#TerimaKasihBandaNeira

Makin bertambah usia, makin sering kita menemui perpisahan demi perpisahan.

Teman yang pindah kota ikut bapak ibunya. Sahabat yang melanjutkan kuliah di luar negeri.Teman lama yang tutup usia. Teman dekat yang menikah dan ikut suami, tak sekota lagi. Penyanyi idola yang meninggal. Acara wisuda yang bikin geng tercerai berai. Teman kantor yang memilih pindah. Serial drama Jepang yang berakhir. Atlet yang pensiun. Majalah yang tak terbit lagi. Toko buku yang tutup.

Kita ditinggalkan. Atau kita meninggalkan.
Semuanya bisa bikin patah hati.

Tapi, ada untungnya juga bertambah tua. Sebab semakin tambah usia, kadang kita bisa melihat perpisahan sama normalnya dengan perjumpaan awal. Lama-lama kita bisa melihatnya sebagai sebuah kenetralan. Dan yang abadi ialah kenangan.

Banda Neira bubar.

Seorang teman mengaku sedih, saat Banda Neira menyatakan bubar secara resmi, Jumat (23/12) dini hari. Kami berbincang semalam, sebab tiga pekan sebelumnya, ia memergoki saya mengulang-ulang “Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti” dari YouTube. Saya selalu suka video rekaman live mereka di Studio Kua Etnika, Yogyakarta.

Waktu itu saya bilang, “Iya nih lagu ini bikin semangat.”
Perhatikan saja liriknya:

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi

Bukankah lirik itu jadi semacam mantra yang menguatkan? 😀

Selain itu, saya memang paling suka komposisi lagu ini. Mendengarkan ini semacam meyakini. #halah

Banda Neira, saya tahu dari YouTube, akhir 2014, dari kolega yang lebih muda. Waktu itu kami sedang mempersiapkan sebuah acara peluncuran website penulis Indonesia. Jadi, saat acara peluncuran, ingin sekali ada penampilan. Dari sejumlah nama, Banda Neira diusulkan oleh mayoritas dari kami.

Lalu saya begitu saja jatuh cinta dengan “Rindu”, sebuah musikalisasi puisi Subagio Sastrowardoyo. Begitu….syahdu. Dan lagu itu juga yang dihadirkan saat manggung di acara peluncuran IDWriters.  Dalam kesempatan yang sempit, saya cuma bisa bilang terima kasih karena mau hadir, mau mengisi acara bersama penampil hebat lainnya: Anji (yang juga musikalisasi puisi), Seno Gumira Ajidarma, dan Rain Chudori. Terima kasih AlineaTV mendokumentasikannya dengan baik.

Banda Neira sendiri, seperti ditulis di dibandaneira.tumblr.com, berawal dari sebuah proyek iseng, yang kemudian berlanjut lebih serius. Album pertamanya hadir awal 2013. Lalu berlanjut dengan album kedua (yang memang betul lebih serius) tahun 2016.

Lagu-lagu Banda Neira mungkin memang tidak mendatangkan puluhan juta views, bahkan lagu super baper “Sampai Jadi Debu”.

Paskabubarnya Banda Neira, saya jadi lebih sering menyambangi YouTube. Bagi saya, YouTube memberi kesempatan bagi telinga kita untuk mendapatkan “bunyi” yang lebih memberi makan pada jiwa.  Dan setiap saat, jadi bisa menengok karya BandaNeira. Selamanya, sampai jadi debu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *