SIUP oh SIUP- Pengalaman mengurus SIUP di Jakarta (part-1)

SIUP menjadi salah satu syarat badan usaha untuk menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP). Perjalanan menuju PKP lumayan penuh pelajaran. Tidak sulit, tapi membutuhkan kesabaran. Banyak printilannya. Dan buat saya, ini kesempatan berurusan dengan layanan publik.

Tapi, kenapa harus PKP? Kalau dari sisi bisnis, ya biar dapat kerjaan bernilai besar dari sesama PKP. Hehehe. Untuk dikukuhkan sebagai PKP, ini syaratnya:

  1. Harus punya akta perusahaan. Ya iya lah ya. ­čśÇ
  2. Kalau ada perubahan ya lengkapi dengan akta perubahan.
  3. Lalu, dilengkapi dengan SK Pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM.
  4. Mesti punya Surat Keterangan Domisili Perusahaan (dikeluarkan oleh PTSP Kelurahan) plus surat keterangan domisili gedung (kalau kantornya di gedung).
  5. SIUP
  6. TDP
  7. NPWP perusahaan dan salah satu pengurus.
  8. Surat keterangan terdaftar
  9. Foto kantor. Kalau menggunakan virtual office, mesti melampirkan foto rumah salah satu pengurus.
  10. KTP salah satu pengurus perusahaan dengan jabatan tertinggi.

Nah, kalau lihat syarat di atas, paling gampang emang urus NPWP. Jadi kalau sudah beres akta pendirian dan pengesahan, plus direkturnya udah punya NPWP orang pribadi, langsung aja cus bikin NPWP perusahaan. Gratis, pun cepat.

Yang agak terasa jadi PR ialah mengurus SIUP. Kenapa?

Yang pertama, pengajuan SIUP kecil (modal perusahaan disetor 50-500 juta) di Jakarta tidak simultan dengan TDP (tanda daftar perusahaan). Jadi, harus urus SIUP dulu, baru TDP. Satu selesai, baru bisa urus selanjutnya. Dulu, gosipnya urusan SIUP 2 minggu lalu TDP juga dua minggu. Saat browsing, saya juga dapat info itu dari link Cermati.com. Tapi, kalau belum coba, enggak boleh komen dong ya. ­čśÇ

Yang kedua, sistem online itu juga banyak tantangannya.
Cara daftar SIUP, sebetulnya mudah secara teknis, karena bisa online. Silakan langsung ke pelayanan.jakarta.go.id. Klik login, dan pilih menu pendaftaran. Ya, daftarnya juga online. Gampang banget, ga perlu konsultan atau calo. Lagipula cuma butuh data NPWP perusahaan, nama perusahaan, no hp dan email.  Lalu Anda akan mendapatkan login plus password. Kalau sudah masuk, klik izin baru. Silakan pilih sesuai kebutuhan, mau urus apa.

Saya, urus SIUP Kecil.

Kalau sekadar memasukkan data, mudah. Masukkan data sevalid mungkin, sesuai dengan akta pendirian (dan perubahannya jika ada) beserta surat pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia. Biasanya, ini sudah satu servis paket ekonomis dari Notaris (pembuatan akta dan pengurusan surat pengesahan).

PR-nya ialah memasukkan kategori usaha untuk memohon SIUP, utamanya bagi perusahaan yang aktanya masih umum. Kategori SIUP di situs pelayanan agak berbeda dengan yang tercatat di BPS (KBLI-Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia)

Nah, percobaan pemohonan SIUP via online, pertama kali saya kerjakan di akhir Agustus. Entah kenapa, saya enggak bisa upload. Kalaupun bisa, file tidak terbaca. Setiap malam saya cek, selalu tertera catatan website sedang maintenance. Barulah pada tanggal 1 Agustus 2016 bisa diupload sempurna. Upload foto warna 3×4, akta dan perubahaannya, surat pengesahan, dan surat keterangan kedudukan badan usaha.

Belakangan, saya ketemu trik-nya. Dan mulai paham, kenapa di percobaan awal kok sering gagal.

Akta pendirian perusahaan itu sekitar 25 halaman. Di scan satu per satu. Per halaman aja udah 2 MB. Lalu, akta perubahan itu 14 halaman. Di scan satu per satu juga. Jadi totalnya udah nyaris 80 MB. Akhirnya, mesti dicompress dulu, trus di merge. Atau merge dulu, baru compress, biar filenya jadi satu paket dan ukurannya dibawah 5MB. Saya pakai ilovepdf.com buat merge, dan compress biar ukuran file cukup kecil dan cepat diupload.

Begitu juga dengan surat pengesahan, harus digabung dulu jadi satu file.

Setelah semua berhasil diupload dengan sempurna (usahakan beres dalam waktu kurang dari 1 jam setelah kita login), maka selanjutnya  kita bisa memilih sesi pengambilan SIUP. Ada dua pilihan sesi. Saya pilih Selasa, tanggal 2 Agustus 2016, sesi pagi 08.00-12.00 WIB.

Selasa pagi, sebelum ke PTSP Kecamatan Kebayoran Baru, saya sempatkan intip dashboard pelayanan.jakarta.go id. katanya, proses belum bisa dilanjutkan karena belum ada berkas surat pengesahan. Duh. diupload sih udah, tapi menurut sistem, ada file yang belum masuk.

Baiklah. Kegagalan itu saya manfaatkan sebagai kesempatan untuk langsung datang ke kecamatan. Sembari konsultasi kategori usaha SIUP karena emang agak membingungkan. Kategori yang terdata di ptsp itu berbeda dengan di BPS.

Sampai di kecamatan sekitar pukul 10.00 WIB, ada beberapa orang duduk menunggu. Mesin antrian sedang rusak. Jadi saling pengertian aja untuk tahu diri enggak nyelak antrian.

Petugas yang melayani saya,  baik dan ramah. Belakangan, saya baru tahu namanya Annisa. Dia melihat akta pendirian dan perubahan dan membaca di akte itu salah satunya tercantum: jasa konsultasi promosi perusahaan. Kemudian ia berkonsultasi dengan tim-nya. Lalu, ia menyarankan saya untuk menambah izin Periklanan, selain penerbitan. Sebab di Jakarta, kita bisa urus sampai 3 izin usaha untuk satu SIUP. (Di Tangerang, kabarnya malah bisa lima). Woaaa..

Tentang izin periklanan itu, semalam sebelumnya saya baru rasan-rasan. Gara-gara liat lelang kerjaan pagu Rp3,5 Miliar buat kerjaan sosialisasi minat baca dengan siup periklanan. Hihihi. Kok ya jadi terasa diingatkan.

Berdasarkan saran Ibu Annisa,  saya ulang registrasi baru saat itu juga. Setelah brunch  semangkuk yamin yang sedap, dijual di seberang kantor Palyja, tak jauh dari Kecamatan Kebayoran Baru. Di bawah rindang pohon besar sambil minum teh botol, sukses juga semua data diunggah sebelum jam 12 siang. Maka SK dapat diambil pada 3 Agustus 2016, yang berarti Rabu, hari ini.

Tapi, subuh tadi, saat saya intip dashboard pelayanan.jakarta.go.id, lagi-lagi ada tulisan  proses tidak dapat dilanjutkan karena Jasa Periklanan tidak tertulis di akta pendirian ataupun perubahan.

#lah.
#kokgitubangetsih
#sabar

 

 

 

2 Replies to “SIUP oh SIUP- Pengalaman mengurus SIUP di Jakarta (part-1)”

  1. Ribet juga ya mengurus SIUP di Jakarta. Kalau di daerah saya masih tergolong mudah. Mungkin belum banyak pengusaha apa ya? Ayo, mbak, coba lagi, sampai bisa ­čśÇ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *