Kesurupan Ontosoroh di London

Ini tentang bagaimana sebuah buku memberikan kepercayaan diri pada perempuan akhir 20-an di negeri orang.

2007. London. Pada sebuah factory outlet  di Golders Green.  Sekitar pukul 3 sore.

Toko ramai oleh wajah-wajah bermata sipit, juga orang lokal lanjut usia. Di antara dengungan Bahasa Mandarin dan bahasa-bahasa lainnya, ada satu perempuan yang kegirangan menemukan jaket hitam seharga 6 pounds saja. Juga sebuah boot coklat yang menutup betis.  Sudah tiga hari ini ia kedinginan diterpa angin yang mendesau dan hujan yang kerap datang tanpa peringatan.

Ia baru tiba di London sekitar tiga hari bersama rombongan. Sebelum berangkat, seorang teman yang sempat lama di London bilang, sebaiknya santai saja tiba di kota itu sekitar Juli-Agustus. Udara cerah. Tak perlu bawa banyak baju hangat.

Namun pada hari pertama, tepat sejak keluar dari Bandara Heathrow, ia tahu bahwa temannya tidak memperhitungkan cuaca yang makin anomali dan tak tertib.  Dan ia juga sadar, dirinya tak cermat mengakses informasi cuaca paling mutakhir lantaran kepergian yang tergolong mendadak.

Maka sepotong jaket dan boot coklat seharga total 18 pounds itu betul-betul membuatnya girang.

Di toko itu, ada cermin besar. Seperti layaknya orang membeli baju, ia siap bercermin. tapi ada tulisan terpampang di situ: dilarang mencoba baju. Kalau ternyata ukuran tak pas, bisa dikembalikan dan ditukar dengan barang lain dengan harga yang sama, atau lebih murah, atau lebih mahal, dengan penyesuaian.

Aneh.  Toko baju tak mengizinkan calon pembelinya mencoba baju. Tak mungkin terjadi di Indonesia. Terutama di mal.

Tapi perempuan itu tak mau ribut. Ia bawa jaket dan boot itu ke kasir lalu membayarnya dengan dua lembar uang pecahan 10 pounds. Setelah menerima kembalian uang logam, ia kembali ke sudut toko, ingin mematut diri sebelum angkat kaki. Kalau tak pas, ia akan kembalikan barang-barang itu untuk ditukar.

Tiba di depan cermin, ia kenakan jaket . Juga menjajal boot.  Tak lama, mungkin sepuluh detik kemudian, ada lelaki tinggi besar menghampiri. Ia memakai baju hitam, ala seragam satpam. Lelaki itu menghardik dengan Bahasa Inggris yang baik dan terdengar sombong. Ia menunjuk tulisan itu dan menyebut si perempuan dengan istilah “dasar kalian orang asia yang illiterate“.

What? Illiterate, katanya? 

Perempuan itu memang tak pernah pede dengan kemampuan Bahasa Inggris-nya yang sekadar digunakan untuk membaca, dan bukan untuk berbicara. Tapi disebut illiterate sungguh membuatnya terluka. Sialan. Itu mungkin pertama kalinya ia menjejak daratan Eropa. Tapi paspor hijaunya tak polos-polos amat saat petugas imigrasi di Heathrow membubuhkan stempel kedatangan (menurut kepala rombongan, berbaju baik dan rapi yang mengesankan high class disertai kepala yang mendongak dan tatapan mata lurus ke depan membuat proses imigrasi di London jadi cepat, dan ia mematuhinya).  Perempuan itu juga menghabiskan banyak waktu untuk membaca, sejak melek kata di usia tiga. Lalu orang asing itu menuduhnya sebagai orang asia yang illiterate? Kurang ajar betul dia! Dan tentu saja, tak semua orang Inggris begitu.

Kemudian, entah ada angin apa, sekonyong-konyong, perempuan itu ingat Bumi Manusia, buku yang ia baca sampai nyaris melewatkan jam ujian kalkulus saat kuliah di Bandung. Terutama, ingat tokoh-tokoh di dalamnya. Minke. Annelies. Nyai Ontosoroh.

Utamanya, ia ingat Nyai. Tokoh fiktif yang dikorbankan ayahnya sendiri untuk menjadi gundik Belanda pada umur 14 tahun. Gara-gara itu Nyai dendam. Dan dengan berbekal dendam, ia berkeras belajar agar bisa mengajari anak-anaknya biar tak bernasib sama dengan dirinya. Karena belajar,  Nyai kemudian piawai mengurus perusahaan suaminya.  Tapi saat suami meninggal, ia tak punya hak apa-apa atas kerja kerasnya lantaran  ia cuma gundik pribumi.  Meski tahu itu, Nyai menolak berdamai dengan nasibnya, dan memilih berjuang memperjuangkan hak. Dan di akhir cerita, nyai tetaplah nyai, yang takluk di hadapan hukum kolonial belanda. Ia kehilangan segalanya. Pabrik dan anaknya.  Tapi setidaknya, ia berjuang sampai akhir.

Ingatan itu pelan-pelan menyadarkan si perempuan yang masih shock dengan hardikan sombong dari lelaki tinggi besar di sebuah FO di London. Seketika toko jadi hening. Hanya bisik-bisik yang tertangkap telinga, bukan lagi celoteh ramai perempuan yang asyik memilih barang. Dengan suara yang awalnya bergetar, ia memulai dengan “Excuse me, Sir.”

Lantas ia bicara tentang bagaimana ia sudah membayar dan karenanya jaket dan boot itu sudah sah jadi miliknya, legally. Dan karenanya, suka-suka dia mau ngapain aja dengan barang miliknya. Ia juga bilang bahwa tak sepantasnya lelaki itu menuduh masalah illiterate dan Asia. Itu sangat rendah, dan bertolak belakang dengan nilai-nilai Bangsa Inggris yang katanya agung.  Bahwa ia dan lelaki itu sedang menginjak tanah yang sama dan menikmati oksigen bersama sama, di Bumi Manusia, bukan sekadar tanah eropa, karena itu sudah sepatutnya ia mendapatkan perlakuan baik tanpa ungkapan rasis.  Bahwa  dia datang ke toko itu sebagai pembeli dan sudah berkontribusi pada gaji bulanan si lelaki itu dan sudah sepatutnya ia mendapatkan perlakuan yang baik. Silahkan menegur dengan halus jika memang kelakuan si perempuan itu tak pantas. Bukan hardikan penuh hinaan di depan banyak orang.

Dan percayakah kalian, perempuan itu berbahasa inggris dengan baik dan lancar? Semacam kerasukan roh dengan nilai TOEFL speaking sempurna 30 poin begitu? 😀

Lalu ia keluar dari toko. Dengan mengenakan jaket dan boot. Diiringi tepuk tangan para perempuan Asia yang awalnya asik memilih barang. Yang mungkin sempat terhina karena hardikan “Orang Asia yang illiterate” itu diucapkan sangat keras dalam nada yang tinggi hati.

Sekitar 50 meter dari FO,  perempuan itu berhenti di halte. Duduk. Ia membiarkan bis yang bisa membawanya ke Hyde Park berlalu begitu saja. Kejadian di FO membuatnya perlu berdiam sesaat.

Sebuah buku yang ia baca 10 tahun sebelumnya, terasa membuat perempuan itu punya kepercayaan diri sangat tinggi, sebagai orang Indonesia yang belum maju-maju banget tapi tetap tak boleh rendah diri.

Iya, perempuan itu saya.  Kejadian yang tertulis di atas betul-betul terjadi delapan tahun yang lalu, saat saya berkesempatan meliput 21st World Scout Jamboree,  yang kemudian bisa menikmati London dan sekitarnya, hingga 3 minggu, serta memborong banyak buku berharga 1 pounds.

Kenangan ini ditulis untuk merayakan #HariLiterasi #InternationalLiteracyDay 8 September 2015.
Let’s learn for life!

PS: Kamu juga punya pengalaman personal dengan buku? Let’s share. #AkudanBuku

 

2 Replies to “Kesurupan Ontosoroh di London”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *