Ghostwriter, jejaknya ada di rekening bank

Seorang ghostwriter yang bekerja dalam diam mengalami tiga kali kesenangan. Yang pertama saat dibayar. Yang kedua, ketika klien dipuja pembacanya. Yang ketiga, ketika si klien membuka rahasia siapa penulis sesungguhnya.

Seorang klien yang puas tak ragu membeberkan identitas ghostwriter kepada temannya yang kebetulan berkomentar “Eh, hebat lo. Sempet-sempetnya bikin buku.”

Lalu klien yang happy akan bilang, “Oh, itu gue pake ghostwriter. Si Sica. Tau kan lo? Kondang kok.”

Okeh. Abaikan. Komentar di atas tentang betapa kondangnya si Sica itu cuma hoax. #mesem

Tapi cerita tentang klien yang happy dengan ghostwriternya lalu merekomendasikan, nyata adanya. Itu betul. Rezeki ghostwriter terus mengalir seiring promosi dari mulut ke mulut.

Ada yang jadi bekerja sama dan sukses jadi buku.

Ada yang tidak. Mostly karena kurang sreg, atau terbentur waktu dan kesibukan klien.

Iya, ghostwriter berhak kok memilih klien.
Kalau saya, syaratnya dua. Hati dan bayaran mesti cocok keduanya. Hahahaha.

Yang menjadi prioritas, tentu yang pertama. Bakal cocok enggak chemistry-nya? Sebab menulis sebagai ghostwriter butuh waktu dan pengamatan yang tak sebentar. Kalau dari awal rasanya enggak terlalu sreg, lebih baik jangan. Itu prinsip.

Tentang syarat kedua, bukan ukuran pasti. Kadang-kadang, saya berhitung juga, terutama dari sisi networking. Buat saya, ini lebih penting ketimbang delapan digit di rekening bank. #Ehm.

Biasanya, klien baru si ghostwriter cenderung berputar-putar di jejaring klien lama. Maka penting juga untuk menentukan harga awal. Jadi, dari klien pertama ke selanjutnya, ada variasi penambahan tarif.

Besarnya berapa? Yang ini, murni berdasarkan keberanian ghostwriter mengajukan harga. Memang, tak ada parameter pasti terkait tarif menulis. Kalau suka, bayar. Kalau enggak, tawar.

Biasanya, kalau pemula masih takut-takut kasih harga.

Kalau sudah punya bukti kerja dua atau tiga buku, mulai deh berani pasang harga dengan semangat ‘ngetest’. Kalau klien bersedia syukur, kalau enggak ya buka kesempatan ditawar. Ada yang matok harga Rp400 juta buat satu project (cleguk!). Ada yang cuma 10%-nya, untuk 200 halaman.

Jadi masalah harga ini, tinggal ditimbang-timbang saja. Terutama dari sisi effort. Jika mengerjakan project itu, bisa enggak terima job lain? Terutama untuk orang-orang yang suka bekerja dengan sistem paralel. Mereka ini kadang-kadang butuh distraksi demi kelancaran project utama.

Nah, sebelum bicara harga, biasanya ngobrol-ngobrol dulu lah ya.

Pertanyaan yang umum ditanyakan ialah, “gimana caranya kamu menulis buku atas nama saya, yang berbeda dengan dengan buku untuk klien lain?”

Waini…

Saya selalu bilang,  sejujurnya saya tak mampu menulis buku berdasarkan wawancara email, chat dan telepon. Harus ketemu. Paling tidak, seminggu sekali, sekitar 3-4 jam tiap pertemuan. Kira-kira dua sampai tiga bulan. Terutama untuk buku-buku yang dituntut menampilkan ‘suara pribadinya’.

Sesi pertemuan itu tak seluruhnya terkait isi buku. Melainkan lebih dimanfaatkan untuk menggali pribadi si klien. Bisa saja ngobrol (seolah) ngalur ngidul, merekam gaya tertawa, memerhatikan caranya menelengkan kepala, menghitung jeda sebelum ia bicara. Mengamati baju, warna yang sering ia pakai, cara dandan, caranya menghalau distraksi ponsel. Apapun. Pengamatan ini lah yang sangat membantu.

researching

Dan tentu saja, sebelum bertemu, saya ngepo habis-habisan. Semua postingan personal di akun media sosial si klien wajib dibaca, dirasa-rasa, dikunyah, ditelan, dipikirkan, diendapkan. Biasanya saya memperhatikan diksi yang sering keluar dalam percakapan, dan kecenderungan mengambil sudut pandang atas suatu hal.

Dengan bantuan google, biasanya saya bisa menyisir hingga puluhan halaman. Atau ratusan. Tergantung popularitas si klien -google friendly atau tidak-. Kalau ada blog si klien, lebih yahud. Lebih memudahkan saya bekerja. Kalau tidak, postingan-postingan kecil dalam grup milis pun saya baca. Stalker abis deh, pokoknya! T_T

Sebagai tambahan, biasanya saya mewawancari orang-orang di sekitar si klien. Tentu saja, tanpa sepengetahuan si klien. Dan kadang-kadang, tanpa pengetahuan orang yang saya ajak bicara. Perbincangan mengalir begitu saja. Penting buat saya, mendapatkan citra si klien -tentu saja dari pihak lain-.

Dengan cara begitu, mudah-mudahan proses memindahkan isi kepala klien menjadi sebuah teks bisa lancar jaya.

Kalau sudah wawancara, sudah ngepo, biasanya begitu ada satu bab yang kelar, langsung saya kirimkan. Tujuannya biar segera mendapat konfirmasi. Kalau oke, lanjut dengan gaya begitu. Kalau tidak, ya sodorkan opsi baru. Kesediaan menerima kritik dan revisi jadi syarat mutlak. Da aku mah apa atuh? Cuma ghostwriter yang dibayar per halaman.  😀 

Ada beberapa penulis hebat yang saya tahu menolak menjadi ghostwriter. Mereka mengajukan opsi menjadi co-author agar nama masih terpampang. Bagi mereka, itu jejak penting. Betul. Saya setuju sekali.

Tapi sekali lagi, hidup itu pilihan. #Ishhh….

Saya cuma mau bilang, bekerja dalam diam itu asyik juga. Diem-diem aja, ga perlu kondang, tapi punya rekening bank yang lumayan. Kalau cuma butuh duit, enggak perlu nunggu jadi penulis novel best seller. Asal mau diam, punya kebesaran hati buat revisi berulang kali, mau menurunkan ego dan punya networking lumayan, sudah bisa kok jadi ghostwriter.

Tapi  tahun 2015, saya enggak ghostwriter-an lagi. Hiatus dulu sampai dua atau tiga tahun ke depan. bakal fokus ke karya sendiri, mudah-mudahan bisa launching paling telat pertengahan  2015.

Gitu sih.

Oh ya, kapan-kapan saya ngeblog tentang gimana caranya jadi ghostwriter dan dimana mencari klien potensial yang saling membutuhkan.

 

 

 

4 Replies to “Ghostwriter, jejaknya ada di rekening bank”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *