Tukang tadah cerita

Ada kotak telepon, seperti yang banyak terlihat di London. Berwarna ungu mencolok dengan tulisan besar-besar, “Kotak Cerita”.

Disebut begitu, karena memang bentuknya kotak dan menjadi tempat untuk bercerita. Siapa saja yang melintas di depan rumah lelaki itu, bisa berhenti lalu masuk kotak, mengambil gagang telepon dan mulai bercerita. Satu koin untuk tiga menit. Kalau banyak yang diceritakan, makin banyak koin yang dibutuhkan.

Biasanya, dalam satu hari, lelaki pemilik kotak cerita itu harus tiga kali mengeluarkan koin dari kotak penyimpanan saking kepenuhan. Siang. Sore. Malam.

box

Lelaki itu juga punya catatan siapa saja yang bercerita. Siang hari, biasanya ibu-ibu yang bercerita. Sembari menanti anak-anak mereka pulang sekolah. Sore hari, biasanya anak-anak sekolah yang bercerita. Lalu mereka yang belum menikah, dan para lelaki. Baik yang sudah menikah, atau belum, lebih sering bercerita di malam hari.

Begitu biasanya.

Tapi sudah dua hari, kotak penyimpanan koin dalam kotak cerita di depan rumah lelaki itu kosong melompong. Ia memeriksa sistemnya. Memeriksa kabel gagang telepon. Mengangkat gagang telepon, memeriksanya dengan bercerita tentang kotak cerita miliknya yang tak kedatangan tamu satu pun dalam dua hari.

Ini kejadian luar biasa.

Sebab, dalam satu tahun belakangan, kotak ceritanya selalu penuh kunjungan. Ia menduga, orang-orang masih punya rahasia-rahasia terdalam yang tak bisa mereka ceritakan di Facebook.

Kotak ceritanya seperti kotak pengakuan dosa, atau curahan hati terdalam yang tak mungkin diceritakan ke orang lain. Kotak ceritanya juga berfungsi sebagai tempat berkisah aib-aib banyak orang. Lelaki itu sempat menarik kesimpulan: ah, orang-orang makin religius- mereka yakin, Tuhan akan menutupi aib mereka ketika mereka tak membicarakan aib orang ke orang-orang lainnya.

Lelaki itu memandangi jalanan di depan rumah. Orang-orang tetap berjalan kian kemari. Tetap ramai. Hanya saja, tak ada yang mampir.

“Apa yang salah, ya? Apakah ada kotak cerita yang lebih canggih lagi di ujung jalan sana? Atau memang kotak ceritaku sudah terlalu purba?”

Di masa itu, hampir setiap detik tumbuh start up baru, menawarkan aplikasi yang dijargonkan bakal membuat hidup lebih mudah dan menyenangkan.  Di masa itu, kehidupan orang sudah semakin ruwet dan kompleks demi hidup yang menyenangkan. Untuk kesenangan yang satu, butuh keruwetan yang satunya lagi. Untuk kemudahan yang lain, butuh kompleksitas lainnya lagi.

Untunglah, oksigen masih gratis. (Tak bisa kah kita bersyukur akan hal-hal yang sederhana dan lewat begitu saja?)

Di masa itu, orang-orang bergerak sangat cepat. Tak lagi sempat mendengarkan. Semua mau bicara. Makanya dunia gaduh. Yang tak punya panggung, mencari massa di media sosial.

Laki-laki itu, memutuskan mau mendengarkan. Siapa saja akan ia dengarkan.

Lalu pada suatu hari yang terasa basah melulu, laki-laki itu mulai mewujudkan rencana. Ia menamai dirinya, Tukang Tadah Cerita. Ya, itu personal brandnya.

Awalnya, ia cuma memasang plang bertuliskan “Tukang Tadah Cerita, mendengarkan semua cerita Anda.” Plang itu, ia letakkan di depan rumah. Satu-satunya rumah dua lantai yang dihimpit dua apartemen di kiri dan kanan. Ia berhasil melindungi rumah itu setelah bersama temannya yang sejarawan, sukses meluncurkan kampanye “Selamatkan satu-satunya rumah bersejarah di kota ini”. Lalu, pemerintah yang berkuasa dan sering membuat kebijakan berdasarkan ocehan di media sosial pun mengizinkan lelaki itu tetap di sana.

Maka pada hari ia memasang plang tersebut, ada gadis manis mendekatinya. “Saya mau bercerita. Apa saya harus bayar?”

Karena paras yang manis, lelaki itu bilang, “Silahkan saja. Gratis sebab masih promo.”

Maka gadis itu duduk di bangku, berhadapan dengan si lelaki. Mereka terpisah meja kayu mahoni yang beratnya sampai  setengah sehingga sulit digeser-geser.

Lalu lelaki itu mendengarkan dengan khidmat. Matanya lurus menatap si gadis. Senyumnya mengambang. Si gadis bercerita tentang ujiannya yang gagal serta pacar yang kabur. Ia malu bercerita ujian yang gagal kepada orang tuanya. Apalagi cerita pacar yang kabur. Sebab orang tua percaya gadis itu anak pintar dan alim tak mau pacaran.

Sampai selesai, si lelaki tetap takzim. “Ah, lega aku. Terima kasih ya,” ujar si gadis.

Lalu esoknya juga begitu. Gadis itu datang lagi. Dengan kisah lama versi baru. Ada bumbu cerita tapi pada dasarnya tetap sama. Ujian yang gagal dan pacar yang kabur.

Namun setelah si gadis berparas manis, ada orang lain yang mengantri. Ada ibu-ibu yang menggendong anak dan mau bercerita juga. Ada anak muda yang rambutnya super kusut. Ada bapak-bapak necis berdasi.

Terus begitu.

Setiap hari, si lelaki itu harus duduk di dekat meja mahoni setengah ton untuk mendengarkan cerita orang-orang yang tak ia kenal.

Seminggu kemudian, lelaki itu menetapkan harga. Bisa sekali cerita, atau langganan. Sebab waktu tidurnya berkurang. Pagi-pagi jam 6 pagi, ia sudah harus siap mendengarkan kisah-kisah orang-orang tak dikenal yang sudah antri di depan rumahnya.

Lalu seharian ia mendengarkan dengan takzim. Kadang-kadang sampai larut malam, bahkan dini hari.

Hingga kemudian lelaki itu menerapkan sistem antri. Yang mau bercerita, bisa mendaftarkan diri lewat website. Lalu mereka akan mendapatkan nomor antrian, serta jadwal kapan bisa bercerita untuk didengarkan lelaki itu.

Dalam satu hari, laki-laki itu menerima maksimal 48 orang. Masing-masing punya waktu 15 menit. Ia juga butuh istirahat 15 menit, per satu jam.  Jadi jika ia siap mulai jam 6 pagi, maka urusannya akan berakhir pada pukul 10 malam. Saat jeda, laki-laki itu melakukan banyak hal. Makan. Nonton televisi. Membaca satu bab buku. Atau malah muntah kata-kata.

Muntahan kata-kata itu ia kumpulkan di ember di pojok kamar mandi. Ia cukup meletakkan ember itu di halaman belakang agar terpanggang matahari, sehingga tersisa ekstraknya. Lalu ia simpan di dalam plastik dan bisa dilabeli. Berdasarkan topik, dan hari.

Namun pembatasan 15 menit itu rupanya mengesalkan banyak orang. Mereka mau lebih lama lagi bercerita kepada Tukang Tadah Cerita yang bisa mendengarkan omongan mereka dengan baik: dengan perhatian tulus, dan tanpa pandangan menghakimi.

Lantas para klien ini membuat petisi, secara online. Meminta agar lelaki itu menilai kembali kebijakannya. “Pembatasan 15 menit sungguh mengebiri hak bercerita kita” begitu pesan petisi itu.

Tukang Tadah Cerita pun mengubah sistemnya.

Paket curhat hemat 15 menit.
Paket curhat spesial 20 menit, bonus es teh manis.

Lalu ia membolehkan para klien membeli maksimal dua paket langsung.  Bisa beli dua paket hemat, atau spesial, dan harus digunakan secara beruntun.

Sistem ini lumayan disukai para klien.

Antrian tak terlalu padat di pagi hari, tak menganggu laju kendaraan. Sebab masing-masing klien sudah memiliki nomor antrian dan jadwal.

*Bersambung

4 Replies to “Tukang tadah cerita”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *