Menuju tiga…

Setiap ibu (mungkin) akan sedikit sentimentil pada hari ulang tahun anaknya. Oh, atau itu cuma saya saja? πŸ˜€

Meski postingan ini dipublikasikan pada hari kedua setelah tanggal lahir anakku, draft sudah siap H-1. Di antara kejaran tenggat sebuah buku yang (harus) launching minggu depan, juga keinginan menulis tentang Pramoedya Ananta Toer dalam rangka #90TahunPram untuk IDWriters.

Sayang, saya terlalu ciut menulis Pram. Haha. Jadilah posting-an ini yang terpublikasikan.

Jadi, secara kebetulan, anakku lahir di hari yang sama dengan Pram. Mudah-mudahan, kelak, bisa jadi orang baik dan pintar sebesar Pram.

Tapi mengenai nama, tak kebetulan. Aku dan bapaknya, menamai Tirto Adhi. Jauh-jauh hari. Mungkin saat bulan kedua kehamilan. Atau mungkin bulan pertama. Yang jelas, ide itu sudah jauh lebih lama mengendap di kepala bapaknya. Aku tahu, sebab ada rajah wajah TAS di punggung kanannya.

Jadi, aku setuju saja.

Meski tak berharap Tirto-ku akan jadi wartawan juga, seperti TAS. Toh kupikir, profesi untuknya juga belum ada saat ini. Ia bebas menjadi apa saja, menuruti kata hatinya.
Aku dan bapaknya juga sudah sepakat akan mencari surga kami sendiri.

Biar ia salah sesekali, berproses sesuai pilihannya sendiri.
Dan mungkin, kami akan kerap beradu argumentasi.

Itu nanti. Kalau dia sudah besar.

Kini, anak itu menjelang tiga. Dengan kosa kata yang luar biasa berkat tontonan di youtube. Dan memiliki kemakluman semacam, “Ibu kerja di laptop deh. Dedek bobok dekat ibu ya.”

Ia terbiasa dengan bunyi papan keyboard pada dini hari. Kadang-kadang ngelilir lalu melempar senyum. Dan tidur kembali.

Lain waktu,Β ia berkeliling rak supermarket dan menunjuk mainan. Tanpa sadar, pernah kuucap, “Mahal yang itu sih.”

Lalu katanya, “Oh, yang enggak mahal yang mana? Ibu abis duit? Ambil dong di ATM Mandiri.”

Nyehehehehe.

Suatu waktu, kepada mbah utinya dia bisa bercerita, tentang ibunya yang sibuk menulis di depan laptop. Ia bilang, “Dedek juga mau kerja. Pake laptop.”

Dan di malam hari, saat ku’paksa’ ia tidur cepat sebelum jam sembilan malam agar aku bisa nyaman terbagung dini hari, matanya akan membundar saat mendengarkan cerita kelinci dan kura-kura. Atau cerita ketika ia lahir di air. Atau cerita ketika cincin dan tosky masih sering lari-lari di lapangan bola dekat rumah di pesanggrahan. Atau cerita ketika ia naik kereta ke Bogor bersama si bapak. Atau cerita si marice yang hobi mogok.

Dia juga berdoa. “Bismillah. Dedek minta crv hitam ya. Dan rumah crv-nya.”
Seingatku, berminggu-minggu ia begitu.

Tapi malam menjelang tiga, doanya menjadi begini “Bismillah. Mana rumah crv dedek? Kok belum ada.”

Eaaaaa……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.