Keajaiban itu Ada, Jika Kita Menjemputnya

Peristiwa ini terjadi pada 2002, hampir 19 tahun silam dan sering saya ingat sebagai pengalaman menyenangkan tentang keajaiban.

Loncat baca ke...

Besar dalam didikan keluarga Jawa yang dibiasakan nrimo, saya jarang berani minta. Beraninya cuma sampai level minta ke orang tua.

Hingga saya merantau buat kuliah, belajar hidup mandiri terpisah dengan orang tua, saya tetep enggak terbiasa speak up.

Sampai ada satu peristiwa.

Saat itu saya masih kuliah, di masa-masa ngerjain skripsi, sekitar tahun 2002.

Kuliah udah habis, tapi males ngulang nilai C yang berderet. Jadi maksud hati mau fokus aja beresin skripsi biar lulus. Eh kebetulan ditawarin jadi asisten lab komputer.

Pas banget. Tahun segitu, saya lagi seneng-senengnya internet-an.

Waktu itu gabut juga jadi asisten lab, karena banyak senior yang langsung nyodorin bantuan. Pokoknya, aku malah kebanyakan nongkrong di lab buat surfing web, baca-baca banyak mailing list, dan chatting di Yahoo (MIRC di blok di lab kampus, mesti ke warnet).

Lewat mailing list, saya tahu akan ada konferensi ekonofisika di Bali akhir Agustus 2002.. Salah satu inisiatornya, Prof. Yohanes Surya.

Buat saya saat itu, topiknya menarik sekali. Semacam membaca situasi perekonomian atau keuangan pasar modal dengan menggunakan model-model berbasis teori fisika.

Kok pas ya. Di masa yang sama, saya lagi penasaran banget dengan pemodelan Black Scholes yang dipakai sebagai perhitungan opsi saham, dengan sejumlah asumsi yang enggak realistis. Gimana jika didekati dari ekonofisika?

Lalu entah ada keberanian dari mana, saya mengirim email kepada Prof. Yo. Memperkenalkan diri sebagai mahasiswa matematika yang sedang skripsi, dan menawarkan barangkali butuh tenaga volunteer konferensi berlangsung.

Target saya tentu saja biar bisa ikutan konferensi itu dengan GRATIS, karena tiket berbayarnya sekitar Rp2 jutaan untuk mahasiswa.

Keajaiban pertama

Dua hari kemudian, email itu berbalas. Saya merasa ada keajaiban siap dijemput.

Saya jejingkrakan di lab yang dingin.

Saya siapkan ongkos naik kereta bandung-denpasar PP dan biaya di sana selama 3 hari sebesar Rp1 juta. Murid les telat bayar, sampai saya dipinjami Rp300 ribu sama teman sesama orang Semarang.

Lalu saya diminta ke Jakarta untuk briefing dan kenalan dengan panitia lainnya. PIC saat itu bernama Mbak Lanny.

Dua hari sebelum konferensi, saya bersama teman baru yang saya kenal -sesama mahasiswa- naik kereta. Sedangkan panitia lain berangkat naik pesawat.

Sampai di Denpasar, Prof Yo baik sekali menjamu panitia -termasuk saya yang apalah- di Jimbaran.

Meja panjang dengan banyak orang, serta hidangan sea food yang tumpah ruah. Deru ombak, serta angin yang memaksa saya merapatkan jaket hasil berburu di Cibadak. Bahkan sampai sekarang, saya masih ingat manisnya lobster yang saya makan saat itu tanpa kuatir kolesterol.

Malam itu pertama kalinya saya bertemu Prof Yo, saya langsung salim sambil membungkuk hormat.

Ya gimana ya, itu kaya jack pot banget buat saya.

Prof Yo tanya, saya naik apa, lalu nanti nginep di mana, nanti pulang ke Jakartanya gimana dan sebagainya. Saya cuma bilang “Gampang kok Prof.”

Lalu dia bilang gini dong… “Itu ada kamar kosong di hotel. Ada peserta batal datang karena istrinya sakit. Kamu pakai saja.”

Kemudian ia memanggil asistennya, Mbak Lanny. “Pesenin pesawat pulang ya Lan. Malam ini aja biar masih ada seat.”

Wow.

Ini mah sekadar ilustrasi aja. Pun, ini Kuta Bali, bukan Jimbaran, tahun 2018.

Tuhan Maha Baik

Ya ampun, Tuhan baik banget sama saya.

Malamnya, beneran saya tidur di hotel bintang lima yang super wah di Nusa Dua, tempat konferensi akan dilangsungkan keesokan harinya.

Seperti dugaan, sejumlah bahasan dalam forum itu betul-betul mindblowing, buat saya, anak kuliahan yang lagi berjuang mberesin skripsi.

Lalu pulangnya, saya enggak perlu mengulang rute bis dan kereta. Untuk pertama kalinya saya naik pesawat, dibayarin, dan dapat Garuda pula!

Peristiwa ini terjadi pada 2002, hampir 19 tahun silam dan sering saya ingat sebagai pengalaman menyenangkan tentang keajaiban. Meskipun karier matematika saya mandeg sebagai math enthusiast 😀

Setelah peristiwa itu, saya mengingat banyak peristiwa luar biasa yang terjadi hanya karena memberanikan diri untuk melakukan action kecil. Kapan-kapan saya bisa ceritakan lagi.

Intinya, sekecil apapun tindakan kita, kalau dikerjakan, selalu membuka pintu menuju keajaiban, lebih lebar.

🙂

Baca juga:
Resolusi Tahun Baru. Lakukan Lagi, Sepuluh Kali

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Loncat baca ke...

Blog

Recent Posts