Dua Puluh Tahun Ngeblog, Dapat Apa Saja?

Dibaca normal : 5 menit

Ngeblog sejak dua puluh tahun silam memang enggak bikin saya tenar atau jadi taipan. Meski begitu, banyak hal yang bisa disyukuri.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on email

Klik tanda di kanan untuk menutup atau membuka menu ini

Catatan ini sebatas dokumentasi personal seputar ngeblog, cuilan hal-hal yang kuingat dan sekiranya aman dikonsumsi publik. Sekadar ngelemesin tangan lagi setelah berbulan-bulan tidak produktif di blog ini. 

Tahun 2021, nggak terasa udah dua dekade aku kenal sama dunia blogging dan internet. Sudah hampir separuh hidupku. Uwow. 

Mungkin kalau orang lain, puluhan tahun berinternet,  sudah melesat gimana gitu lah. Tapi, meski belum jadi taipan dari dunia internet, saya bersyukur udah ngerasain cuan. 

Bahkan dalam tujuh tahun terakhir, hidup bisa bertopang dari pekerjaan yang didapat melalui blog. Alhamdulillah, ya.

Tahun 2000, Millenium Bug

Tepat pada 1 Januari 2000, dunia menunggu akankah fenomena year 2000 kilo (Y2K) alias millennium bug  betul-betul terjadi. 

Disebutkan, numerasi digital bakal kembali ke nol dan berdampak pada dunia perbankan. Data kita sebelum tahun 2000 bisa hilang. 

Rumor itu memang tidak terjadi, meski tidak jelas betul apa solusi yang digunakan.

Infografik ini diambil dari Bisnis.com, sedangkan penjelasan mendetail mengenai millenium bug bisa dibaca di Tirto.id

Tapi yang jelas, fenomena ini cukup menarik minat saya pada matematika komputasi.

Masuk tahun ketiga perkuliahan, saya jadi sering nongkrong di lab komputer kampus. Sekalian ngadem di ruang server. 

Tahun segitu belum ada istilah ngeblog. Tapi banyak orang, termasuk saya, suka chatting via MIRC dan Yahoo Messenger. 

Detik.com, media online pertama yang rilis setelah Soeharto lengser tahun 1998 itu, selalu jadi web pertama yang dibuka saat berinternet. 

Plus, saya mulai belajar bikin web pakai Dreamweaver. Belajarnya dari si kakak senior di perkuliahan.  

Nah, ketauan umurku. 😀 

Tahun 2001, Web Pertama

Setahun menikmati internet sebatas pengguna, akhirnya bisa juga produksi konten.  

Pertama kali berhasil upload website di Geocities tahun 2001, rasanya seneng banget. 

Bikin web saat itu kan mesti beres dulu sebelum upload. Trus eksekusi di server lokal buat cek tampilannya. Kalau gak pas, kita harus sesuaikan di Dreamweaver lalu hapus file lama, ulang file baru. Iterasi begitu terus.

Saat itu sih belum kesel. 

Saya betah-betah aja ngulik, sambil mendengarkan lagu-lagu Sheila On 7 dan PADI yang lagi keren-kerennya di masa itu. 

Hasilnya, website emang masih cupu lah. Isinya juga norak. Iya, saya ‘pernah alay’ di masanya. Haha. 

Selain web Geocities itu, sempat punya juga website di Tripod.com, semacam landing page ala-ala yang minim grafis. Masih norak juga.  

Heran deh, ngapain juga Geocities dan tripod masih menyimpannya sementara banyak layanan lain yang shutdown dan menghapus data masa lalu.  

Tapi setidaknya, dua website cupu itu semacam prasasti, penanda bahwa di masa itu, aku bangga bener ngeshare link website sebagai signature email, atau ketika lagi chatting sama teman-teman MIRC. 😀

Geocities menawarkan space gratis 1MB, dan Tripod memberikan 100 KB. Menulis satuan MB dan KB di zaman space tera seperti saat ini terasa menggelikan. Tapi pada saat itu udah mewah. 

Keterbatasan space membuat saya mesti rajin hapus file jika mau upload file baru. Rada bikin males. Makanya begitu ada platform blog, saya tak pernah lagi repot-repot mengupdate konten di dua web itu. 

  • Nah, apa dampak website cupu ini?

Punya sahabat baru, dan tentu saja banyak gebetan baru setelah kehabisan stok pemandangan senior-senior kece di lapangan basket kampus.  Banyak email perkenalan masuk, berlanjut obrolan di Yahoo Chat Room. 

FYI, website itu dibuat oleh perempuan 20 tahunan. Wajar lah senang dengan dampak punya banyak pilihan gebetan. Hahahaha. 

Karena ribet banget bikinnya, plus referensi visual dan pengetahuan warna saya yang buruk, website tidak lagi terupdate.

Tahun 2002, Mulai Ngeblog dengan Blogger.com

Pertama kali kenal platform Blogger langusng takjub. ‘Wih, enggak perlu mikir bikin web, just write on!”

Ini blog percobaan pertama dengan platform blogger. 

Bacaan penting di masa-masa itu ialah blog-nya Enda Nasution, yang dijuluki Bapak Blogger Indonesia. 

Mengingat pengalaman dengan website sebelumnya, blogging memang jauh lebih menyenangkan. Saking mudahnya, saya sempat membuat beberapa blog. Mulai dari blog curhatan random, seputar matematika, film, dan tentang buku. Sayang, lupa semua alamat-alamatnya.  

Kegiatan blogging yang masif saat itu dimungkinkan karena jam kuliah semester-semester akhir memang lebih singkat dari jam mengajar sebagai guru les privat di sore hari. Jadi, lumayan banyak waktu buat ngeblog.

Di masa itu, blog wajar banget dipakai sebagai area curhat. Umumnya ngeblog sekadar tulisan aja. Saya sendiri lebih sering bahas soal-soal para murid biar punya ‘contekan’ kalo pas ketemu case serupa. Atau ya curhat random, dan bahasan tentang buku. 

Kalau butuh gambar, ya ambil seadanya di internet dan kasi link akreditasi. 

Ponsel belum berkamera. Nokia 3210 sebatas saya pakai untuk telepon, sms, dan main game snake. Itupun pasif, sebatas terima telepon dari anak murid les, atau kirim pesan minta maaf bakal telat datang. 

Sumber gambar: Latest World Events

Selain Blogger, sempat juga nyoba LiveJournal.

Plus, ada beberapa blog yang saya sering baca saat itu. Antara lain, blognya mbak Lusi, perempuan desainer yang hidup di New York, dan Maria, anak SMA yang menuliskan rasa bersalah karena melanggar aturan minum kopi sachetan. ^_^

  • Apa saja hasil ngeblog di era ini? 

Dapat kerjaan ngeles-in mahasiswa S2 dengan honor terbesar sepanjang pengalaman jadi guru les privat. Hihihi. 

Semua berawal dari kegiatan mailing list.

Zaman segitu, mesin pencari Northern Light, Yahoo, bahkan Google baru di tahap awal pengembangan dan masih miskin konten. 

Jadi, nyari informasi paling efektif, sekaligus menjemput keajaiban emang bisa dilakukan di mailing list.  

Suatu hari, salah satu anggota dalam mailing list penyuka sastra melempar lowongan lewat mailing list: butuh guru matematika yang bisa ngajarin statistika. 

Wih, kebetulan. Langsung saya sambut dengan senang hati. 

Murid saya saat itu berdomisili di Jakarta, sedang mid test mata kuliah statistika. Jadi saya cuma perlu sekali datang, ngajarin materi ujian mid test. 

Gara-gara website Geocities dan blog, si pemberi kerja merasa lebih ‘kenal’ dengan saya. Ia memutuskan kasih job ke saya, di antara pelamar lainnya. 

Nah, buat ngelesin putrinya itu, saya mesti naik kereta dari Bandung. 

Untungnya, saya punya teman online yang sering ngobrol di Yahoo Chat Room gara-gara website juga.  Kesempatan bekerja singkat di Jakarta itu akhirnya sekalian jadi kopi darat.

Dia dengan baik hati menjemput saya di stasiun Gambir, mengantar ke rumah si murid di bilangan Pondok Indah. Dia juga yang mentraktir konser PADI di Senayan. 

Urusan les pun lancar. Honornya, Rp 250 ribu per jam, plus uang transport 5 kali lipat dari harga tiket karcis KA Parahyangan kelas bisnis pulang pergi saat itu. 

Mendadak, saya merasa kaya raya dan beruntung. 

Konsep bekerja dan bersenang-senang akhirnya jadi pilihan yang semakin terlihat di mata calon sarjana umur 20an.  Bagaimana caranya bisa bekerja dari mana saja, dan kapan saja. 

Nggak sedikitpun terbesit keinginan bekerja menjadi PNS seperti orang tua, meski ada uang pensiun. 

Nggak terpikirkan untuk melamar kerja kantoran yang sehari-hari di berkutat di meja kerja, meski di gedung perkantoran megah. 

Semangat gig economy sudah bisa terasa, tapi saya belum paham bagaimana mewujudkanya.  

The gig economy is based on flexible, temporary, or freelance jobs, often involving connecting with clients or customers through an online platform. The gig economy can benefit workers, businesses, and consumers by making work more adaptable to the needs of the moment and demand for flexible lifestyles.


Gig Economy Definition – Investopedia
https://www.investopedia.com ›

Tahun 2004, Jatuh Cinta pada WordPress 

Berkenalan dengan platform WordPress.

Saya suka dengan gaya tampilan blog WordPress yang terasa lebih sleek dan modern ketimbang pilihan desain di Blogger kala itu.

Plus, terinspirasi oleh Matt Mullenweg. Usianya baru 18 tahun ketika merintis WordPress pada 2002, dan resmi launching pada 2003.

WordPress sengaja ia bangun dengan sistem open source untuk memberi kesempatan yang sama bagi setiap orang bersuara dan berkontribusi di internet, dengan penilaian sepenuhnya diberikan kepada pembaca. 

Ini betul-betul menyentuh hati saat saya mulai bekerja sebagai wartawan di tahun 2004. Dengan menayangkan artikel di internet, saya bisa punya ‘media’ sendiri.

Setiap hari, saya liputan ke beberapa lokasi di Jakarta menggunakan bis kota dan kopaja. Pulang malam, berangkat kerja lagi, pagi-pagi. Ojek pengkolan masih luar biasa mahal dan mengesalkan. Sementara Jakarta sudah macet.

Tapi, nggak semua berita bisa naik di koran tempat saya bekerja. Karena itu, daripada buang-buat materi berita,  kadang saya menuliskannya di blog dengan sejumlah penyesuaian. Buat saya, semata mencatat ingatan saja, dan siapa tahu ada yang perlu informasi itu.   

Ada remaja kurir narkoba yatim piatu yang ditahan di Salemba, dan meninggalkan dua adik kecil yang hidup dari belas kasihan para tetangga di pasar loak kawasan Kebon Kacang. 

Ada transgender yang sibuk kabur dari pacar gantengnya yang tajir tapi toxic

Ada juga kisah perempuan suku Baduy yang menawari saya potong kuku dengan menggunakan golok. (Sungguh kearifan lokal yang bikin saya jiper!)

Atau bahkan ketika saya deg-degan kepergok saat berusaha memastikan terdakwa kasus korupsi Bulog di RS Polri betul-betul sakit atau tidak. 

Selain di WordPress.com, beberapa kisah saya tulis di Blogsome, salah satu penyedia blog gratisan berbasis WordPress. Tapi layanan ini kemudian dimatikan. 

Saya sempat memindahkan sejumlah artikel, tapi belum ketemu.  

Pada tahun ini, Friendster sedang populer dan Multiply mulai digandrungi. Salah satu blog Multiply yang saya suka, milik Randurini. Sampai sekarang, tulisan serunya masih sering dia bagi di Facebook.

Tahun 2004 ini menjadi awal masa produktif menggunakan blog baik menggunakan Blogger maupun WordPress di tahun-tahun berikutnya. 

Gara-gara ngeblog, saya merasa kemampuan menulis menjadi lebih baik. Pun di blog, saya bebas menulis features tanpa pusing dengan batas karakter. 

Seiring waktu, beberapa blog yang masih menumpang hosting gratisan itu ternyata menjadi salah satu faktor penentu ketika saya mendapat sejumlah fellowship dan sponsor untuk bepergian ke Jepang, Inggris, Beijing, India, dan New York. 

  • Bikin toko buku online 

Terbiasa ngeblog, saya sempat kenalan dengan Joomla, sebuah web builder yang kemudian saya pakai untuk membuat toko buku online. 

Sekarang sih, toko buku online itu sudah tutup. Keok dengan para pemodal besar yang mampu stok buku untuk menghemat ongkir dan memperpendek masa kirim ke pelanggan.  

Saat pindahan dan stok buku menggunung (karena selain pedagang, saya juga gemar membeli buku beraneka macam genre), saya sempat obral besar-besaran demi memberikan rumah kedua yang layak bagi buku-buku itu. 

Lagi-lagi, saya pakai blog buat jual preloved book. Angka kunjungan ke nyonyabuku.blogspot.com pun melonjak tajam.

Tapi nggak semua calon pembeli saya terima. Kalau sesama anak Goodreads Indonesia, saya langsung lepas. Kalau saya enggak kenal, ya saya kepoin dulu apakah betul pecinta buku atau tidak.. Wkwkw. 

Saat itu, ada pecinta buku asal Medan yang banyak ngeborong koleksi saya. 

Hasil penjualan berjuta-juta. Saat saya sudah nggak perlu kontrak rumah, dan sebagian besar buku favorit ada di Kindle, tetep aja terasa sedikit nyesek liat foto-foto buku lama yang dilego di blog itu. Hiks. 

  • MLM-an pakai blog 

Saat masih bekerja di sebuah startup, saya sempat bisnis sampingan : Oriflame.

Bisnis ini enggak makan waktu, cocok buat yang baru belajar.

Saya menjalankan bisnis itu dengan ngeblog, bisa dibilang beternak blog, mengikuti cara yang dilakukan upline dalam mengoptimalkan internet. Kebanyakan blog menggunakan blogspot, dengan berbagai macam akun. Ada yang khusus bahas kehidupan ibu pekerja, ada yang bahas bisnis rumahan secara umum. 

Buat bisnis ini, saya pakai nama Sica Raharjo, nyomot nama belakang suami, biar beda branding sama Sica Harum. Hahaha.

Hasilnya lumayan banget. Banyak yang kontak via BBM, buat kenalan dan daftar. Saat aktif di Oriflame, saya juga aktif main Facebook.

Sempat mengelola dan mengembangkan banyak downline, sudah sempat dapat bonus pertama, dan terima penghasilan sekitar Rp5 jutaan per bulan. 

Akhirnya saya berhenti karena fokus menjalankan bisnis sendiri. Namun salah satu blog yang alamatnya masih saya ingat, masih ada di sicbizz.wordpress.com. 

Dan dari ratusan downline, ada yang masih bertahan dengan penghasilan baik, ada juga yang berhenti dan bisa mengembangkan bisnis sendiri. 

So happy to see them grow. 

  • Mulai beli domain buat ngeblog  

Nama domain sicaharum.com dibeli pertama kali tahun 2014, berbarengan dengan awal profesi sebagai ghostwriter.  

Ngeblog konsisten di sicaharum.com dengan postingan dua minggu sekali lumayan mendatangkan hasil. Banyak pekerjaan menulis datang dari sicaharum.com versi 1.0 ini.  Sempat juga mencoba ikut lomba dan berhasil juara.  

Namun kemudian perhatian terpecah.

Lebih fokus pada bisnis dan konten website perusahaan, membuat saya agak melupakan blog pribadi. Sampai-sampai telat bayar, lalu layanan hosting berhenti otomatis, dan sudah terlalu terlambat untuk minta backup data. Karena kebanyakan artikel ditulis langsung di blog, saya enggak punya backup.

Tapi, saya gak ambil pusing saat itu karena ada web perusahaan. 

Barulah saat pandemi 2020, saya kembali ngulik WordPress lalu mengenal Elementor.

Blog sicaharum.com kembali dibangun sebagai proyek percobaan. Sementara, konten dibuat dengan niatan nulis suka-suka aja. Tanpa plan, tanpa tuntutan apa-apa. Makanya jarang update. 

Hasilnya lumayan, mendatangkan orderan mengerjakan sejumlah website pesanan.  

Baru pada Mei 2021, saya mulai tergerak buat ngeblog lagi, merapikan konten kembali, ketika tersadar sudah dua puluh tahun sejak pertama kali punya website.

Pun, pekerjaan menulis ini tak kenal kata pensiun.

Semoga kali ini, bisa istiqomah ngeblog. Aseeek. 

Terima kasih, sudah bertahan membaca sampai di kalimat ini. Share pengalaman ngeblog kamu juga ya. Kalau boleh, tinggalkan jejak di komentar, biar saya bisa mampir juga ke blog kamu.

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on email

3 thoughts on “Dua Puluh Tahun Ngeblog, Dapat Apa Saja?”

  1. Pingback: 8 Cara Menghasilkan Uang dari Blog Pribadi, Kamu Juga Bisa!

  2. Woaaaa amazing… Ikut seneng banget kak bacanya ya ampuuuun keren banget sih aku baru ngeblog zaman kuliah dan baru aktif lagi setelah menikah sambil nunggu hamil heheh semoga aku juga bisa sukses kayak kak Sica hihi aamiin

    1. ya ampun, sukses apaan sih? 😀
      sama-sama belajar lah yuk. Blogmu juga kece dengan visual cakep tiap posting.
      beda lah kalo desainer yang ngeblog yaaaa hahaha.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Klik tanda di kanan untuk menutup atau membuka menu ini

Dapatkan diskon 5% dengan klik iklan ini dan menuliskan kode: sic5
BloG

Drakor, buku, dan celotehan lainnya.

Baca topik lainnya: