6 Alasan Drama Korea Racket Boys Layak Ditonton On Going

Dibaca normal : 3 menit

Baru tayang dua episode, drama Korea Racket Boys cukup menjanjikan nih buat jadi tontonan on going tiap Senin dan Selasa di Netflix.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on email

Klik tanda di kanan untuk menutup atau membuka menu ini

Sejak intro drama Korea Racket Boys yang terlihat gemash itu, saya sudah harap-harap cemas. Please, saya butuh drakor slice of life yang menghibur dong! 

Maklum ya, sejak awal tahun 2021 sampai masuk bulan Mei, drakor tayang ongoing masih saja didominasi tema action-thriller-criminal. 

Meski Vincenzo sangat oke, Mouse bikin penasaran, dan Taxi Driver tergolong memuaskan, tetap saja saya butuh drakor slice of life yang santai, hangat, dan menyenangkan. 

Genre: Sports Drama

Sports drama tergolong genre drakor yang jarang-jarang ada.  

Tahun ini memang ada drakor Run On tentang pelari, tapi lebih condong ke romance. 

Tahun lalu ada Hot Stove League yang berhasil meraih Baeksang Award 2020 (mungkin karena popularitas bisbol di Korea Selatan, tapi kok rasanya sih cerita mah biasa aja). 

Nah, Racket Boys ini mengisahkan kehidupan remaja anggota klub bulutangkis di pedesaan. 

Meskipun Korea Selatan termasuk negara kuat di lapangan bulutangkis, dan olahraga ini juga mudah diakses, namun popularitas bulutangkis seolah tak ada apa-apanya dibandingkan bisbol. 

Liga bisbol Korea Selatan memang tak sekadar pertandingan olah raga biasa. Seperti ditulis Tirto.id: Kultur bisbol Korea Selatan itu sudah serupa kultur rock n roll. 

Sedangkan olahraga bulu tangkis, di mata anak muda Korea Selatan, lebih cocok menjadi olahraganya orang tua. 

Tapi buat orang Indonesia yang kini jadi target penonton drakor, tema bulu tangkis akan terasa relevan. 

Terlebih jika kamu pernah ikut deg-degan nonton rally panjang antara Susi Susanti melawan Bang Soo Hyun di final Olimpiade Barcelona 1992. Atau jejeritan saat pasangan ganda Ricky Subagja- Rexy Mainaky adu gesit dan trik melawan ganda putra Korsel Park Joo-bong dan Kim Moon-soo. 

Ehm.. kalo anak sekarang ngefans sama Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon ding ya. 😀

Suasana pedesaan 

Saya selalu suka drakor dengan suasana kota-kota di luar Seoul. Misalnya, When the Camelia in Blooms (2019), bisa baca reviewnya Ibu segala tau di sini.

Atau, yang lebih lawas lagi, drakor berjudul Thank You (2007) yang dimainkan apik oleh Jang Hyuk dan (lagi-lagi) Gong Hyojin onnie 😀  

Kisah berlatar kota atau pedesaan di luar Seoul memberi pemandangan berbeda, dan kadang, lengkap dengan dialek yang berbeda. 

Seperti di Indonesia, yang beda bahasa dan dialek di tiap wilayah, Korea Selatan juga seperti itu. Ada enam dialek (satoori) Bahasa Korea Selatan yang paling populer menurut Namsan Korean Course  

Nah, karakter orang pedesaan di drakor ini juga menarik dan gado-gado banget, khas orang kampung yang terkesan kepo, tapi sebetulnya perhatian sama tetangga. 

Kisah keluarga 

Cerita dimulai dari seorang ahjussi masuk ke lapangan bulu tangkis dengan sorotan kamera yang dramatis. Gelap, mencekam. Lalu..jreng.. Adegan berubah menjadi konyol. 

Wah, saya familier nih sama ahjussi ini. Kim Sangkyung. Aktingnya sebagai anak bos yang sebetulnya pinter tapi punya gesture bloon di drama keluarga What Happens to My Family, masih berasa nempel. 

Di sini, aktor senior yang hampir berusia 50 tahun itu berperan sebagai Yoon Hyeon-jong, pelatih bulutangkis yang bangkrut. Dia mantan atlet yang sebetulnya cukup sukses jadi pelatih, namun jatuh miskin gara-gara menjaminkan namanya untuk teman yang ngutang. 

Hyeon-jong adalah ayah yang berusaha selalu cool, tapi sebetulnya cemas dan merasa payah.  Ia punya dua anak. Si sulung, Yoon Hae-kang, pelajar SMP yang sedang merintis karier sebagai atlet bisbol. Prestasinya menjanjikan. Sedangkan si bungsu, Yoon Hae-in, menderita asma sehingga butuh perawatan rutin. 

Gaji Hyeon-jong tak cukup untuk mengongkosi kebutuhan mereka. Tak tahan dengan tekanan hidup di Seoul, ia pun memutuskan mengambil kesempatan melatih klub bulutangkis SMP Haenam. Nah, Haenam ini merupakan wilayah paling ujung di Korea Selatan. 

Kebayang dong ya, keluarga urban yang terbiasa dengan ritme dan kehidupan perkotaan ala Seoul harus hidup di pedesaan? 

Cerita ABG minim romansa percintaan 

Banyak drakor anak sekolahan yang kisahnya enggak jauh-jauh dari urusan sekolah, persaingan popularitas, bullying, dan urusan gebetan. 

Tapi Racket Boys menawarkan persahabatan, yang sepertinya akan konsisten hingga akhir episode. Penuh tawa, dan seru banget. 

Kenapa seyakin ini? 

Karena penulis Jung Bo-hoon cenderung senang menggarap tema persahabatan para lelaki, dan cuma memasukan romansa sangat tipis. 

Faktor Jung Bo-hoon 

Sebetulnya, ini alasan yang sangat personal. 

Sejak nonton drakor secara rutin, saya selalu memberi perhatian khusus kepada para penulis drakor. 

Menurutku banyak penulis naskah drakor yang jenius, bisa menghadirkan  kisah dengan riset dan observasi yang detail, memberi pesan dan kritik sosial yang kuat, namun tetap dalam kemasan menghibur dan disukai pasar. 

Jung Bo-hoon termasuk salah satu favorit saya. 

Dia tergolong penulis muda. Sebelum Racket Boys, karyanya baru satu: Prison Playbook/ Wise Prison Life. 

Wise Prison Life, karya Bo-hoon yang apik.

Saya sering merasa Bo-hoon beruntung terlibat dalam pembuatan drakor kehidupan penjara itu. Di drakor itu, naskah Bo-hoon dikembangkan oleh Lee Woojung, penulis skenario Reply 1988 dan Hospital Playlist. Plus, digarap tangan dingin Shinwoo PD Nim. 

Ya udah, jadi lah! 

Bo-hoon ini jago nyelipin humor tipis-tipis, yang bikin ngakak. Terutama buat penggemar drakor slice of life yang memuat komedi satir. Dia juga sering masukin pesan halus buat tetep hormat sama orang lebih tua, dan jangan mudah berprasangka. 

Begitu juga di drakor Racket Boys. Naskah kuat drakor ini menjadikannya hangat ditonton, menyentuh, tapi gak bikin nangis sesenggukan. 

Karakter beragam 

Empat remaja lelaki klub bulu tangkis SMP Haenam ini bakal sulit terlupakan, karena masing-masing punya karakter berbeda. 

Hae-kang, remaja yang kompetitif namun sangat lembut dan menyayangi adiknya, diperankan apik oleh Tang Joon-sang.  Aktor Korea berusia 17 tahun yang pertama kali beken lewat perannya sebagai tentara Korea Utara imut di drakor populer Crash Landing On you (2019) sedang produktif tahun ini. 

Ia baru saja tampil meakinkan sebagai anak pengidap sindrom asperger di drakor bagus Move to Heaven. Dan kini ia sudah tampil dengan karakter berbeda. Masa depannya tampak menjanjikan di industri sinema. 

Na Woo-chan (kiri) dan Lee Yong-dae

Ada juga aktor cilik Kim Kang-hoon yang sering wira wiri di drakor. Ia memerankan Lee yong-tae, anggota termuda klub yang mengidolai pebulutangkis top Korsel Lee yong-dae. 

Lalu ada Na Woo-chan (Choi Hyun-wook), yang paling bijak, baik hati, dan penyuka hip hop. Sedangkan si kapten klub, Bang Yoon-dam (diperankan Son Sang-gyeong) digambarkan tampan dan kecanduan media sosial.

Masih ada lagi aktris senior  Oh Nara yang berperan sebagai istri Hyeon-jong, sekaligus pelatih tim bulutangkis putri yang terkenal tegas dan dingin. 

Bahkan para penduduk desa memiliki karakter beda-beda, yang mudah diingat. 

Stream it, or Skip it? 

Dari dua episode drakor Racket Boys yang sudah tayang, kurasa ini cukup bagus buat masuk deretan daftar drakor yang direkomendasikan tahun ini.

Cuss lah. Stream it!

Drama Korea Racket Boys produksi stasiun televisi publik SBS ini tayang secara global melalui platform Netflix setiap Senin dan Selasa, mulai 31 Mei 2021 pukul 22.00 WIB dengan total sebanyak 16 episode.

Foto-foto: Hancinema.net

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on email

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Klik tanda di kanan untuk menutup atau membuka menu ini

Dapatkan diskon 5% dengan klik iklan ini dan menuliskan kode: sic5
BloG

Drakor, buku, dan celotehan lainnya.

Baca topik lainnya: