We Work Remotely, & We Are So Happy!

Video wawancara Profesor Robert Kelly di BBC NEWS membuat saya terbahak. Intervensi di area domestik (dari anak bagi yang sudah punya anak, atau dari orang tua bagi yang belum menikah) tak bisa kita tolak. Dan itu lah yang memang terjadi saat bekerja dari rumah.

Lepas dari isu rasis yang muncul sebagai efek lain dari viralnya video itu, saya sekadar ingin sharing tentang remote working.

Saya memutuskan tim Arkea tidak lagi berkantor pasca Lebaran tahun 2016. Semua bekerja remote. Meski hingga saat ini, kantor administratif kami masih tercatat di kawasan SCBD, Sudirman, Jakarta Selatan.

Kenapa?

  1. Letaknya di kawasan bisis Sudirman, dan Jakarta di pagi hari sungguh terasa kejam dengan kemacetan yang sudah menjadi realita sehari-hari. Apa rasanya tiba di kantor setelah menghabiskan energi sepanjang jalan menuju tujuan?
  2. Kebanyakan pekerjaan kami bersifat soliter. Menulis. Mendesain. Mengonsep. Betul, dua kepala lebih baik daripada satu. Tapi terlalu banyak kepala dalam waktu yang terlalu lama juga cenderung menciptakan drama (terutama jika sedang sepi project).
  3. Lebih murah. Tidak perlu biaya transport. Tak perlu ongkos makan siang berlebih. Tak perlu banyak budget untuk baju kerja. Dan yang jelas, waktu bekerja 8 jam sehari bisa betul-betul dioptimalkan tanpa menambah 2 jam perjalanan yang melelahkan.

Sekarang, kami semua bekerja remote, dengan kewajiban satu kali monthly meeting, dan  weekly meeting sesempatnya.  Sehari-hari, kami bekerja dari rumah, kamar kos, atau kafe. Untuk komunikasi, kami mengandalkan WhatsAppGroup.

LALU, SETELAH ENAM BULAN BERJALAN, APA EFEKNYA? 

BISNIS BERJALAN TERUS

Untuk bisnis kami yang berfokus pada jasa strategi komunikasi, layanan konten & media yang bersifat intangible, cara kerja remote working ini sama sekali tidak berdampak buruk. Justru sebaliknya, makin produktif dan berimbas sangat positif bagi bisnis.

Arkea juga mulai menerima pekerjaan lintas negara. Memang, pekerjaan tersebut tidak tergolong rumit dan butuh strategi khusus. Pekerjaannya tergolong teknis, namun dalam volume besar.

Kami diminta melokalkan konten website. Untuk itu kami berkolaborasi dengan sekitar 50-an freelancer di sejumlah kota di Indonesia, paling banyak di Jakarta, Yogya, dan Bandung. Modalnya: email, whatsapp messenger, dan google drive.

Pekerjaan itu beres dalam hitungan minggu. Rasanya senang, bisa bekerja sama dan menaruh rasa percaya di antara kami yang sama sekali belum pernah tatap muka.

LESS DRAMA

Untuk jenis pekerjaan soliter, kebanyakan pertemuan tanpa arah dan target yang jelas cuma jadi paguyuban penuh gosip. Tak produktif. Dan mungkin, malah menyulut segala macam drama yang kontra produktif.

Ditambah energi yang sebagian habis di jalan. Emosi. Hormon. Lalu dipicu momen yang sebetulnya tak terlalu penting, dan malah membuat komunikasi berjalan buruk.

Bekerja secara remote, mengurangi hal-hal demikian.

Jika jam kerja mulai 09.00 WIB, maka silahkan saja jika punya me-time pagi hari. Mungkin bersantai dulu sambil menyesap kopi dan menghirup aromanya. Bukankah menyenangkan jika memulai kerja dengan rasa bahagia?

LOWER COST, BETTER IMPACT

Biaya menyewa kantor virtual untuk urusan administrasi dan perpajakan sekitar Rp6 juta per tahun. Bandingkan dengan biaya sewa ruko di tengah kota sekitar Rp75 juta per tahun. Biaya dapat dialihkan menjadi biaya akses internet, atau langganan berbagai macam aplikasi untuk produktivitas kerja. Dan tentu saja, alihkan untuk biaya pemasaran serta kualiatas SDM.

Gaya kerja full remote banyak diterapkan sejumlah perusahaan jasa, utamanya bidang kreatif. Dan sejauh yang saya tahu, omzet mereka juga tidak kecil.

Nilai gengsi dari sebuah “alamat yang representatif” sudah tidak lagi relevan dan terlalu mengada-ada.  Karena kini sudah banyak wadah untuk memajang hasil kerja kita.

Satu-satunya alasan beralamat di perkantoran ialah semata urusan administrasi dan legal. Sebab, umumnya pemukiman tidak diperuntukkan untuk berkantor/berbisnis.

Oh ya, ini video Professor Robert Kelly yang sudah ditonton lebih dari 6 juta kali di Youtube. Happy remote working! Mau berbagi cerita seputar pengalaman remote working? Silakan di box komentar yaaa 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *