Drakor Twenty Five Twenty One, Mengejar Mimpi yang Direnggut Krismon 98

Drakor ini membawakan narasi besar krismon 98 di Korea Selatan, dari perspektif anak SMA dan mahasiswa, yang mendadak kehilangan impian.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on email

Table of Contents

Dibaca normal : 4 menit

Dua puluh empat tahun silam, kita pernah mengalami krisis moneter yang berdampak luar biasa, bahkan melebar hingga menjadi krisis sosial budaya. Banyak saudara kita, etnis Tionghoa menjadi korban.

Indonesia tidak sendirian saat itu.

Krisis moneter yang berawal dari Meksiko itu memercik ke Asia, pertama kali di Thailand, lalu merembet ke sejumlah negara. Korea Selatan, Jepang, Filipina, Malaysia, juga negara kita, termasuk mengalami dampak besar.

Malaysia terang-terangan menolak bantuan IMF. Indonesia setengah hati, meski akhirnya memutuskan mengambil program bantuan IMF. Sedangkan Korea Selatan terang-terangan meminta bantuan. Mereka berjanji membayar utang tersebut.

Keputusan pemerintah Korea Selatan itu tak sepenuhnya diamini rakyatnya. Tapi mereka tentu tak bisa berbuat apa-apa, selain bekerja sekuat tenaga bertahan melewati krisis tersebut.

Dan memang nyatanya, Korsel berhasil membayar utang IMF tiga tahun lebih cepat dari jadwal. Gerakan masyarakat sumbang emas yang heroik itu juga berperan pesar.

Sekilas Kisah

Drakor Twenty Five Twenty One ialah secuplik kisah anak muda Korea Selatan di masa krismon 98.

Narasi besar itu, sudah tergambar apik sejak episode 1 tayang di Netflix, Sabtu (13/2), dari sosok Na Hee-do dan Baek Yijin.

Heedo (diperankan Kim Taeri) ialah siswa SMA anggota klub anggar yang bermimpi menjadi juara dunia, namun harus menerima kenyataan klubnya tutup lantaran tak ada lagi dana.

Ia yang awalnya merasa huru hara pemberitaan IMF hanyalah urusan orang dewasa, kemudian menyadari impiannya direngut IMF.

Sedangkan Baek Yijin (diperankan Nam Joo-hyuk) ialah mahasiswa tahun kedua yang tak bisa lagi melanjutkan kuliah karena keluarganya bangkrut.

Tadinya, ia anak orang kaya. Bapaknya pemilik pabrik yang harus tutup lantaran krismon.

Situasi saat itu, dengan nilai tukar dollar AS melambung kelewat tinggi, membuat banyak perusahaan gulung tikar tak sanggup membayar pinjaman.

Ketika perusahaan tutup, ayahnya harus menceraikan ibu agar keluarga itu tak terseret-seret kasus utang. Mereka berempat pun hidup terpisah.

Yijin bertahan dengan menjalankan sejumlah kerja paruh waktu, mulai dari mengantar koran sampai menjaga persewaan komik.

Dilengkapi properti khas akhir 90-an, drakor ini cukup menyalakan nostalgia bagi banyak orang. Termasuk saya.

Saat krismon, saya kuliah di tahun pertama, tinggal merantau di Bandung, jauh dari orang tua. Bertahan dengan menjadi guru les, dan terbengong-bengong mendengar cerita teman yang meraup untung dari simpanan USD-nya.

Kalau kamu semumuran Hee-do dan Yi-jin di masa krismon 98, pasti langsung klik sama drakor Twenty Five Twenty One ini.

Drakor ini digarap sutradara Jung Jihyun bersama penulis Kwon Do Eun. Keduanya pernah kerja bareng untuk drakor WWW Search.

Tentang para pemeran

Sejak penampilannya di Mr Sunshine, saya selalu nunggu aksi Kim Taeri. Ia termasuk jarang ambil project drama. Terakhir, ia main film Spacesweeper bersama Song Jongki (2020).

Menurutku Kim Taeri punya kecantikan klasik khas perempuan Korea. Elegan banget saat di Mr Sunhsine, lalu gagah di Spacesweeper.

Kim Taeri belajar anggar 6 bulan demi memerankan Na Hee-do. Foto: Hancinema.net

Kini, ia yang sudah 32 tahun itu berperan sebagai anak SMA usia 18 tahun.

Dan ..edan… masih pantes! Emang skincare Korea Selatan daebak lah! 😀

Khusus untuk perannya, ia berlatih anggar selama 6 bulan, langsung dari atlet Korea Selatan peraih medali emas. Enggak disebutkan siapa, apakah dengan Kim Jun-hoo, atlet anggar tampan peraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020?

Inilah yang aku suka dari banyak aktor dan aktris Korea Selatan. Masa persiapan mereka biasanya 6 bulan. Para pemeran Hospital Playlist juga belajar alat musik dulu tuh, 6 bulan.

Dalam kisah ini, Kim Taeri beradu akting dengan Nam Joohyuk, si model ganteng mantan atlet basket yang makin sering tampil di berbagai peran, baik drama maupun film.

Loper koran yang kasep. Nam Joo-hyuk memerankan Baek Yijin. Foto: Hancinema.net

Terakhir, aku nonton akting NJH di film Josee yang gelap banget feelnya, but somehow terasa indah dan murni. Pure love.

NJH juga beken saat Startup, beradu peran dengan Bae Suzy dan Kim Seonho, dan membelah massa penonton Startup menjadi dua kubu.

Tapi baru di drama ini, untuk pertama kalinya, aku ter-joohyuk joohyuk. Hahaha.

Dari sekian drama dan film yang ia perankan baru kali ini aku terbengong-bengong. Ganteng banget, masyaAllah. >_<

Jika di Startup ia memerankan mahasiswa geek yang culun dan polos, di sini dia jadi anak orang kaya yang tiba-tiba kehilangan semua.

Adu akting Taeri sunbae dengan NJH yang lebih junor, terasa klop.

Tapi, kutebak drakor ini enggak sebatas love line calon atlet anggar dengan mahasiswa yang bercita-cita jadi jurnalis. Let’s see.

Selain mereka berdua, ada Choi Hyun-wook yang makin laris aja setelah Racket Boys dan Taxi Driver, yang memerankan karakter anak ganteng SMA Tae Yang.

Ada juga Bona, penyanyi dari grup WJSN, yang memerankan Ko Yurim, atlet anggar andal kebanggaan Korsel yang super dingin.

Melihat materinya, cukup lengkap sih untuk sebuah drama yang komplit dengan sub plot menarik.

Bona (kiri) beradu akting dengan Choi Hyun-wook. Foto: Hancinema.net

Tentang Kutipan yang Bikin Mikir

Baru dua episode tayang, drakor ini menjanjikan dialog-dialog yang bernas, dan langsung berasa “deep” gitu lah. Layak kutip deh.

Misal, ketika Baek Yijin mengomentari cara Heedo demi keluar dari sekolah lama dan pindah ke SMA Tae Yang, tempat Yurim bersekolah.

“Hari ini bukan aku yang menghancurkan rencanamu, rencanamu salah sejak awal maka itu gagal. Buatlah rencana baru.”

“Caramu salah, tapi tekadmu benar. Di usiamu, kamu punya keuntungan. Kamu bisa minta tolong.”

Baek Yijin yang merasakan pengalaman serupa dengan Heedo pun menjadi pendengar yang baik, sekaligus menyemangati Heedo.

“Masa kini, bisa saja merenggut mimpimu, tak hanya mimpi, tetapi juga uang dan keluarga. Terkadang bisa merenggut ketiganya sekaligus.”

“Aku hanya memikirkan hal yang sudah hilang, tetapi kau memikirkan hal yang bisa kau raih. Aku ingin begitu mulai sekarang.”

Adegan sesimple main kran air di sekolah pun bisa menjadi scene yang bikin mata hangat.

“Kalau kita sedang berdua, bahagialah diam-diam.”

Duh.

Twenty Five Twenty One tayang setiap Sabtu – Minggu di Netflix, mulai 12 Februari 2022.

My Two Cent Comment

Drakor ini bakal mudah dicintai, terutama oleh kamu-kamu yang mengalami betul masa-masa krismon 98.

Kamu yang menyukai Reply 1988, atau drakor lain yang mengambil tema era 90an, bakal suka juga deh. Properti yang detail, hingga gaya baju yang emang beneran lagi heits di era itu bikin cerita jadi lebih hidup.

Seperti biasa, riset yang kuat, serta penulisan skrip yang matang, menjadi daya tarik kebanyakan drakor. Apalagi ditambah gula-gula ala NJH dan Bona seperti pada drakor Twenty Five Twenty One ini.

Saya sih, sudah memastikan akan nonton on going. Kalau kamu, gimana?

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on email

1 thought on “Drakor Twenty Five Twenty One, Mengejar Mimpi yang Direnggut Krismon 98”

  1. Pingback: Drakor Forecasting Love and Weather, Ketika Cuaca dan Cinta Sulit Diprediksi

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Artikel Populer
Artikel Baru

Baca topik lainnya: