Merayakan penerbitan mandiri

Tahun ini, perhelatan akbar sekelas Frankfurt Book Fair sudah memberi tempat untuk self publishing alias penerbitan mandiri.

Buku yang diterbitkan secara mandiri, kadang dinilai kurang bergengsi. Kritik utama atas buku-buku yang diterbitkan secara mandiri ialah akurasi konten dan kualitas naskah. Bayangkan saja, jika saat ini banyak orang -tanpa latar belakang ilmu yang memadai- bicara tentang ebola?

Namun dari masa ke masa, kita belajar bahwa tak sebaiknya main hajar kritik untuk buku-buku yang diterbikan secara mandiri. Indonesia mencatat Dewi Dee Lestari. Tahun 2000-an, penyanyi anggota trio Rida Sita Dewi ini menerbitkan bukunya secara mandiri. Supernova: Ksatria, Puteri & Bintang Jatuh dijual melalui kampus ke kampus, lalu ramai diperbincangkan. Kemudian, seri-seri Supernova berikutnya diakuisisi penerbit besar. Dee tak lagi menerbitkannya secara mandiri. Mungkin, karena penerbitan mandiri butuh energi tak sedikit.

Self-publishing is hard work
Self Publishing is a hard work. FOTO: theguardian.com

Selain berkutat dengan naskah, seseorang yang menerbitkan bukunya secara mandiri juga harus mau berpromosi. Bahkan, mengongkosi produksi sendiri. Biaya cetak hingga biaya distribusi. Ini tentu tidak mudah. Ada pengarang yang tak ingin tampil di permukaan. Banyak, malah!

Bahayanya, ketika pengarang berkualitas jarang muncul ke permukaan,

justru banyak penulis berkualitas begitu-begitu saja yang tampil heboh dan kadang-kadang overrated. Orang yang punya akun media sosial dengan banyak pengikut langsung dipinang penerbit besar. Hasilnya ya mentok, meski dipoles. Jadi, kalau bicara kualitas, tak zamannya lagi membuat dikotomi: yang self publishing pasti jelek dan yang berlabel penerbit mapan pasti berkualitas.

Fenomena dunia

Ketika teknologi informasi dan platform social media memunculkan selebritas-selebritas baru, arus self publishing terus menderas. Laporan Nielsen Bookscan menunjukkan, bisnis penerbitan mandiri baik untuk e-book ataupun POD tumbuh sekitar 79% pada 2013 di Inggris.

Saking besarnya industri itu di Inggris,orang yang tertarik menerbitkan buku sendiri bisa membandingkan ragam servis penerbitan melalui situs writersandartists.co.uk. Persis seperti ketika Anda ingin membeli tiket pesawat dan membandingkan harganya di situs-situs semacam traveloka, skyscanner ataupun wego.

Adapun Amazon Amerika Serikat mencatat, sekitar 25-30% penjualan e- book mereka merupakan e-book yang diterbitkan secara mandiri.

Mengutip kata Direktur FBF 2014 Juergen Boos kepada situs Publisher Weekly, “Kini, semakin banyak orang yang ingin menulis buku mereka sendiri. Dan dengan perkembangan teknologi saat ini, mereka juga semakin mudahmenemukan calon pembacanya.”

Efek teknologi

Seseorang yang memiliki akun Twitter dengan follower puluhan ribu misalnya, tentu mudah menjual bukunya sendiri. Apalagi saat ini, internet membuka peluang pemasaran lintas geografi. Bukankah Facebook sudah lama menjadi platform social media untuk berjualan produk ataupun ajakan MLM?

Pengarang yang rajin, bisa membuat video book trailer singkat di Youtube mengenai bukunya kemudian menyebarkan melalui akun media sosial, termasuk LinkedIn dan Google+. Foto-foto buku yang diatur dengan komposisi menarik bisa jadi iklan menggoda melalui Instagram dan Pinterest. Semuanya cukup modal pulsa saja.

POD-30daysbook
Memproduksi buku saat ini sudah semudah membuat kopi. FOTO:30daysbook.com

Selain kemudahan berpromosi melalui media sosial, teknologi Print on Demand(POD) semakin meringankan produksi dalam skala kecil. Mau cetak 1 atau 2 buku, tidak masalah. Harga per eksemplar relatif mahal, untuk sebuah buku sekitar 200 halaman butuh Rp30.000- Rp40.000 per eksemplar. Bisa lah buat cek pasar sebelum memutuskan produksi skala besar. (Dengan spesifikasi serupa diatas, produksi cetak offseet hanya butuh sekitar Rp8.000 per eksemplar)

Secara global, penerbitan mandiri meningkat namun angka penjualan e-book cenderung stagnan. Bahkan di Amerika Serikat, penjualan e-book justru turun 5% pada 2013. Nial McCarthy, kontributor untuk Forbes menulis, pasar e-book global bernilai USD 8,5 juta, dibandingkan dengan pasar buku fisik yang masih mendominasi, dengan nilai sebesar USD53,9 juta.

“Banyak orang meramalkan kematian buku fisik seiring dengan munculnya e-book. Tapi bukan itu yang kita lihat setahun ini. Pada akhirnya, yang penting ialah kontennya, tak peduli apakah itu menggunakan media cetak, e-book bahkan video ataupun format digital lainnya,” imbuh Boos.

6 Replies to “Merayakan penerbitan mandiri”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *