Uang tip, keikhlasan atau biaya operasional?

Hidup di Jakarta kadang-kadang membuat kita biasa memberi tip. Demi melancarkan urusan, demi ‘rasa enak’ karena meminta pihak lain berbuat lebih dari sekadar job desk.

Saat mengurus event, misalnya.
Biasanya, barang perlengkapan mulai dari backdrop, banner sampai yang perintilan seperti goodie bag, dimasukkan ke dalam venue pagi-pagi buta.  Jadwal loading di mall biasanya start pukul 22.00 WIB sampai jam 10 pagi. Sementara rata-rata gedung perkantoran membuka jadwal loading barang selepas tengah malam sampai pagi hari.

Dari rentang jam loading itu, pihak vendor biasanya memilih waktu sekitar jam 1 atau jam 2 untuk memasukkan barang. Jalanan relatif sepi. Plus bisa bekerja dengan cepat memasang rangka dll.

Rata-rata gedung tidak menyediakan troli. Mau bawa barang, ya angkut sendiri. Enggak punya banyak orang buat angkut, ya manis-manislah dengan pegawai di sana. Satpam jelas enggak mungkin diminta bantu-bantu sebab ada tugas jaga pos. Mereka mesti standby. Tapi dengan staf di venue, sangat bisa.

Saat ini lah mekanisme uang tip bekerja.

Staf di venue hanya punya tugas untuk standby. Memastikan semua baik-baik saja saat ada pihak lain masuk ke venue mereka buat persiapan. Termasuk memastikan properti mereka tetap di tempatnya. Tapi, tidak ada tuh job desk bantuin bawa barang klien.

Saat kita butuh itu, maka ya sudah semestinya lah kasi uang tip. Namanya uang tip, ya enggak gede-gede amat. Besarannya sejauh keikhlasan kita. Mereka pun happy kok jam 2 pagi dapat rezeki tambahan.

Dalam konteks ini, uang tip jadi bagian dari operasional. Urusan ‘ikhlas’ bukan lagi pada harus atau tidak memberi uang tip, tapi lebih ke besar kecilnya. Untuk ini, enggak mungkin kita beri kuitansi untuk mereka tandatangani, sebagai pertanggungjawaban untuk klien, misalnya.

Dulu, di pekerjaan sebelumnya, uang tip ini begitu berhasil membangun hubungan dengan informan. Saat ‘dicemplungin’ ke pos berita kota dan kriminal, mau enggak mau saya mesti berteman dengan polisi. Para petugas jaga di polsek dan polres, misalnya. Uang tip mereka dalam bentuk pulsa. Tiap ada ‘kijang’ masuk, saya jadi tahu dan punya bahan awal untuk berita.

Tentu saja, uang tip bukan segalanya. Kalau hubungan personal enggak diawali dengan senyum manis dan obrolan hangat, ya percuma juga. Uang tip hanya sekadar biaya operasional yang ‘lebih sedikit’, untuk melakukan hal di luar job desk mereka.

Uang tip ini bisa hilang kalau ada mekanisme yang sengaja dibuat untuk itu.

Misal:
+ongkos ngangkut barang dan lain-lain, Rp50 ribu per jam.
+ongkos mendapatkan informasi setiap ada tersangka baru, Rp100 ribu.

Tapi selama enggak ada mekanisme, uang tip akan selalu jadi komponen yang nyata, namun tidak terdokumentasi. Jadi selalu siapkan pagu uang tip dalam biaya produksi.  Alih-alih biaya ini tidak bisa ditagihkan kepada klien.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *