diucapkan. Semacam “unfinished business” begitu.

“Please deh. Buku itu bukan tentang gue, kali.”

Iya. Saya percaya. Seorang penulis bisa ‘colongan’ cerita kisah pribadinya, atau sedang sekadar ‘berbohong’. Yang jelas, “Buat Bung” ini barangkali semacam sesuatu yang bisa mewakili perasaan-perasaan yang terpendam, tak pernah bisa disampaikan.

Aha. Menurut kamu, bagaimana? Perlukah menuntaskan sebuah ‘unfinished business’ dengan menyampaikan kata-kata terakhir biar puas?

Saya jadi ingat, ada orang yang kukenal, menyiapkan sebuah buku berisikan ‘panduan memahami si mantan pacar’ yang menyisakan banyak kekesalan. Idenya, kalau ia harus memberikan ‘panduan’ itu ke perempuan berikutnya yang menjadi orang spesial si mantan pancar. Haha. Lebayh bangeth emang.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *