Chromebook, Bukan Laptop Bocil Biasa

Kecil-kecil cabe rawit. Performanya oke buat kamu yang kerja di dunia kepenulisan, atau sekadar bikin web Wordpress.

Table of Contents

Dibaca normal : 3 menit

Saat laptop yang biasa menemani segala aktvitas kerja saya mulai tersengal-sengal, Chromebook Samsung rilis di pasaran Indonesia dengan harga sekitar Rp2,5 jutaan saja.

Cuss lah.

Awalnya, niat membeli Chromebook memang untuk bocah belajar online. Tapi ternyata, saya ikut kepincut.

Jadilah kurir datang dua kali di hari yang sama. Lumayan, ada cashback Rp135 ribu per laptop, dalam bentuk Gopay Coins. πŸ˜€

Harga itu tergolong murah, karena Chromebook besutan Acer dan HP masih di angka Rp3 jutaan.

Anyway, looks Chromebook Samsung ini stylish, dengan warna silver dan desain kece. Kalau enggak diperhatikan benar-benar, lebih mirip ultrabook elit gitu lah.

Udah lama kan gak lihat produk komputer jinjing Samsung di Indonesia? Produsen asal Korea Selatan itu memang hiatus cukup lama untuk pasar Indonesia, sekitar 4 tahun, karena fokus pada lini ponsel dan produk rumah tangga berbasis IoT.

Samsung Chromebook 4 yang dirilis pada November 2021 ini memiliki layar 11,6 inch dengan resolusi HD. Kamera 720 p dengan suara stereo yang enak banget buat meeting atau belajar online.

Di pasaran, ada Chromebook dengan layar sentuh, ada yang tidak. Punya saya, jenis yang kedua. Namun, masih enggak malu-maluin ketika dipakai untuk meeting bareng klien.

RAM 4GB masih standar lah dengan kebanyakan laptop yang beredar di pasaran. Waktu boot-nya juga cepat.

Sistem operasi sederhana, yang kelak akan otomatis ter-update jika waktunya tiba. Daya tahan baterai mencapai 9 jam, sangat memadai untuk satu siklus kerja.

Hanya saja, butuh adaptasi dari kebiasaan berlaptop di layar lebar 15 inch, ke layar 11,6 inch. Area topang tangan juga sempit. Agak menggangu bagi yang biasa ngetik cepat tanpa teknik ketik 10 jari πŸ˜€

Bisa buat apa saja?

Sejauh ini, sekitar sebulan pakai, si mini ini sudah lumayan produktif menghasilkan cuan. πŸ˜€

Ya maklum aja, kerjaan saya seputaran penulisan dan website WordPress. Jadi, hampir semua project bisa di”makan” oleh Chromebook. Performanya oke, meski kita perlu membiasakan diri.

Ketika harus menulis, ya menggunakan Google Docs. Bikin presentasi, pakai Google Slide. Template cakep bisa diambil dari SlidesGo.

Butuh tabel, dll ya bisa pakai Google Sheet.

Buat kamu yang enggak biasa kerja menggunakan fitur-fitur Google Workspace, ya …belajar lah πŸ˜€

Untuk ngecek naskah layoutan dan finalisasi dalam pdf, bisa juga. Adobe acrobat punya versi chromebook, dengan fitur lengkap mesti langganan berbayar. Tapi saya mau yang gratis aja, karena fitur yang akan saya pakai juga gak neko-neko. Sejauh bisa koreksi naskah dan kasih comment di pdf, cukup.

Untuk aplikasi itu, saya pakai KAMI, sudah tersedia di Google Workspace Marketplace.

Bikin visual grafis tipis-tipis, bisa pakai Canva seperti biasa.

Untuk produktivitas, aplikasi Asana bisa digunakan seperti biasa.

Zoom, Google Meets, juga mudah diakses. Meeting bisa dari mana saja sejauh koneksi internet memadai.

Playstore pada ponsel android, bisa dimunculkan di Chromebook. Namun, tidak semua aplikasi di Playstore bisa diakses dan digunakan di Chromebook.

Namun, sejauh ini, semua kebutuhan saya terpenuhi. Lagipula, ngoding css cuma butuh txt kan. πŸ˜€

Sesekali, si mini ini bisa juga saya pakai nonton Netflix πŸ˜€

Minus-nya Chromebook

Kapasitas simpan Chromebook yang minim sering jadi keluhan.

Rata-rata Chromebook yang dijual di pasaran memiliki kapasitas 32-64 Gb.

Punya saya, cuma 32 Gb saja, udah kaya ponsel kentang.

Tapi kalau melihat fitrahnya, Chromebook memang enggak diniatkan sebagai laptop berbasis offline. Semua file disimpan di cloud, kita bisa rapikan di Google Drive. Semua aplikasi yang digunakan rata-rata berbasis web.

Jadi, minimnya storage sama sekali tidak akan menganggu bagi mereka yang biasa bekerja berbasis cloud. Lagipula, masih ada 1 slot microsd yang bisa dipakai.

Tampilan layar dalam bodi kecil juga butuh penyesuaian. Kalau di rumah, saya pakai tambahan permukaan meja agar si kecil ini terasa lebih sejajar pandangan mata, biar tengkuk enggak cepet pegal dan sakit.

Selain itu, printer yang bisa bekerja dengan Chromebook masih terbatas pada seri Epson L3110. Merek di luar itu niscaya gagal menerjemahkan perintah cetak.

Memang, di masa mendatang pasti akan lebih banyak printer yang sinkron dengan Chromebook.

Namun, jika sekarang masih butuh nge-print ini dan itu, pertimbangkan membeli printer Epson L3110, sekitar Rp2, 3 – Rp2,5 jutaan dengan sistem tinta infus yang hemat untuk penggunaan jangka panjang.

Jadi, modal Rp5 juta sudah dapat Chromebook dan printer. Lumayan.

Overall, Chromebook memang enggak menawarkan fitur-fitur yang super komplit. Buat editor video jelas bakal kerepotan. Namun, untuk pelajar, ya oke banget. Untuk mahasiswa yang butuh seputar fitur Worskpace Google, bakal kebantu.

Buat pekerja freelance di bidang seperti saya, ya…semakin produktif dengan modal ekonomis.

Share:

1 thought on “Chromebook, Bukan Laptop Bocil Biasa”

  1. Pingback: Menjadi Penulis Konten, Butuh Disiplin dan Kerja Cepat - Sica Harum

Leave a Comment

Your email address will not be published.