Media relations di mata millenials

Pada sebuah kesempatan menghadiri sebuah acara startup, dengan percaya diri saya menghampiri meja Media Registration. Meja itu kosong, tanpa tumpukan kertas rilis, atau daftar nama.

Saya ngebatin, mungkin semua sudah paperless, kan ini event startup, technology based gituh.

Seperti biasa, saya perkenalkan diri. Nama dan dari media mana.

Perempuan muda di hadapan saya melihat layar monitor laptop.

Lalu katanya,  “Enggak ada. Ini media? Eh sebentar…oh iya, enggak ada.”

Saya tunjukkan id, sekaligus memberikan kartu nama.

Dengan muka jutek, entah dia terganggu dari kesibukannya ber-snapchat or whatever, perempuan muda itu tak merespons apa-apa. Matanya juga tak memandang saya. Asli, pengen gue jitak. Bukan apa-apa, sepanjang saya jadi wartawan udah kenyang dengan ragam perlakuan teman-temen PR dari yang manis sampai nyebelin, dan yang satu ini, oalah….(entah, apa saya terlalu tua).

Padahal, id media yang saya bawa, merupakan media partner event tersebut.

Lalu ada perempuan yang lebih dewasa menghampiri saya, dan memberi solusi. Mempertemukan saya dengan salah satu panitia yang mengurusi media relations. Tanggapannya sangat baik, jauh berbeda dengan rekannya -yang duduk di meja media.  Lalu ia bilang, rilis akan dikirim karena cuma nge-print sedikit. Tidak berapa lama, ada email masuk. Tapi… ternyata yang dikirim ialah undangan,  yang sudah saya terima beberapa hari sebelumnya.

Oh. Rupanya enggak ada rilis.
Padahal siaran pers bisa mempermudah dan mempercepat pekerjaan ini.

Saya masuk ke ruangan, meneliti wajah-wajah peserta, dan sama sekali tak mengenali muka-muka wartawan yang biasanya meliput event-event start up. Ada satu, dari media online. Entah di mana lainnya.

Kontennya sendiri menurut saya lumayan oke buat liputan Sabtu yang emang biasanya sepi. Sayang, enggak didukung media relations yang oke.

Atau memang panitia enggak mengharapkan media datang? Merasa cukup dari twit peserta yang rata-rata millenials yang merasa keren ketika datang ke acara start up?

Entahlah. Sayang saja, kalau punya konten bagus tanpa publisitas yang memadai. Publisitas media mainstream, bagaimanapun, punya kadar kredibilitas tertentu. Dan peran media relations menjadi penting. Enggak perlu servis gimana-gimana banget kok, atau goodie bag, atau bahkan konsumsi untuk acara sampai sore. Enggak perlu begitu.

Cukup diawali dengan muka manis, senyum ramah, dan sambutan baik. Dan tentu saja, bisa membedakan mana yang rilis dan mana undangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *