Toko Buku Terakhir

Cuma itu buku-buku terakhir, Pak. Cukup untuk satu keranjang besar. Sebaiknya kita obral saja seperti sebelumnya. Atau kita beri harga mahal? Biasanya orang mau membayar lebih untuk sepotong kenangan.

Alis Pak Murdyawan meninggi sebelah. Laki-laki berusia setengah abad itu memandangku, lalu bola matanya bergerak ke arah kanan.  “Hm….enggak ada bukunya Jonju itu kan?”

“Enggak Pak.”

“Ya sudah, kita pasang harga mahal. Kamu jangan lupa beri label ‘Last Edition that you wouldn’t want to miss’. Saya tinggal ya Win.”

Aku menyentuh layar ponsel. Membuka kuncinya, lalu menghubungi Keila. Meminta ia bergegas membuat label besar. Soft copy dan hard copy. Keila juga kuminta membuat e-poster untuk disebar di media sosial. Instagram dan Pinterest. Buku-buku ini harus terlihat ekslusif, koleksi terbatas, artefak.

Kalau apartemenku cukup lega, sudah kubawa semua buku-buku itu. Tapi tahun ini, harga sewa apartemen yang bisa kubayar hanya sebatas 10 meter persegi saja. Sudah lama aku tak punya rak buku. Kebanyakan kisah kusimpan dalam tablet. Bit demi bit menambah sesak hard disk portable, tapi jelas jauh lebih ringkas ketimbang menyimpan buku di rak.

Tak ada bau kertas seperti yang suka kuciumi saat kecil dulu.

Tak ada bekas ceceran kopi.

Tak ada ilustrasi indah karya Beatrix Potter yang bisa kuelus dengan jemari, yang warna-warnanya mengingatkanku pada baju tidur ibu saat mendongeng untukku.

Satu-satunya buku yang kusimpan ialah Bumi Manusia. Itu penting, karena ibu dan bapakku menamaiku seperti tokoh di kisah itu. Barangkali itu juga alasan mereka menikah: karena membaca buku yang sama. Alasan remeh temeh yang tak laku di zamanku.

Ting!

Notifikasi email dari Keila. Ia memberikan tiga opsi desain poster elektronik yang bisa segar kusebarkan melalui akun media sosial. Katanya, “Sebentar lagi kubuatkan motion picture. Tunggu.”

Keila sangat produktif. Dalam hitungan menit, ia bisa menggambar, lalu mewarnainya dengan cat air. Lalu, mengunggahnya ke akun Instagram. Kalau cuma membuat poster ataupun video animasi, gampang.

Aku dan Keila tinggal berdua saja menemani Pak Murdyawan menjaga toko buku ini. Toko buku kecil yang menjual buku-buku karya penulis lokal. Ada puisi. Ada prosa. Ada buku filsafat. Bahkan kumpulan twit para pemikir. Mereka sudah tak sempat lagi menulis panjang-panjang. Cukup twit sepanjang hari, berseri-seri.  Toh yang penting, pesannya sampai.

Ting!

Email baru dari Keila. Ada tautan video yang ia janjikan.  Musiknya ceria. Tak menandakan duka toko kecil yang akan tutup selamanya. New End.

Aku pun bergegas.
Posting. Share.

Sebelum esok tiba, rasanya aku ingin sendiri.  Atau barangkali, sesorean ini aku akan menelepon ibu. Lalu berbincang tentang buku-buku di masa lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.