Besok kita akan bertemu di reuni 20 tahun

Besok kita akan bertemu setelah 20 tahun berlalu, dan aku masih belum tahu apakah aku bisa menyapamu biasa-biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Tiket sudah di tangan. Urusan dengan si Bos sudah aku bereskan semalam. Aku bawa suami, buat jaga-jaga kalau aku perlu gandengan saat lihat kamu yang sekarang.

Sudah jam 12 malam dan aku tak bisa tidur. Mungkin terlalu gembira atas apa yang akan terjadi besok. Jangan salah sangka, selain kamu, aku ingin bertemu teman-teman lama zaman SMA. Saat pilihan-pilihan hidup sederhana saja. Pilihan baju ya seragam putih abu-abu, atau seragam olahraga. Bahkan pilihan makanan di kantin yang tak banyak itu sudah membuat aku begitu bahagia.

Jam 1 dini hari, dan bunyi notifikasi messenger di ponsel mulai terdengar jarang. Mungkin sudah pada lelap. Terakhir ku periksa satu jam lalu, tak ada satu pun dari kamu. Mungkin sekarang ada, entahlah. Aku tak lagi berselera melihat karena di dalam kepalaku sendiri begitu riuh. Bisa jadi karena video kompilasi foto yang sudah kulihat berulang-ulang.

Seharusnya ingatanku tentang kamu berhenti 20 tahun lalu saat kita tidak lagi bersekolah di tempat yang sama. Kita berjarak 1000an kilometer dan aku menikmati hidupku selanjutnya, dunia kampus yang penuh warna perjalanan menuju dewasa. Ku kira kamu pun begitu.

Tapi foto-foto lawas yang tak banyak itu ternyata cukup cepat menarikku kembali lagi ke 20 tahun silam. Mengingat perasaan hangat jika melihatmu memasuki gerbang sekolah,  tanpa terburu-buru, seiring bel sekolah tanda masuk.

Tanpa terasa, 20 tahun sudah terlewati, oh life is so damn short! Hidupku saat ini, tidak sesempurna bayanganku dulu, tapi semua baik-baik saja.  Dan ternyata betul, ya. Kerap kali kita menyesal atas hal-hal yang tidak kita lakukan ketimbang pencapaian yang gagal.

Suamiku bangun. Ke dapur, mengambil minum. Ia sering kali begitu. Berarti sudah nyaris jam dua. Dan aku pura-pura terpejam.

Her.

nature-fashion-person-woman-600

 

Besok aku akan melihatnya lagi setelah 20 tahun tak pernah bersua. Baru setahun terakhir, itu pun bisa dihitung jari, aku menyapanya lagi. Lewat media sosial. Lalu lewat messenger, meski tak pernah sungguh-sungguh mengobrol. Kebingunganku menyapanya tertolong dengan tombol like. Atau emoticon. Atau perbincangan seputar sekarang di mana, kerja di mana, anakmu berapa. Itu bukan ngobrol, seperti ‘ngobrol’ yang kupahami. Tapi lama tak bersua tak lantas bisa membuatku bercerita panjang lebar tentang hidup dan pilihan-pilihan yang kujalani. Semakin lama tak bertemu, semakin sulit menemukan kata pertama selain “Sehat?”.

Emoticon-emoticon yang lucu itu menyelamatkan aku yang tak punya kata-kata.

Dari foto-fotonya, ku lihat hidupnya menyenangkan. Seperti aku, ia juga sudah berkeluarga meski ia tak banyak memajang foto bersama suami dan anak-anaknya. Teman bersama kami hanya teman SMA dulu, dan dua orang teman (satu teman kuliah, satu teman di kantor lama) yang kebetulan juga mengenalnya karena urusan pekerjaan. Pernah sesekali aku mengajaknya bicara tentang dua teman itu.  Tapi tak pernah bisa membawaku mengajaknya bicara lebih jauh. Mungkin memang ia tak pernah tertarik bicara lagi tentang hal-hal baru. Mungkin ingatannya selesai 20 tahun lalu.

Dan besok, aku akan melihatnya lagi.  Aku tahu ia akan datang. Meski aku tak pernah bertanya langsung, namun di grup whatsapp ia bilang, ia usahakan datang. Detik itu juga, aku tahu, ia belum berubah. Ia tak pernah mengecewakan. Dulu saat kerja kelompok pun, selalu ia yang menyelamatkan muka. Ia, selalu bisa diandalkan. Jadi aku tau, atas nama apapun, ia pasti datang. Lantas apa yang harus aku katakan saat aku bertemu lagi?

Rindu, sudah pasti. Tapi perlukah ia tahu?

Aku menyukai hidupku saat ini. Dengan anak dan istri yang aku cintai. Tapi aku pun suka punya kenangan dalam hati. Cinta itu terasa manis kalau tentang dia. Mungkin karena cinta ini baru berupa ilusi. Dan ilusi itu, akan kutemui esok hari.

Him.

bench-man-person-night-600

 

Besok aku akan menemuinya. Sudah terlambat 20 tahun untuk bilang sepotong perasaan yang kini menggoda lagi lewat byte demi byte foto lawas yang didigitalkan. Paling mentok, aku cuma akan bilang, apa kabar. Mungkin dia lupa, aku yang menemaninya saat dia mengawasi temanku yang datang dengan langkah tak tergesa itu,  tiap bel sekolah berdentang. Tapi tentu saja, ia pasti lupa dan tidak ada gunanya mengingatkan kembali.

Tanpa kuingatkan pun, aku yakin ia akan mendatangiku, menjabat tangan dengan erat, dan kita akan akrab berbincang.  Lebih akrab, mungkin, ketimbang waktu itu. Kali ini, mungkin dia benar-benar akan memberitahu rahasianya dulu, sepotong perasaan untuk temanku.

Her best friend.

pexels-photo-600

 

Besok aku akan bertanya, apa kabarmu sekarang? Aku akan pura-pura lupa, bahwa aku sudah bisa meringkas hidupnya, setelah lulus SMA, lalu kuliah, bekerja dan berkeluarga. Bahkan aku tau apa hadiah untuk putra kecilnya. Tentu saja lewat media sosial, foto-foto cerah yang diunggah istrinya-yang aku tak tahu siapa-. Tapi aku hanya akan bertanya apa kabar, dan mungkin akan tersenyum sedikit lalu melihatnya dari jauh, di antara gelak tawa teman-temanku lainnya. Itu akan lebih aman. dan mungkin akan membuatnya lebih nyaman.

His secret admirer.

man-strip-600

 

 

Ibu #1

Ibu-1
Ibu, pernah suatu kali, ia ingat sebagai orang paling bahagia sedunia. Paling kaya. Paling berpunya. Apa yang ia minta, pasti ada.

Pernah, ia minta sebuah tawa.

Ibu menyanyikan sebuah lagu, beriring dengan rima hujan, lalu ada kodok meloncat sangat tinggi hingga sampai di kepalanya. Ibu menjerit. Dia tertawa.

Pernah ia minta sepotong senyum di hari hujan yang sama.

Ibu membuka pagar, menyilakan bapak-bapak tua yang sedang mengendarai sepeda dan bajunya bakal kuyub jika ia tak berteduh. Bapak tua itu tersenyum.

Saat menjelang dewasa, ia memergoki ibunya menangis di atas sajadah. Ia ikut menangis melihatnya. Ibu kenapa? Ibu bilang tak apa. Cuma sekadar rindu bapak. Dia bilang, dia tak ingat bapak tapi meminta ibunya berhenti menangis.

Lalu keesokan harinya listrik di rumah padam.

Lalu lusanya, ia dan ibu berbekal sebuah koper pindah ke kamar kos.

Kata ibu, biar praktis tak perlu repot beberes. Dia mengangguk. Kamar mereka kecil dan tak banyak barang. Bertahun-tahun mereka di sana.

Ibu masih jadi orang paling kaya sedunia

Lalu suatu hari,

Ia tahu ibunya jadi buruh cuci di rumah orang. Tiga rumah dalam sehari. Totalnya, lima majikan.
Pada suatu siang yang tiba-tiba hujan itu, ia meneduh di rumah kawan. Lalu melihat ibunya serabutan menarik baju yang sudah dijemur, di loteng seberang rumah si kawan.
Dia kecewa. Ibu bilang, kerja kantoran.
Lantaran itu ia mendiamkan ibunya berhari-hari.
Lalu ibu merayunya dengan banyak cara.
Dari sepotong apem bakar dengan topping keju.
Sampai majalah go girl.
Sampai suatu hari, ia memutuskan untuk berbaikan.
Ia tetap tak bilang kenapa ia diam, cuma tersenyum lalu tertawa.
Ia kangen ibu. Tak tahan diam berlama-lama.
Lalu hari-hari selanjutnya cair seperti sedia kala.

Kini ia sudah menjadi ibu.
Makin dewasa, dia tahu ibunya cuma pura-pura tabah karena menolak buat kalah.

#kereta tebet-depok.