Sekrup Sains Dunia #arsip

Catatan: Mumpung nemu kerjaan lama, diarsipkan saja. 
Wawancara dilakukan via email, dan diterbitkan pada 2010. 
Jadi tentu saja, sudah banyak perkembangan dan kebaruan dari si empunya cerita. 

Taruna Ikrar,
Sekrup Sains Dunia

Di Indonesia, karier dokter Taruna Ikrar cuma sampai pegawai tidak tetap (PTT).
Di Amerika Serikat, ia tergabung dalam tim ilmuwan elite sebagai investigator otak manusia.

Jauh-jauh dari Indonesia ke Amerika Serikat, Taruna Ikrar menorehkan jejak penting pada dunia kedokteran internasional. Dialah pemegang paten metode pemetaan otak manusia-dipatenkan 2009.

Temuannya menjadi penting dalam perkembangan ilmu saraf modern. Bagaimanapun, misteri rangkaian rahasia dari organisasi dan fungsi otak harus dipecahkan. Metode temuan Taruna berhasil menggambarkan dinamika pada otak manusia dengan rinci.

“Sekarang kami sedang fokus pada investigasi fungsi otak manusia, serta hubungannya dengan sirkuit otak dan berbagai jenis penyakit otak. Misalnya alzhaimer, parkinson, paralyses (kelumpuhan), serta
ketergantungan narkotika dan psikotropika,” tulis Taruna melalui surat elektronik, pekan lalu.

Setelah fungsional sejumlah penyakit itudiketahui, lanjut Taruna, barulah teknik pengobatan terbaru seperti terapi gen dan terapi sel punca bisa diterapkan. Untuk memahami tema besar itu, seorang investigator otak manusia dituntut memiliki keahlian yang sangat spesifik. Antara lain memahami
pencitraan pemetaan otak, laser photostimulalion, sampai aspek genetika molekuler. Makanya, tidak banyak ahli di dunia yang menguasai teknik tersebut. Taruna mengaku beruntung mampu melakukannya dengan baik.

Lentingan

Taruna datang Ice AS pada 2008. Saat itu, ia baru saja kelar pendidikan di Jepang. Taruna beroleh jalur khusus, diundang pemerintah AS untuk bergabung sebagai peneliti pasca-doktoral di Departemen
Inter-disipliner Neurosains di Universitas California, Irvine, AS.

Maklum, Taruna memiliki apa yang mereka butuhkan saat itu. Dialah pakar dalam penggunaan patch damp, paham rekayasa genetika serta memiliki keahlian klinis. Selama lima tahun di Jepang, Taruna mendapat banyak pengalaman. Dia mendalami pemasangan alat pacu jantung dan pengobatan berbagai penyakit jantung. Dia juga mendalami teknik whole cell recording, semacam teknik untuk mengetahui dinamika di dalam sel tubuh.

Sebagai kardiolog. Taruna sempat dikirim Univer-sitas Niigata ke Universitas Bologna di Italia, salah satu universitas tertua di dunia. Di sana Taruna belajar memahami lebih jauh tentang arhythmia
pada penyakit jantung. Lantaran itu, kehadiran Taruna di AS melengkapi kekuatan tim peneliti
di Universitas California. Dia menjadi kardiolog pertama yang bergabung ke pusat penelitian otak terbesar di dunia itu-skala universitas.

Tanggung jawab Taruna bertambah sejak November 2009. Dia dipromosikan menjadi Wakil Direktur Progam Paska-doktoral di Universitas California. Taruna juga dipilih mengepalai proyek penelitian
pemetaan sirkuit otak dan genotipe di laboratorium itu.

Posyandu

Sebelum berkiprah di pentas dunia. Taruna lebih dulu berbakti di Puskesmas Jatinegara, Jakarta, sejak 2000. Dokter asal Makassar ini bekerja selama tiga tahun di sana. Dia menjabat kepala puskesmas meski saat itu statusnya ialah pegawai tidak tetap (PTT).

Di Jatinegara, Taruna mengembangkan sistem pusat pelayanan kesehatan terpadu (posyandu). Di tangannya, posyandu menjalankan tiga fungsi, yaitu untuk pendidikan dan pengaderan, kebersamaan, serta pencegahan penyakit dan kekurangan gizi. Dia meramu tiga fungsi utama itu di tengah-tengah rasa kebersamaan masyarakat Jakarta yang mulai pupus. Lantaran itu posyandu ala Taruna menjadi percontohan nasional.

“Sebagai orang yang berasal dari daerah, bisa berkarier di Jakarta sebetulnya sudah luar biasa. Apalagi bisa merasakan kedahsyatan pengembangan diri di pusat-pusat keunggulan sains dan teknologi dunia,
seperti Jepang, Italia, dan AS,” lanjut lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar, itu.

Taruna mengaku siap pulang kapan pun Indonesia memanggilnya.”Jika Tanah Air membutuhkan keterampilan yang saya miliki, dengan senang hati saya akan kembali. Saya berharap mudah-mudahan bisa menjadi salah satu sekrup untuk kemajuan sains dan teknologi di Indonesia,” tegasnya.

Diaspora
Hampir tujuh tahun, Taruna lepas dari Tanah Air. Ia, seperti halnya peneliti Indonesia di luar negeri, seperti biji suplir yang berdiaspora tumbuh di tempat asing dengan kebaruan mereka. Namun
semakin jauh pengembaraannya dari kampung halaman, Taruna justru bertambah yakin potensi Indonesia untuk berdiri sejajar dengan negara-negara maju di dunia.

“Kita-punya banyak keunggulan. Sumber daya alam luar biasa, penduduk terbesar keempat di dunia dengan kualitas yang tidak kalah, plus kekayaan budaya dan adat istiadat. Tinggal bagaimana manajemennya saja,” jelas Taruna.

Niatnya membenahi Indonesia, terutama dalam membangkitkan daya saing bangsa, ber-hilir pada organisasi Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) yang diresmikan pada 2009. Pada organisasi itu, Taruna didapuk sebagai Koordinator I4 Benua Amerika. Katanya, organisasi itu diharapkan bisa menjadi jejaring bagi ilmuwan asal Indonesia yang tersebar di dunia.

Bergabung dengan I4 tidak membuat Taruna canggung. Sejak remaja, ia biasa berorganisasi. Antara lain. Taruna sempat dipercaya sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Agung (MPA) Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) periode 1993-1995. Taruna juga pernah menjabat Ketua Pengurus Besar (PB) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) 1997-1999 dan Wakil Ketua Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) periode 2000-2003.

Aktivis ini juga aktif dalam fase reformasi 1998. Karena itu, Taruna akrab dengan Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR Anas Urbaningrum sampai Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alfian Mallarangeng. Namun, Taruna tidak lantas terjun ke dunia politik yang ingar-bingar. Dia justru menyepi ke dunia penelitian yang senyap. Oleh rekan aktivisnya yang kini berpolitik praktis, Taruna dilabeli dokter politik sekaligus dokter penyakit.
“Memang kesannya kontradiktif karena sekarang saya menggeluti hal yang bersifat spesifik, sedangkan dalam dunia aktivis dan organisasi, hal yang dilakukan umumnya bersifat makro. Tapi buat saya, itu memperkaya wawasan,” lanjut Taruna yang mengaku terinspirasi oleh buku Global Paradox karya John Naisbitt.

Oktober 2009, Taruna sempat bertemu Anas dan sejumlah wakil rakyat di DPR. Pada pertemuan nostalgia itu Taruna sempat menggelontorkan ide dan informasi terkini mengenai aspek biologi molekuler dalam konteks global. Dalam penilaian Taruna, seorang pengambil kebijakan dituntut
paham sains dan teknologi terkini.

“Karena perang di masa depan bukan lagi perkara bom atom, senjata laras, dan panser. Tapi bagaimana menghadapi pemanasan global, melawan senjata biologis pemusnah massal, serta melawan penyakit menular berupa bakteri dan virus hasil mutasi yang sangat berbahaya. Contohnya swine flu, flu burung, AIDS, dan kolera,” tutup Taruna.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *