Membuat proposal buku: menyederhanakan yang rumit

Sebuah proposal buku membantu kita untuk menelaah ulang: apa yang mau ditulis, dan untuk apa semua itu ditulis.

Pekan lalu menjadi rentetan hari yang lumayan sibuk. Saya beberapa kali bertemu orang-orang baru. Saya bercerita tentang apa itu Arkea, dan mereka menjelaskan cita-cita mereka. Buat saya, selalu menarik untuk bertemu dan berbincang dengan orang-orang baru. Apalagi jika bidang mereka betul-betul sesuatu yang baru. Selalu menarik untuk ‘membaca’ pemikiran dan minat banyak orang, mencari tahu kekhawatiran mereka, sekaligus mempelajari apa yang tak mereka sukai pada hari-hari sebelumnya.

Usai berbincang, maka obrolan-obrolan itu lah yang saya bawa pulang. Kadang-kadang, suasana celoteh mereka masih melekat di kepala hingga berjam-jam kemudian. Sembari kembali ke workshop Arkea di Palbatu, biasanya sudah mulai terpikirkan sejumlah ide. Hanya saja, masih scattered.

Agar segera move on ke urusan klien berikutnya, maka saya harus mendisiplinkan diri untuk segera membuat proposal buku. Tujuannya : segera menajamkan mau apa dan bagaimana. Termasuk berhitung ongkos produksi cetak dan sebagainya. (Uh, dollar masih menggila).

Banyak klien yang baru punya ide di kepala. Ini seru! Sebab  imajinasi tentang mau apa dan bagaimananya masih bisa sangat beragam dan banyak pilihan. Hanya saja, prosesnya akan setengah mati sungguh lama. Dari kacamata produksi, tentu ya. Hitungannya sekitar 3-4 bulan, sejak semua ide masih bersemayam di kepala lalu mewujud menjadi buku. Kemudian perjalanan baru akan dimulai setelah buku itu terbit. Bagaimana mendistribusikan dengan baik sehingga buku-buku itu bisa menjumpai pembaca yang tepat.

Hitungan di dalam negeri, sebuah buku yang baik punya pangsa pasar tak kurang dari 26.000 jika mengacu pada data tingkat literasi di Indonesia: mau dan mampu memahami buku.  Namun angka itu jauh lebih banyak jika mengacu pada jumlah kelas menengah di Indonesia yang menjadikan buku sebagai bagian dari lifestyle: termasuk menjadikan buku sebagai alat menaikkan status di media sosial. #eh

Karena itu, menganalisa pasar menjadi penting. Dengan menemukan (atau menciptakan) pasar yang tepat, idealisme awal (mungkin) tak perlu sepenuhnya luber dan mengikuti kehendak pasar agar buku ‘laku’. Sebab buku tak selalu harus jadi komoditas. Pada banyak orang, justru buku ialah alat untuk membuka banyak kemungkinan. Menulis proposal, termasuk menggambarkan kolaborasi apa saja yang bisa dan mungkin tercapai, atau dijajaki.

Anatomi proposal sebetulnya sederhana saja. Yang penting bisa menjawab 5W1H; What, Who, Where, When, Why dan How. Tapi justru itu kan PR nya?

Membuat yang rumit jadi sederhana merupakan sebuah kerumitan tersendiri.
😀

One Reply to “Membuat proposal buku: menyederhanakan yang rumit”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *