Film Space Sweepers, Bendera Korea di Pesawat Luar Angkasa

Dibaca normal : 3 menit

FIlm pertama Korea untuk genre fiksi ilmiah luar angkasa ini penuh efek keren dan rasa 'drama keluarga'.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on email

Klik tanda di kanan untuk menutup atau membuka menu ini

Saya masih ingat betul bagaimana bendera-bendera Amerika Serikat selalu terlihat dalam film-film heroik ala Armagedon. Terasa sekali supremasinya.

Namun kali ini, nafas saya tertahan melihat bendera Korea Selatan menempel pada pesawat milik kru pengambil sampah luar angkasa dalam film Space Sweepers.

Wah, saatnya sudah tiba!

Film ini memang film produksi Korea Selatan pertama bergenre fiksi ilmiah tentang luar angkasa. Berbudget tinggi, dengan teknologi canggih, dan sederetan nama aktor dan aktris terkenal seperti Song Joong Ki (Vicenzo), Kim Tae-ri (Mr Sunshine), Jin Sen-ku (film Extreme Job) hingga aktor senior Yoo Hae-jin (Taxi Driver).

Memang sih, Space Sweepers yang tayang di Netflix memang lebih nikmat ditonton di bioskop. Efek CGI yang luar biasa, terlalu sayang jika ditonton lewat layar ponsel.

Tapi, film ini bukan cuma punya CGI keren. Plot ceritanya mudah dipahami, enak dinikmati, dan tentu saja akting para pemeran yang bukan nama sembarangan di industri hiburan Korea Selatan.

Sinopsis singkat

Space Sweepers menceritakan sekelompok kru pembersih sampah luar angkasa yang hidup pada tahun 2092. Interaksi dan persahabatan antara Kapten Jang, Tae-ho, Park, dan si robot Bulb, mungkin mengingatkan pada Guardian of the Galaxy.

Pada masa hidup mereka, bumi sudah tak bisa ditinggali, dan Mars adalah solusi, dibawah kendal penuh UTS Corporation.

Jika pernah menonton Esylum, mirip-mirip lah konsepnya. Cuma mereka yang punya uang dan kuasa yang bisa keluar dari bumi dan tinggal di surga luar angkasa itu.

Sumber: Decider

Suatu hari, kru Victory menemukan Dorothy tanpa sengaja. Menurut berita, Dorothy adalah robot pemunah massal berwujud bocah perempuan yang lucu.

Mereka siap menukar Dorothy dengan uang hadiah 2 miliar.

Namun ternyata, semua itu cuma berita plintiran. Dorothy yang punya nama Korea ‘Kot Nim’ sesunguhnya adalah harapan bagi bumi untuk kembali pulih menjadi tempat yang bisa ditinggali manusia.

Kru Victory pun berubah haluan. Perjuangan mereka menyelamatkan Dorothy, yang juga berarti menyelamatkan bumi, menjadi tontonan menarik dalam film berdurasi dua jam itu.

Casting

Kim Tae-ri sebagai Kapten Jang, cewek keren banget, punya gaya cool, megang senjata, dan jenius.

Kapten Jang ini sebetulnya dilatih UTS Corporation, tapi ia membelot, dan justru memberontak.

Tae-ri sendiri jarang-jarang main drama. Salah satu yang beken ya Mr Sunshine. Dia lebih dikenal di dunia film, seperti aktingnya yang berani dalam The Handmaiden serta film bertema demonstrasi mahasiswa 1987: When The Day Has Come.

Tae-ho diperankan Song Joong-ki. Tae-ho adalah pilot Victory yang andal. Awalnya ia bekerja sebagai pemusnah. Namun ternyata hati manusianya tak sepenuhnya sirna. Bayi perempuan yang seharusnya ia bunuh, justru ia besarkan.

Karena itu, Tae-ho dipecat. Mereka hidup miskin tanpa rumah, menggelandang, hingga kemudian ayah dan anak itu terpisah. Tae-ho melanjutkan hidup semata untuk mencari uang, demi menemukan anaknya kembali.

Dalam sebuah wawancara, Joong-ki mengaku memiliki kesamaan dengan Tae-ho. “Saya membaca naskahnya, dan merasakan depresi Tae-ho sama seperti yang saya rasakan, yang membuat ia hampir menyerah atas segalanya.”

Aktor Jin Seon-kyu memainkan Tiger Park, pedagang kartel narkoba yang kabur dari bumi agar tak dijatuhi hukuman mati. Meski tampilannya paling sangar, hatinya paling lembut. Dia cepat jatuh hati pada Kot Nim yang lucu.

Salah satu film Seon-kyu yang saya ingat ialah Extreme Job, tentang para intel yang nyamar sebagai penjual ayam goreng.

Aktor senior Yoo Hae-jin, mengisi suara Bulbs, si robot yang memiliki emosi manusia. Buat yang sering nonton film Korea, pasti sering liat Hae-jin. Salah satu yang paling teringat ialah Taxi Driver.

Saat Bulbs akhirnya operasi cangkok kulit, aktris Kim Hyang-gi (Along With God) hadir menjadi cameo keren penutup film ini.

Dan tentu saja aktris cilik menggemaskan Park Ye-rin yang baru genap 8 tahun, memerankan Kot Nim/Dorothy.

Ini debutnya untuk film layar lebar. Aktingnya, daebak!

Stream it or skip it?

Stream it.

Pengalaman nonton film Hollywood bertahun-tahun di masa kecil seolah membentuk kepala saya bahwa lakon tuh pasti menang di akhir. Bahwa ending yang bagus ya harus happy ending.

Berkenalan dengan film-film non Hollywood mengenalkan saya pada ragam emosi yang bisa tampil di layar lebar.

Salah satunya, film Korea.

Film Space Sweepers ini pun tak terkecuali. Emosi yang ditawarkan terasa utuh, mulai sedih, marah, kemenangan, juga kehilangan.

Konsep kehangatan keluarga juga tak melulu ayah ibu dengan anak biologis mereka.

Dan yang saya suka, film ini multikultur sekali, plus terbuka pada ide androgini 😀

Bulbs, si robot militer yang memiliki suara lelaki, happy dipanggil Onnie (kakak perempuan) oleh Kot Nim.

Saat ia sudah dalam bentuk manusia), lagi nyantai di luar angkasa sambil baca karya Rainer Maria Rilke. Sepertinya robot itu sedang mengalami gender confusion, berusaha mengeksplorasi gendernya, meski telah memilih berpenampilan perempuan.

Para tokoh utama berbahasa Korea, dan lainnya menggunaan bahasa ibu masing-masing. Mereka berdialog tanpa kesulitan berkat alat penerjemah real time.

Film ini punya rasa ‘drama keluarga’ yang hangat, dalam kemasan fiksi ilmiah dan isu lingkungan hidup.

Fiksi Ilmiahnya dapat enggak?

Sutradara Jo Sung-hee (42 tahun) pertama kali mengetahui tentang ‘sampah luar angkasa’ dari seorang teman.

Ia mulai membuat naskah, 10 tahun silam, dan terus disempurnakan.

Sebuah dunia post-futuristik membutuhkan riset mendalam, biar teorinya juga enggak salah dan tetap bisa diterima akal.

Memang sih, banyak hal yang jadi direduksi dan kesannya kaya tempelan-tempelan aja. Seperti nano bot ataupun superplant, terasa kurang dikasi porsi, jadinya kita nafsir sendiri.

Namanya juga film dua jam, bukan dokumenter. Yang penting kan bisa dinikmati. Dan mungkin malah bikin curious, kan?

Seperti umumnya drama atau film Korea yang kaya simbol dan metafora, Space Sweepers juga gitu.

Sepatu adalah penanda penting bagi Tae-ho yang selalu mengingat anaknya yang hilang.

Atau tengoklah Kapten Jang dengan kacamata Top Gun-nya yang udah dimodifikasi.

Semua detil ini betul-betul memberi nyawa pada karakter film.

Ketika syuting film ini dimulai 2019, Sung-hee mengakui banyak perubahan, terutama dengan karakter para tokoh yang menjadi lebih muda.

Keputusan bagus untuk menyenangkan pasar. Keren, kok!

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on email

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Klik tanda di kanan untuk menutup atau membuka menu ini

Dapatkan diskon 5% dengan klik iklan ini dan menuliskan kode: sic5
BloG

Drakor, buku, dan celotehan lainnya.

Baca topik lainnya: