Cerita itu berceceran di mana-mana

Dan aku memungutnya saja. Kadang-kadang, lupa bilang terima kasih, malah!

Kadang-kadang, kalau sedang lelah dan tak ada ide, sementara uang muka honor penulisan sudah masuk rekening, aku cukup keluyuran. Namanya juga sudah dibayar. Masa mau diam-diam saja menunggu ide datang?

Maka aku menjemputnya. Ke mana saja. Ke taman. Ke mal. Ke pasar. Kadang-kadang, dapat ide. Kadang- kadang pulang dengan kepala masih sama seperti sebelumnya.

Cara lain yang seringkali jitu, berbincang dengan supir taksi.

Demi keamanan, aku pilih yang biru. Dan entah kenapa, supir armada burung biru itu seringkali lucu-lucu.

 

“Aku ini loh, Mbak. Nganter orang dari mal ke mal. Tiga bulan di Jakarta, aku hapal deh mal di sini. Tapi aku itu enggak tahu kayak apa sih mal iku? Sebanyak apa barang-barang yang dijual? ¬†Abis nyupir, capek. Maunya langsung melungker nang mes. Kapan-kapan, aku mesti ke mal.”

-Kisah seorang supir taksi asal pekalongan yang berhenti jadi supir truk pantura dan ikut tetangganya ke Jakarta

 

Lalu, di lain waktu, ketika taksi melintas jalan di depan Taman Menteng, dan lalu lintas tersendat gara-gara deretan mobil parkir hampir menghabiskan setengah badan jalan, aku jadi tahu si supir taksi rupanya mantan TKI di Korea.

“Ini tuh kalau dilaporkan, besoknya kosong. Lalu begini lagi. Pasti preman yang main. Kalau di Korea, enggak ada yang begini nih. Kalau kita menerobos lampu merah pun, tak ada polisi datang menghampiri. ¬†Tapi akhir bulan, ada tagihan, kita bisa bayar di ATM. Kalau tak bayar, bulan depannya akan otomatis terdebet. Padahal Korea itu merdeka kan enggak jauh-jauh dari Indonesia merdeka ya.”

-Kisah seorang supir taksi yang membeli tanah di kawasan Pasar Rebo setelah 5 tahun jadi TKI di Korea, lalu membangun kontrakan 18 pintu. Ia menyupir dua hari sekali, untuk kesibukan di sela-sela kewajiban mengecek pompa air kontrakan dan membayar listrik.

Lalu, di lain waktu, saat pulang wawancara dari Purwakarta dan aku naik taksi dari Cilandak. Si supir asyik bercerita kebiasannya mangkal di tempat itu dan di sebuah kawasan di Bintaro.

“Kalau di Bintaro itu, pelanggan saya para PSK. Bajunya seperti kurang bahan semua. Tapi baik-baik. Ya, saya anggap saja adek-adekan. Masih sayang istri di rumah. Dulu dapatnya susah.”

-Cerita supir taksi asal Tegal yang selalu ingat TEBET gara-gara penumpangnya salah omong jadi BETET.

Lumayan ya, obrolan di taksi sungguh-sungguh bikin hari jadi berwarna. Itu cuma tiga diantaranya. Lalu kupungut satu demi satu, dan jadilah sebuah cerita pesanan.