Mengamputasi Mengkudu

Posisi meja kerja di rumah, sengaja kuubah. Kali ini menghadap jendela. Workstation mungil memang semestinya banyak mendapatkan cahaya alami, terutama pagi. Makanya mendekat ke jendela. Dan setelah pindahan itu, di pagi hari, barulah menyadari: rumah ini menghadap ke utara. T_T

Jadi, begitulah. Pagi ini, sebetulnya sama dengan pagi-pagi sebelumnya, yang tak mendapatkan sorotan cahaya alami secara langsung.
Jam 6 pagi, sepeda-sepeda para bocah dan sejumlah gerobak sayur lalu lalang di depan rumah.
Satu jam kemudian, sepeda motor mulai berseliweran. Intensitasnya makin meningkat di pukul delapan.
Para pengendara roda dua, pekerja-pekerja di kawasan Kuningan dan Sudirman, mendominasi jalan depan rumah sebagai jalan tembus, menghindari kemacetan di jalanan utama Cassablanca.

Dan dalam keramaian itu aku baru sadar.
Pohon Mengkudu di rumah seberang, sudah rimbun kembali.  Rasanya baru kemarin pohon itu tak berdaun, lantaran ditebang.

Di depan rumah, Tirto seperti mengobrol dengan eyang uti nya yang dua hari lalu mengantarkan ia pulang ke Jakarta. “Lihat tuh Ti. Mengkudunya udah banyak daunnya.”

Eyang utinya menjawab, “Ya iya. Pohon ditebang, daunnya bisa tumbuh terus. Kan tidak dicabut.”

Batang-batang pohon mengkudu yang diamputasi telah menjadi tempat bertumbuhnya tunas-tunas baru. Daun-daunnya terus bertambah rimbun.

Yang penting, akarnya tidak dicabut.

Unit bisnis, somehow, kurasa-rasa seperti batang pohon, yang layak diamputasi, dan kemudian menjadi tempat bertumbuh hal-hal baru. Asalkan, akarnya tak dicabut. Mungkin begitu.

08.30
saatnya bergegas, bersiap, lalu menuju kantor. amputasi, mungkin tak seseram kedengarannya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *