Formula jatuh cinta

Ternyata kita bisa memilih jatuh cinta pada apa, dan pada siapa. Ia tidak datang tiba-tiba. Bisa direncanakan, bisa diupayakan.

Kok kayaknya capek ya, untuk jatuh cinta saja kok butuh usaha dan upaya, butuh modus tingkat dewa? Apa enggak bisa jatuh cinta dengan sederhana? Yang kalau ditanya, tak bisa jawab alasannya apa.

Bisa aja sih. Tapi setelah itu, tetap kok butuh usaha.

Sebab umur perasaan yang ‘tiba-tiba dan tak dapat dijelaskan’ itu tak lama. Untuk memperpanjang, ada kerja keras.

Hubungan yang hangat dan selalu membara, biasanya karena punya satu musuh bersama. Misalnya, beda agama. Atau malah tak disetujui keluarga. Semakin dilarang, semakin si pacar terlihat begitu menawan.

Sama halnya jatuh cinta pada hal yang kita kerjakan. Kita bisa pilih, lalu berusaha (baca: belajar) habis-habisan, sehingga skill bertambah. Makin pintar, makin pede, makin diapresiasi. Kalau apresiasi tinggi, kita makin happy. Makin terus berkembang dan terbang tinggi.

Lalu kita bilang, “Because I am working with passion.”

Well, sebetulnya enggak gitu juga sih. Bukan renjana (passion) yang memilih kita untuk canggih di satu hal, tapi karena kita milih mau senang mengerjakan apa. Dan itu, terkait erat dengan apa yang kita asup. Buku yang kita baca. Film yang kita tonton. Musik yang kita nikmati.  Aktivitas yang kita jalani. Serta pendapat orang lain yang sering kita dengarkan.

Dan lagi-lagi, kita seharusnya punya opsi untuk membaca buku bagus, menonton film bagus, menikmati musik bagus, menjalani aktivitas yang baik, serta mendengarkan pendapat yang relevan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *