#TerimaKasihBandaNeira

Makin bertambah usia, makin sering kita menemui perpisahan demi perpisahan.

Teman yang pindah kota ikut bapak ibunya. Sahabat yang melanjutkan kuliah di luar negeri.Teman lama yang tutup usia. Teman dekat yang menikah dan ikut suami, tak sekota lagi. Penyanyi idola yang meninggal. Acara wisuda yang bikin geng tercerai berai. Teman kantor yang memilih pindah. Serial drama Jepang yang berakhir. Atlet yang pensiun. Majalah yang tak terbit lagi. Toko buku yang tutup.

Kita ditinggalkan. Atau kita meninggalkan.
Semuanya bisa bikin patah hati.

Continue reading “#TerimaKasihBandaNeira”

Toko Budi dan Dongeng Kopi, tentang 6 jam yang istimewa di Yogya.

Yogya selalu bisa membuat saya suka. Mungkin karena tak pernah menetap terlalu lama, mungkin karena memang Yogya punya banyak pesona. Entah. Tapi saya suka atmosfernya. Makanan. Tempat-tempat menarik, dan tentu saja buku-buku Yogya. Ehm, maksud saya ialah Yogya tidak dalam peak season-nya ya.

Akhir Maret lalu saya ke Jogja. Singkat saja. Pergi pagi, pulang maghrib. Untungnya yang ngajak meeting tahu tempat menyenangkan hati. Ia mengajak kami ke Toko Budi, lalu ngopi dan berbincang di Dongeng Kopi. Letaknya di kawasan Gorongan, Condongcatur. Ada di sana juga, Indie Book Corner.

Toko Budi ialah toko buku, kecil saja. Seperti kamar kos-an yang umum ditemui di kota-kota mahasiswa. Bangunannya menempel dengan Dongeng Kopi dan Indie Book Corner. Koleksi buku di Toko Budi tidak banyak, tapi judul-judulnya menggoda untuk diborong. Kalau kalian orang Jakarta yang doyan ke Pasar Santa, tampilan Toko Budi ini mirip-mirip POST lah, semangatnya, juga beberapa koleksinya. Seperti buku-buku penerbit Oak dan Marjin Kiri. Di toko buku yang kecil ini, umumnya kita bisa bahagia. Bisa ngobrol tentang buku dengan yang kebetulan sedang bertugas jaga.

TokoBudi

TokoBukuBudi

Saya sempat beli Pangeran Mandasia si Pencuri Daging Sapi. Karya Yusi Avianto Pareanom ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca, terutama kalau kamu udah mulai kebanyakan baca buku-buku Tere Liye dan Andrea Hirata. Kenapa? Haha. Beli aja. Saya belum sempat nulis review-nya. Sudah banyak kok yang nulis, googling aja. Percayalah, dongeng kontemporer ini sangat layak dibeli. Halaman demi halamannya begitu membetot perhatian.

Anyway, ada Olie di Toko Budi saat kami tiba. Ia berbaik hati memberi diskon 10% untuk buku-buku yang kami beli. Yang mengundang meeting, juga baik. Dia membawakan sekantong berisi buku-buku dan mentraktir kopi. Asyik!

DongengKopi

CoffeeKilltheTea

Dan kopi di Dongeng Kopi itu bukan bualan enaknya. Apalagi kalau kamu (seperti saya) biasa minum kopi cap ratu bermahkota bintang. Duh, lewat lah. Saya sempat coba dua rasa. Coffee kill the tea yang hot (iya, namanya emang gitu) dan something cold apple coffee brew atau apalah gitu. Dua-duanya enak. Tapi mungkin karena siang dan Yogya agak gerah, saya lebih suka kopi dingin rasa apel. Asli, enak banget.

Ada beberapa pengunjung siang itu, yang kemudian mengerubungi Eka Pocer. Ternyata wawancara. Mungkin anak-anak kampus. Ada Mas Adhe, penulis buku Declare yang saya suka itu, sedang menyelesaikan tulisannya yang kemudian dipublikasikan di  blog Kampung Buku Jogja.

DongengKopi-Titik1

 

Dan ya, meeting kami lancar siang itu. Mudah-mudahan kelancarannya kelak bisa mendatangkan banyak alasan untuk saya selalu pergi ke Yogya. Terima kasih buat yang ngajak meeting. Jadi saya bisa tau tempat-tempat asyik seperti Toko Budi dan Dongeng Kopi. Hari itu berakhir di rumah ibu mertua,  tempat saya menjemput 10 kotak bakpia lalu kembali ke Jakarta.