Sebab yang berarti, ya saat ini…

Pernah pada satu masa, saya berada di sekeliling manusia-manusia yang berlari begitu cepat. Mau kejar impian, katanya. Mumpung anak masih kecil, butuhnya kan nanti.

Betul.

Tapi, perasaan saya, harusnya ada cara yang lebih selaras. Harusnya ya. Saya juga belum nemu bagaimana. Tapi harusnya ada. Cara yang selaras, harmonis.

Ketika dalam keselarasan, upaya kecil kita bisa menghasilkan hal yang jauh lebih besar. Dan karena effort kecil itu mengundang hal besar, maka tak perlu lagi menunda hal-hal esensial yang terkesan kecil namun bisa disyukuri setiap saat.

Enggak perlu bilang ‘nanti, ya…ibu lagi repot. sebentar ya.”

Lalu tiba-tiba tanpa terasa, makhluk mungil yang dulu ringkih itu sudah bisa bilang apa maunya, dan sesekali protes.

“Mau sama ibuuuuu. Aku kan cuma mau digendong sebentar sama ibu.”

Zing!

Well, jadi perempuan itu, buat saya, sudah rumit.
Rumit lah..mesti siap pembalut dan efek emosial gegara hormon 😀
Lalu menjadi perempuan menikah itu setingkat di atas rumit.
Kadang-kadang bisa bikin lupa sama diri sendiri demi kompromi dan cinta mati.

Lalu menjadi ibu itu kompleks. Ya belajarnya, ya bahagianya.

Hinga kemudian ada satu fase, dimana badan, hati dan pikiran seperti terbelah tiga.
Meski inginnya tak begitu.
Meski inginnya semua hal yang dilakukan mewakili identitas yang sama.
Saya sebagai saya, dengan atribut sudah menikah dan punya anak.

Tapi kenyataannya, kaadang-kadang tidak begitu.
As me.
As a wife.
As a mom.

Kalau semua selaras, dua atribut itu tak mengacaukan identitas personal sehingga tak perlu dipilah, tak perlu salah satunya seolah disembunyikan atau ditangguhkan, untuk memenuhi hal yang satunya lagi.

Kalau semua selaras, maka saat ini ialah saat ini.
Tak lagi menunggu nanti, atau menyesali hari yang telah lewat. Sebab satu dongeng sebelum tidur malam ini tak sama lagi artinya dengan dongeng nanti malam. Selamanya akan jadi utang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *