Koordinasi Prapanca Kerinci: Urus SIUP TDP di Jakarta

Kata Sun Tzu, persiapan yang baik bisa memenangkan sebuah pasukan, bahkan sebelum pertarungan terjadi.

Senin pagi, tumpukan berkas terkait urusan SIUP TDP sudah saya siapkan.  Termasuk surat edaran terkait perubahan KBLI 2009 menjadi KBLI 2015, beserta salinannya. Saya hapalkan juga, persis sesuai kata-katanya. Jadi saya tau persis apa yang tertera di akte, dan apa yang di KBLI.

Sampai di kantor administrasi Jaksel, 08.25 WIB. Tanpa antrian. Saya bertemu lagi dengan petugas yang sama di hari Jumat. Ia masih mengingat saya. Kami berbincang sebentar, dan ia menyilakan saya langsung ke dalam, konsultasi dengan tim verifikasi teknis.

Petugas yang ditunjuk, sedang ke kamar mandi.  Saya menunggunya di antara tumpukan arsip dan meja-meja yang rapat. Seorang ibu berbaik hati menyodorkan kursi.

Tak lama, petugas itu datang. Kepada ia, saya tunjukkan akte pendirian. Saya perlihatkan juga salinan KBLI yang sudah saya tandai dengan stabilo. Saya tahu, ia punya. Tapi dengan ini saya juga mau bilang, bahwa saya mempelajari klasifikasi itu. 😀

Setelah konsultasi dan diskusi, ada tiga kemungkinan bidang usaha yang bisa dituliskan dalam SIUP. Lantas petugas itu langsung menelepon ketua satlak kecamatan. Dari jarak sekitar 10 langkah kaki, saya bisa mendengarkan perbincangan mereka.

Mereka bersepakat atas tiga kode KBLI yang bisa dicantumkan dalam SIUP baru sekaligus bisa diurus TDP-nya. Kode 7020, 4602, 6202 🙂

Alhamdulillah.

Proses perubahan SIUP saya lakukan saat itu juga. Online. Lalu saya pulang. Mengerjakan semua urusan tertunda lantaran urusan SIUP-TDP ini.  Begitu beres, saya menuju kantor administrasi Jaksel. Berniat untuk stand by di sana, ketimbang stand by di kecamatan.

Tak lama duduk di sana, sekitar jam 2-an, saya telepon Kecamatan. Katanya, “SIUP sudah jadi.”

Leganya. Kami meluncur lagi, melewati  rute Prapanca-Kerinci yang sudah menempel di otak. Jalanan lumayan padat di siang yang mendung itu.

Tapi rupanya, sampai di Kecamatan, masih saja ada yang kurang. Kelengkapan syarat untuk SIUP Perubahan rupanya sama seperti saat membuat SIUP untuk pertama kali. Tetap harus memberikan salinan akte pendirian dll. Astaga. Yang saya ubah kan SIUP, bukan akte. Jadi aktenya tetap sama seperti tiga hari lalu. Mereka sudah ada salinannya, saat saya membuat SIUP. Juga ada soft copynya.

“Enggak bisa”, katanya.

Malas berdebat, kami pulang. Kalau sudah dibilang “enggak sesuai ama aturan”, mau gimana? Fokus kami jadi cuma satu: mengambil seluruh kelengkapan, dan membuat copy-an lagi. Dani bergegas kembali ke kecamatan, berkejaran dengan waktu, agar SIUP bisa diambil sore itu juga. Di bawah hujan deras,  ia tiba juga di sana. Tepat 16.35 WIB.  It was five minutes late.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *