Apa yang bisa kita pelajari dari antrian di warung mie

Seminggu terakhir, saya berkali-kali masuk daftar tunggu -waiting list. Untuk urusan-urusan penting, ataupun tidak terlalu esensial. Mulai dari pesan taksi, urusan bank, hingga complain tv berbayar.

Yang terbaru, Minggu lalu. Saat meneduh menjelang hujan besar. Lantaran malas basah, saya mampir ke kedai yang juga floris, ketika langit begitu gelap dan sudah mulai gerimis. Letaknya, sekitaran Mampang Prapatan.

Dengan interior bergaya retro,  di sana Indomie disajikan sama sesuai dengan yang terlihat pada kemasannya. Dijual Rp15.000 – 20.000 per porsi.

Begitu masuk, saya ditegur dengan ramah. “Mbak, sudah daftar?”

Hah.

Laki-laki yang rupanya bertugas serabutan, -kasir, penyapu lantai, pengantar makanan, sekaligus juga bertugas membersihkan meja- itu, menunjuk ke antrian yang sedang duduk di depan kedai. Hah! Beneran ada yang antri!

Saya kembali ke depan. Lalu melihat daftar tunggu. Ada dua nama belum mendapatkan meja. Berarti saya di urutan ke-3.

Duh. Niat segera meneduh jadi tak kesampaian.  Bayangan saya tentang teh panas yang bakal menghangatkan badan -dan perasaan- langsung buyar.

Dari kaca di depan kedai, saya lihat ada meja paling kecil di ruangan itu,  dengan 3 bangku. Saya lihat pada daftar tunggu, dua nama yang belum mendapatkan kursi butuh 5 dan 7 bangku.

“Mas, maaf nih. Meja kecil itu untuk tamu juga?

“Iya.”

“Dua nama ini bisa duduk di situ, enggak?”

“Enggak, sih. Tapi mbak enggak bisa masuk, karena harus antri.”

“O iya ya. Saya kan daftar belakangan. Tapi saya daftar untuk dua orang. Saya bisa pakai meja kecil itu dong.”

Kadang-kadang yang kita butuhkan untuk mendapatkan sesuatu  ialah PERNYATAAN yang manis, yang ramah, yang diucapkan dengan senyum, bukan PERTANYAAN yang menyiratkan keraguan.

Tanpa menjawab lagi, dia mempersilahkan saya masuk tanpa mengomel. Tentu saja, saya boleh duduk di situ. Karena memang saya cuma butuh dua bangku. Mendahului dua nama yang masih harus menunggu karena membawa rombongan, 5 dan 7 orang.   

Mie

Berhasil masuk ke dalam  kedai membuat saya masuk ke daftar tunggu selanjutnya. Sebab pesanan makanan diproses berdasarkan sistem First In, First Serve. Siapa yang duluan pesan, dia dapat makanan duluan. No problem. Saya bisa menunggu dengan tenang. Karena tahu, makanan pasti datang.

Kadang-kadang, kita cenderung sabar menanti untuk hal-hal yang sudah pasti. 

Apalagi, tujuan utama saya berteduh di kedai ini sudah tercapai.  Bisa duduk saja, sudah cukup nyaman. Dari dalam, saya lihat orang-orang berdatangan. Beberapa duduk di bangku di luar kedai, sambil memandang ke dalam lewat kaca yang tembus pandang.

Di sisi ruangan yang saya tempati, ada dua meja berkapasitas empat orang. Keduanya, ditempati para pelanggan yang sudah selesai makan, tapi masih bersantai. Kedua meja itu, masing-masing cuma dipakai oleh dua orang. Pasangan yang saling diam dan khusyuk dengan ponsel masing-masing. Serta dua lelaki yang nyambi nonton siaran bola di televisi.

Tak ada satu pun staf kedai yang mengusir mereka, meski santapan telah kandas dan ada antrian orang di luar kedai, dalam hujan yang deras. Memang sih, orang-orang yang sedang antri di luar kedai itu tidak kehujanan. Tapi dari raut muka dan gestur tubuh, saya bisa tahu mereka berharap bisa segera masuk. ke dalam.

Pesanan saya datang, 25 menit kemudian. Tersaji di meja, semangkuk mie instan  yang bisa kita masak di rumah. Dua puluh lima menit! Dengan tampilan persis seperti pada gambar. Ada paha ayam yang segera saya pisahkan karena tak doyan. Ada kentang. Ada wortel. Ada irisan daun bawang. Ya, namanya juga Mie Mirip. Memang dibuat mirip sesuai foto di kemasan.

Mie Mirip
Berhubung ponsel lowbatt, jadilah saya ambil foto Mie Mirip dari situs Suara[dot]com.
Rasanya, tak terlalu berkesan. Sebagai mantan anak kos-an di akhir tahun 2000-an, indomie dengan telor yang direbus bersama mi dan sedikit potongan sawi khas warung indomie, masih lebih lekker.

Kadang-kadang,  sesuatu yang awalnya terlihat ideal, bisa terasa menyakitkan ketika tak sesuai harapan. Sedangkan yang tak ideal lebih bisa ditelan, diterima, dan dinikmati tanpa harus merasa kecolongan.

Meski begitu, saya mengakui, ini bisnis bagus. Apa susahnya memasak indomie? Menambahinya dengan segala ‘aksesoris’ lalu meningkatkan harga jual.

Teh panas dan mie saya sudah habis setengah porsi ketika akhirnya pemakai dua meja itu berdiri, beranjak ke kasir dan membayar. Lalu dengan gemas, orang yang sudah antri duluan ketimbang saya, masuk ke dalam kedai. Duduk di salah satu meja yang sama sekali belum dirapikan. Salah satu dari mereka, menyeret bangku milik meja sebelahnya yang sejak tadi tersia-sia.

Tak lama kemudian, rombongan perempuan-perempuan muda turun dari lantai dua. Lalu riuh berceloteh ini itu.

Kedai gaya retro ini tampaknya memang menyasar anak muda yang butuh nongkrong bareng teman, atau pacar, atau gebetan. Tersedia backdrop dan segala properti untuk foto-foto seru bersama. Enggak perlu ke studio foto yang memang sudah makin jarang di kota ini.

Rombongan perempuan ABG yang bersantap di lantai dua itu pun semangat memaksimalkan fasilitas backdrop. Dengan heboh mereka asyik memilih-milih properti foto. Kemudian, dengan manis salah satu dari mereka menyodorkan ponsel kepada si mas yang bekerja serabutan – kasir, penyapu kafe, pengantar makanan, sekaligus juga bertugas membersihkan meja dan mendata antrian. Dengan sigap, si mas mengambil foto. Say cheesee….!

Lantas hujan beranjak pergi, saya ikut angkat kaki. Dan di depan kedai, masih banyak orang antri.

Akreditasi:
Foto sajian mie diambil dari situs Suara[dot]com.
Klik foto atau tautan ini untuk membaca reviewnya.

Cerita itu berceceran di mana-mana

Dan aku memungutnya saja. Kadang-kadang, lupa bilang terima kasih, malah!

Kadang-kadang, kalau sedang lelah dan tak ada ide, sementara uang muka honor penulisan sudah masuk rekening, aku cukup keluyuran. Namanya juga sudah dibayar. Masa mau diam-diam saja menunggu ide datang?

Maka aku menjemputnya. Ke mana saja. Ke taman. Ke mal. Ke pasar. Kadang-kadang, dapat ide. Kadang- kadang pulang dengan kepala masih sama seperti sebelumnya.

Cara lain yang seringkali jitu, berbincang dengan supir taksi.

Demi keamanan, aku pilih yang biru. Dan entah kenapa, supir armada burung biru itu seringkali lucu-lucu.

 

“Aku ini loh, Mbak. Nganter orang dari mal ke mal. Tiga bulan di Jakarta, aku hapal deh mal di sini. Tapi aku itu enggak tahu kayak apa sih mal iku? Sebanyak apa barang-barang yang dijual?  Abis nyupir, capek. Maunya langsung melungker nang mes. Kapan-kapan, aku mesti ke mal.”

-Kisah seorang supir taksi asal pekalongan yang berhenti jadi supir truk pantura dan ikut tetangganya ke Jakarta

 

Lalu, di lain waktu, ketika taksi melintas jalan di depan Taman Menteng, dan lalu lintas tersendat gara-gara deretan mobil parkir hampir menghabiskan setengah badan jalan, aku jadi tahu si supir taksi rupanya mantan TKI di Korea.

“Ini tuh kalau dilaporkan, besoknya kosong. Lalu begini lagi. Pasti preman yang main. Kalau di Korea, enggak ada yang begini nih. Kalau kita menerobos lampu merah pun, tak ada polisi datang menghampiri.  Tapi akhir bulan, ada tagihan, kita bisa bayar di ATM. Kalau tak bayar, bulan depannya akan otomatis terdebet. Padahal Korea itu merdeka kan enggak jauh-jauh dari Indonesia merdeka ya.”

-Kisah seorang supir taksi yang membeli tanah di kawasan Pasar Rebo setelah 5 tahun jadi TKI di Korea, lalu membangun kontrakan 18 pintu. Ia menyupir dua hari sekali, untuk kesibukan di sela-sela kewajiban mengecek pompa air kontrakan dan membayar listrik.

Lalu, di lain waktu, saat pulang wawancara dari Purwakarta dan aku naik taksi dari Cilandak. Si supir asyik bercerita kebiasannya mangkal di tempat itu dan di sebuah kawasan di Bintaro.

“Kalau di Bintaro itu, pelanggan saya para PSK. Bajunya seperti kurang bahan semua. Tapi baik-baik. Ya, saya anggap saja adek-adekan. Masih sayang istri di rumah. Dulu dapatnya susah.”

-Cerita supir taksi asal Tegal yang selalu ingat TEBET gara-gara penumpangnya salah omong jadi BETET.

Lumayan ya, obrolan di taksi sungguh-sungguh bikin hari jadi berwarna. Itu cuma tiga diantaranya. Lalu kupungut satu demi satu, dan jadilah sebuah cerita pesanan.

Toko Buku Terakhir

Cuma itu buku-buku terakhir, Pak. Cukup untuk satu keranjang besar. Sebaiknya kita obral saja seperti sebelumnya. Atau kita beri harga mahal? Biasanya orang mau membayar lebih untuk sepotong kenangan.

Alis Pak Murdyawan meninggi sebelah. Laki-laki berusia setengah abad itu memandangku, lalu bola matanya bergerak ke arah kanan.  “Hm….enggak ada bukunya Jonju itu kan?”

“Enggak Pak.”

“Ya sudah, kita pasang harga mahal. Kamu jangan lupa beri label ‘Last Edition that you wouldn’t want to miss’. Saya tinggal ya Win.”

Aku menyentuh layar ponsel. Membuka kuncinya, lalu menghubungi Keila. Meminta ia bergegas membuat label besar. Soft copy dan hard copy. Keila juga kuminta membuat e-poster untuk disebar di media sosial. Instagram dan Pinterest. Buku-buku ini harus terlihat ekslusif, koleksi terbatas, artefak.

Kalau apartemenku cukup lega, sudah kubawa semua buku-buku itu. Tapi tahun ini, harga sewa apartemen yang bisa kubayar hanya sebatas 10 meter persegi saja. Sudah lama aku tak punya rak buku. Kebanyakan kisah kusimpan dalam tablet. Bit demi bit menambah sesak hard disk portable, tapi jelas jauh lebih ringkas ketimbang menyimpan buku di rak.

Tak ada bau kertas seperti yang suka kuciumi saat kecil dulu.

Tak ada bekas ceceran kopi.

Tak ada ilustrasi indah karya Beatrix Potter yang bisa kuelus dengan jemari, yang warna-warnanya mengingatkanku pada baju tidur ibu saat mendongeng untukku.

Satu-satunya buku yang kusimpan ialah Bumi Manusia. Itu penting, karena ibu dan bapakku menamaiku seperti tokoh di kisah itu. Barangkali itu juga alasan mereka menikah: karena membaca buku yang sama. Alasan remeh temeh yang tak laku di zamanku.

Ting!

Notifikasi email dari Keila. Ia memberikan tiga opsi desain poster elektronik yang bisa segar kusebarkan melalui akun media sosial. Katanya, “Sebentar lagi kubuatkan motion picture. Tunggu.”

Keila sangat produktif. Dalam hitungan menit, ia bisa menggambar, lalu mewarnainya dengan cat air. Lalu, mengunggahnya ke akun Instagram. Kalau cuma membuat poster ataupun video animasi, gampang.

Aku dan Keila tinggal berdua saja menemani Pak Murdyawan menjaga toko buku ini. Toko buku kecil yang menjual buku-buku karya penulis lokal. Ada puisi. Ada prosa. Ada buku filsafat. Bahkan kumpulan twit para pemikir. Mereka sudah tak sempat lagi menulis panjang-panjang. Cukup twit sepanjang hari, berseri-seri.  Toh yang penting, pesannya sampai.

Ting!

Email baru dari Keila. Ada tautan video yang ia janjikan.  Musiknya ceria. Tak menandakan duka toko kecil yang akan tutup selamanya. New End.

Aku pun bergegas.
Posting. Share.

Sebelum esok tiba, rasanya aku ingin sendiri.  Atau barangkali, sesorean ini aku akan menelepon ibu. Lalu berbincang tentang buku-buku di masa lalu.