Haters always know…

Saat menjadi editor dan mengurus penerbitan buku Aku Edisi Baru-nya mbak Meuthia Rizki, saya ingat kami tertawa-tawa membahas para haters. Semakin tinggi posisi seseorang, maka biasanya semakin nambah juga haters-nya.

Ini maksudnya dia ya yang tambah beken dan ketambahan haters. Da saya mah apa atuh… 😀

Anyway, haters didefinisikan dengan manis sekali oleh Mbak Thia. Haters, katanya, adalah fans yang belum insyaf. Nyehehehe. Alasannya, “Because haters always know you. Mereka ‘ngepoin’ elu tiap saat. Sengaja enggak mutus hubungan, ngepoin medsos, hanya buat tahu apa yang bisa mereka cela.”

Fans juga gitu kan? Ngepo-in. Bedanya, haters ngepo buat nyela. Sementara fans, sebaliknya.  Makanya haters disebut fans yang belum insyaf.

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan ngobrol sore dengan seorang jenderal bintang empat. Rencananya, kami akan menggarap buku terbaru bapak ini. Obrolan yang sifatnya masih tahap awal itu biasanya memang saya manfaatkan sebisa mungkin untuk menggali banyak hal demi menjawab 5W1H nya.  Terutama motivasi penulisan buku.

Sempat tercetus istilah “thousand friends and zero enemy” yang dipopulerkan jenderal lainnya lagi saat masih berkuasa sebagai panglima tentara tertinggi negeri ini.

Bukan sekali dua kali ‘cita-cita’ itu dikritisi sebagai sesuatu yang naif, utopia sekaligus destruktif. Dengan konsep pikir ‘all is well’ tanpa persiapan cukup buat asumsi ‘worst case’, maka sebetulnya kita hanya sedang malas saja.

Dan kata jenderal bintang empat sore itu, “Kamu, enggak mungkin mendapatkan apa yang kamu mau dengan sungguh-sungguh, yang kamu cita-citakan dengan sepenuh hati, tanpa ada musuh, tanpa ada orang yang ga suka dengan apa yang kamu kerjakan.”

Betul. Sungguh.

Dalam mengejar sesuatu, saat fokus, maka kita akan selalu bertemu orang yang enggak suka. Haters. Ataupun musuh. Mereka siap ‘menjegal’ kapan saja, bahkan dengan cara-cara yang enggak terpikir sebelumnya.

Jangan terlalu dipikirin karena itu bakal jadi pikiran negatif yang justru malah bisa merusak usaha kita buat maju terus. Tapi cukup dengan ‘aware’ bahwa dalam mengejar impian, kita enggak bisa menyenangkan hati semua orang.

Akan ada orang yang enggak suka atas pilihan-pilihan kita. Itu pasti.  Dan ya, terima saja. Enggak usah terlalu berduka.

Sebab pada akhirnya, ini adalah urusan kita dan hidup kita, bukan mereka.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.