[Review] Ternyata dia bukan kamu…

Sebelumnya, selamat buat DUA JUTA penonton AADC2 dalam 8 hari saja. Dan karena sudah cukup banyak yang nonton, boleh lah ya ngeblog yang rada-rada spoiler. Saya, satu dari dua juta penonton itu. Entah apa yang mereka rasakan. Saya agak mix feeling, agak sedih dengan filmnya, meski cukup bahagia liat @nicsap lagi dalam frame film itu. Hahaha.

AADC2

Well, Penonton AADC1 sekarang udah pada tua. Yang dulu nonton pas SMA, mungkin sempat mendapati teman-temannya jadi pemburu buku puisi AKU (kalau dia lelaki) dan berkaus kaki panjang selutut plus memanjangkan rambut lurus (jika mereka perempuan). Yang dulu nonton AADC1 pas SMA mungkin sekarang sudah mulai berkeluarga, atau kalau pun single ya sudah berkarier cukup lama.

Ya, kalau saya udah lebih tua lagi sih.

Saat AADC1 diputar di bioskop saya sedang transisi galau dari kehidupan selo mahasiswa yang bisa sering-sering baca buku dan main-main ke mana saja asal gratis, ke masa-masa pekerja awal di Jakarta yang mesti pake baju rapi. Makanya saya sering kabur sendirian ke Bandung di akhir pekan, semacam sulit move on. Dan saat AADC1 tayang, saya menontonya sendirian di Bandung Indah Plaza -lantaran sudah putus dengan pacar yang cuma seumur masa kuliah – dan setuju bahwa cowok keren itu ya Rangga. Agak misterius, suka baca dan saat berhasil ngobrol bersama pastilah memunculkan desir kepak sayap kupu-kupu di perut.

Ranga yang istimewa. Hahaha.

Sekarang, sudah 14 tahun berjarak. Udah banyak banget yang terjadi dalam hidup saya sejak cengar cengir sendiri keluar dari bioskop di BIP dan yakin bahwa selalu ada Rangga buat mereka yang percaya. Tsaaaah!

Dan skala waktu itu juga yang terjadi dalam AADC 2.

Image: aadc2
Rangga dan Cinta, 14 tahun kemudian. (Image: aadc2)

Sudah 14 tahun, ratusan purnama,  tapi keribetan mereka enggak terlalu berbeda ama anak SMA. Mukanya udah pada dewasa, -Milly lagi hamil, Karmen udah cerai, dan Maura udah punya tiga anak- tapi galau-galau mereka enggak bergeser banyak. Mau makan aja kok ya tunggu-tungguan. Ngasih tau enggak bisa makan juga kayak sesuatu yang luar biasa dramanya, kayak diculik.  Padahal udah nge-whatsapp Line.  Galaunya Cinta & Rangga sampai bikin sesuatu yang mestinya beres di Yogya, jadi nambah dua lokasi scene: Jakarta & New York.

Aku KZL.  Kezel, kalau kata anak saya.

Rangga, -yang saya kira udah ngapain lah gitu di New York sana-, masih aja sok galak gak jelas saat adiknya ngasih tau ibunya sakit dan dia mesti pulang. Setelah beberapa hari menggalau, Rangga terbang  ke Jakarta lalu naik kereta ke Yogya. Kemudian bertemu Cinta di Yogya, lantaran geng Cinta-Milly-Karmen-Maura- sedang reunian dan liburan bareng.

Ranga masih terkesan misterius dan irit bicara. Tapi tampang diem sok-sok bingungnya itu asli ngeselin banget. Setuju ama Cinta, seperti yang dia bilang saat mereka bertemu di Yogya. “Kamu… dulu kalo bingung gitu nyenengin. Sekarang ngeselin.”

Iya, Rangga masih sok muram gitu. Mungkin karena kebanyakan baca Murakami. Hahaha. Trus kok rasanya dua manusia itu jadi basi gitu yak. Pertemuan panjang mereka sehari semalam di Yogya dibikin ala-ala Before Sunrise tapi enggak ‘nancep’. I even don’t remember the poem. I mean, ... enggak keinget kaya “pecahkan saja gelasnya biar ramai.” Ini bukan berarti bilang Aan Mansyur ga keren, ya. Cuma, kok kaya sulit nemu larik puisi yang memorable di film ini. Mungkin ini efek saya tambah tua saja. Padahal sebelum film tayang, udah lumayan gembar gembor pusi “Tak ada New York Hari Ini.” Dan …”keinginanku memilikimu sekali lagi” itu juga mak jleb kok. Tapi enggak nyantol. Ga tau deh, beda gitu ama puisi-puisi di AADC1.

Entah. Film ini seperti mengandung banyak distraksi.

aan-mansyur-instagram

Di Yogya, kita dibawa jalan-jalan ama pasangan yang tampaknya CLBK itu. Ke Candi Boko, nonton paper moon puppet show, ke klinik kopi, ke sate klathak sampai ke Gereja Ayam yang keliatan dari puncak Punthuk Setumbu. Pada sebuah scene di Yogya, sempatlah Cinta menampar Ranga (ini aneh banget) dan pergi. Tapi kemudian ia balik lagi ama cengar-cengir, mungkin sadar susah cari taksi di Yogya dan mesti jalan jauh buat nemu angkot. Tapi, kata Cinta, mau damai aja. Lalu mereka ngobrol bareng lagi.

Kemudian, Rangga sempat menguliahi Cinta, apa itu traveler dan apa itu jalan-jalan liburan. Sempat lah mereka ngomongin pemilu, sempat lah Rangga tanya, “Kecewa nggak?”. Dan sempat lah ngobrol tentang Trian dan perempuan dalam hidup Ranga.

“Udah putus dua tahun lalu,” kata Rangga.

“Oh, kenapa?”

“Enggak apa-apa. Ternyata dia bukan kamu.”

Iya deh. Flirting yang… ketebak. Err.

Dan, oh ya… Rangga banyak minta maaf. Njelehi.  Ia banyak minta maaf sama Cinta. Tapi enggak bisa berkata-kata di depan ibunya. Ia cuma menangis saat dipeluk ibunya. Tangisan itu mungkin untuk minta maaf, mungkin kesal, mungkin masih marah, mungkin rindu berat. Mungkin ia sedang melakukan apa yang dilakukan Cinta kepada dirinya, yang sempat bilang bahwa ia sudah berdamai dan tak kesal lagi. Seperti hal nya Cinta yang menempatkan diri sebagai korban Rangga, Rangga juga menempatkan dirinya sebagai korban dari sang ibu yang pergi tanpa penjelasan.   Ya sudahlah ya.

Selesai episode di Yogya, mereka bertemu lagi di Jakarta. Sebelum kembali ke Brooklyn, Rangga mendatangi Cinta ke galerinya dan bilang bahwa ia mau lebih dari sekadar berteman.

Gitu kek. Decisive gitu loh maunya apa. Laki, gitu loh.

Trailer-AADC-2-3

Tapi saat itu Cinta bilang semua yang di Yogya enggak ada artinya. Termasuk ciuman mereka, tak ada artinya. Lantas Rangga memilih sikap “Fine. Bye.” Kemudian ia keluar galeri dan berpapasan dengan Trian. Lalu pandangan mereka bertemu. Trian marah besar kepada Cinta, wong mereka mau kawin. Nadanya nyinyir saat menyebut-nyebut “Rangga yang legendaris.”

Kemudian Cinta mengejar Rangga. Entah apa yang ia jelaskan ke Trian, pokok nya ia ngejar Rangga. Kalau dulu dianter Mamet dan geng-nya, sekarang nyetir sendirian. Ngebut. Nyaris nabrak. Sementara di bandara, Rangga bolak balik nengok ke belakang. Mencari-cari, apakah ia dicari. Tapi malam itu Cinta tak sampai ke Bandara.

Rangga kembali ke kehidupan rutin di Brooklyn, di kedai kopi kecil yang bisa menghidupinya di sana saat ia tak menulis dan tak memotret. Luar biasa. Ini rada-rada seperti ilusi yang ditanamkan Carrie Bradshaw dalam Sex and The City (penulis kolom di tabloid gosip yang mampu beli Mahnolo Blanik).

Di kedai kopi kecil itu lah ia disamperin Cinta yang oalah, sempat cemburu enggak penting banget. Dan tak lama kemudian, film berakhir di taman. Seperti umumnya film-film romantis Hollywood.

AADC2 tidaklah buruk. Ia istimewa sebagai bagian dari upaya merayakan kenangan. Meski alunan cerita sungguh terasa sekali tergesa-gesa, terburu-buru, dengan tempelan banyak tokoh tanpa makna yang jelas. Trian, kalaupun tak ada sosoknya, tak terlalu berpengaruh. Dia yang segitu terkesan ngotot buat bisnis-bisnisnya, enggak ngotot tuh buat Cinta. Atau apa lah, gitu. Ada scene lebih dalam tentang Trian dan Cinta.  Malah Karmen lumayan lah ada background ceritanya. Maura, selain ibu tiga anak, enggak ada eksistensinya. Juga Milly yang masih kentara “lemot” nya. Alya, yang cantik itu sudah meninggal karena kecelakaan.

Image: aadc2
Image: aadc2

AADC2 kini semata fokus pada Cinta dan Rangga, mungkin demi menjawab penasaran sejak iklan LINE sukses membuat orang-orang bernostalgia dan ratusan meme meramaikan jagat maya. Saya, termasuk yang suka dengan iklan luar biasa itu, dan masih mengingat meme versi Rangga jadi pebisnis MLM, dengan riang gembira.

Tapi dengan film ini, entah lah. Mungkin karena saya enggak ingin tahu apakah Rangga dan Cinta bisa benar-benar bersama dan kisah cinta harus selalu berakhir bahagia. Apa ya yang kurang dari AADC2? Apa kisah ini sekadar kurang sabar bercerita? Atau saya yang enggak terima, kok Rangga dan Cinta yang segitu ‘anomali’nya saat muda (idealis, pembaca buku) kemudian berkembang jadi para hipster yang meramaikan pemilu dan menjalani passion, namun satu-satunya kegalauan yang mencuat cuma urusan hati saja? Ya enggak salah juga sih, tapi… entahlah, saya kok sedih ya.

Ternyata dia bukan kamu…

Oh ya, abaikan tulisan ini jika kebetulan belum nonton (lagian, kok belum sih? :p ).

Selamat bernostalgia.  Paling tidak, film ini membuat saya bersyukur masih ada umur untuk mengenang apa yang terjadi 14 tahun lalu. Senang bisa menonton AADC 2, senang pernah nonton film AADC1 yang menurut saya, masih yang paling keren.  Kalau kamu, gimana? 😀

5 Replies to “[Review] Ternyata dia bukan kamu…”

  1. aku sih ga nonton yg aadc1, apalgi yg aadc 2 :D.. yg pertama krn pas smu dulu masih blm tertarik nonton film2 drama percintaan gini mbak :).. kalo yg aadc2, mungkin krn terpengaruh juga ama bnyk bgt review jelek ttg film ini -__-. Ditambah yang punya mbak ;p, makinlah ga pengen nonton :D.. tp kemarin ada yg nulis tempat2 yg bkl hits didatangin di jogja stlh film ini.. nah aku lbh tertarik kesana malah.. tempat2nya bnyk yg blm aku dtgin juga soalnya..

  2. Well, Penonton AADC1 sekarang udah pada tua. Yang dulu nonton pas SMA, —-> jadi saya sudah tua ya? bentar cek KTP dulu hahahaha #menolaktua

    blm sempet nonton AADC 2, bingung ninggalin krucil, akhire nobar AADC 1 di Flix ma suami wkwkwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *