Tarif yang berlaku di pasaran memang enggak bikin kamu kaya mendadak. Sekadar untuk menyambung hidup saja sih bisa. Pekerjaan menulis konten juga bagus untuk memperkaya pengalaman.
Penulis konten dibutuhkan untuk mengisi blog perusahaan, berfungsi sebagai content marketing. Misalnya perusahan paltform saham semacam Ajaib membutuhkan artikel-artikel blog seputar dunia keuangan pribadi untuk mendatangkan calon pelanggan mereka.
Karena fokus pada pelanggan usia muda yang aktif menggunakan gadget dan berminat pada investasi, maka artikel yang dibuat haruslah artikel yang cocok dan dibutuhkan target tersebut.
Untuk perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan sayur, buah, dan bahan pokok rumah tangga, tentu membutuhkan artikel-artikel seputar hal tersebut. Mulai dari resep masakan praktis, tips membedakan tepung, hingga cara menggoreng tempe yang tahan garing berjam-jam.
Penulis konten yang bertugas menulis artikel-artikel tersebut bisa berasal dari tim internal perusahaan, digital agency yang bekerja sama, atau freelancer yang dikelola oleh perusahaan.
Penulis konten berbeda dengan copy writer.
Copy writer fokus pada produk/jasa perusahaan dan bertugas membuat narasi yang persuasif. Sedangkan penulis konten bertugas membuat artikel yang bertujuan untuk mendatangkan calon pelanggan produk/jasa.
Ibaratnya, penulis konten bertugas membuat pintu masuk yang menarik agar calon pelanggan bisa masuk dan melihat produk/jasa yang ditawarkan perusahaan.
Rajin membaca, biasa browsing
Kalau kita memutuskan bekerja sebagai penulis konten freelance agar bisa bekerja remote dari mana saja, maka kita wajib menjadi penulis generalis. Alias, mampu menulis tentang beberapa topik.
Berbeda jika kita menjadi penulis konten yang bekerja di satu perusahaan, maka kita cukup fokus pada topik sesuai industri tempat kita bekerja.
Saat ini, industri yang berkembang pesat dan membutuhka banyak konten ialah keuangan, kesehatan, pendidikan, dan perdagangan barang-barang kebutuhan di rumah. Mulai dari urusan dapur sampai kebutuhan anak.
Tentu saja, kebutuhan di luar topik di atas masih terbuka lebar. Namun secara umum, konten dibutuhkan perusahaan-perusahaan yang sedang melakukan pemasaran agresif, dan selama pandemi berlangsung, industri tersebut yang berkembang.
Ke depan, dengan perkembangan isu-isu metaverse, uang kripto, hingga NFT, pertimbangkan untuk memahami topik-topik teknologi seputar hal tersebut. Selain itu, topik kesehatan mental, serta isu-isu lingkungan akan terus berkembang di masa depan.
Rumus menulis enggak rumit kok. In = out. Garbage in, garbage out.
Jadi kalau mau menghasilkan artikel yang bagus, penulis konten perlu mengasup bacaan berkualitas.
Selalu update dengan perkembangan terbaru melalui sejumlah situs media pemberitaan yang terpercaya. Bisa juga dengan membaca blog yang menurut kita bagus sebagai referensi. Baca buku atau dengerin podcast juga membantu.
Kuasai beberapa topik yang kamu suka, dan tingkatkan pengetahuan di topik-topik tersebut.
Penulis Konten Harus Mampu Menulis cepat
Kemampuan menulis konten dengan cepat, sebetulnya relevan dengan tarif konten di pasaran.
Saat ini, tarif konten berkualitas lumayan ada di range harga Rp25.000 – Rp50.000 per artikel 300 kata. Ada yang jauh di bawah itu, bahkan Rp10 ribu per artikel pun ada.
Saat mengelola konten untuk sebuah perusahaan perjalanan berbasis di Singapura, saya bekerja sama dengan banyak penulis konten. Jujur saja, sulit menemukan penulis konten yang pas.
Kadang-kadang mereka yang menetapkan harga Rp50 ribu per artikel memiliki kemampuan di atas mereka yang nge-charge Rp100 ribu per artikel. Tapi ada juga yang tarifnya Rp200 ribu per artikel (700 kata) dengan kemampuan baik, namun terlihat sekali dikerjakan terburu-buru.
Kalau mau dapat upah sebulan Rp5 juta (diatas UMP DKI Jakarta 2022 yang Rp4, 7 juta) atau sekitar Rp250 ribu per hari jika ingin bekerja 5 hari kerja, maka sehari harus mampu menulis sekitar 5 artikel.
Semakin cepat kita menulis, semakin banyak slot waktu tersisa.
Semakin kita paham topik, semakin cepat kita menulis.
Artikel 300 kata, bisa kok selesai 30 -40 menit, sudah rapi. Penulis konten profesional mampu menulis 7-8 artikel per hari. Buat yang pemula, untuk mengejar kuota ini, butuh banyak jam terbang.
Siap kerja ekstra
Idealnya, kita bekerja 8 jam sehari. Namun, kalau hasil belum sesuai, kita bisa meluangkan waktu lebih. Apalagi yang masih pemula.
Bagi pemula, siapkan kerja ekstra bekerja 10-12 jam per hari. Dengan sistem kerja remote, 12 jam bekerja sebetulnya masih bisa dilakukan. Bahkan 15 jam. Dengan begitu, jumlah artikel yang ditulis bisa bertambah banyak = tambah penghasilan.
Ini di awal-awal, kok.
Sebab, semakin kita menguasai topik, semakin bagus penulisan kita, maka tarif bisa naik sedikit demi sedikit.
Jika klien minta artikel yang lebih in-depth dengan diksi yang lebih shopisticated, bisa dikenai tarif lebih. Namun, kita harus yakin mampu mengeksekusi ini dengan baik agar tidak mengecewakan.
Begitu juga jika kita diminta menulis konten pilar yang sifatnya general dan timeles. Biasanya konten pilar memiliki jumlah kata lebih banyak, dan pembahasan yang spesifik. Kalau tidak terlalu yakin, mintalah waktu lebih. Namun, kesempatan ini patut dicoba.
Buat portofolio
Senjata gig worker ialah portofolio. Jadi, bikin dulu portofolio.
Portofolio enggak harus berupa pekerjaan dari klien. Bisa kok kamu menulis di blog, bahkan blog gratisan.
Namun, jika mendedikasikan sebuah blog sebagai portofolio, pastikan topik yang kamu pilih tidak terlalu random. Batasi saja pada 3 topik utama. Blog porto beda dengan blog personal yang isinya menampung jejak pikiran kita.
Selain punya blog sendiri, beranikan menulis topik yang kamu suka di platform menulis bersama seperti melalui Kompasiana, Medium, atau Kumparan. Biasanya, interaksi sesama pengguna juga tinggi di platform-platform tersebut.
Selain itu, kamu boleh kok menawarkan diri sebagai penulis tamu untuk sesama blogger.
Penulis Konten Perlu Memahami SEO
Penulis konten sebaiknya memahami prinsip-prinsip SEO karena artikel yang ditulis akan ditempatkan di website dan bertujuan untuk mudah dicari.
Untuk belajar, banyak source di internet. Namun pada prinsipnya, menulis artikel SEO enggak sebatas fokus pada kata kunci yang terus berulang. Pelajari cara membuat artikel dengan struktur dan kerangka artikel yang juga disukai mesin pencari.
Biasakan untuk selalu meriset kata kunci, menyiapkan judul, dan membuat kerangka di awal proses penulisan.
Sejumlah alat riset kata kunci bisa digunakan, misalnya ubersuggest.
Jangan lupa untuk praktik berulang kali. Bisa karena biasa.

Memasarkan diri
Jika masih pemula, sebaiknya bergabung dengan agency penulis konten, misalnya Kontenesia, untuk segera belajar dan beradaptasi.
Menurut saya, ini cara terbaik untuk beradaptasi meski tarif akan lebih rendah dibandingkan jika berurusan langsung dengan klien.
Biasanya pemberi kerja melalui agency itu merupakan perusahaan besar sehingga kita juga cepat memiliki portofolio. Dan jujur saja, pemula belum bisa berhadapan langsung dengan klien perusahaan. Jangan buang waktu mengirim lamaran langsung ke perusahaan yang kamu target sebagai klien.
Jika lamaran ke agency belum berbalas, jangan putus asa, dan jangan cuma nunggu.
Silakan bergabung dengan marketplace bagi para freelancer, seperti Freelancer, bahkan Fiverr dan Upwork. Kalau belum pernah bekerja untuk klien, siapkan saja contoh yang bisa kita kerjakan sebagai portofolio. Ada juga Sribulancer dan project.co.id.
Jangan lupa siapkan paypal jika bergabung dengan marketplace internasional.
Jika ingin menawarkan jasa langsung ke klien, pilih konsumen skala UMKM. Jika punya kenalan yang baru memiliki bisnis dan punya website, tawari untuk menulis konten.
Bergabung dengan komunitas blogger juga membantu lho. Jangan ragu untuk mendaftar ya.
Bangun trust pelanggan
Klien memang banyak macamnya. Kadang ini masalah cocok-cocokan juga.
Namun, pada prinsipnya, usahakan memberikan yang terbaik sesuai yang kita janjikan.
Biasanya nih, setelah order pertama, akan lebih mudah untuk order selanjutnya. Nikmati prosesnya, dan jadikan setiap project adalah pembelajaran kita menuju lompatan berikutnya.
Semangat ya!
Sebagai penutup, saya cuma mau bilang bahwa menjadi penulis konten relatif mudah dilakukan bagi kita yang suka membaca dan menulis. Modalnya juga relatif minim. Alat yang dibutuhkan laptop standar saja, bahkan bisa kok mengandalkan laptop mini seperti Chromebook yang sering dipakai bocil SD sekolah online. 😀
Apakah saya pernah menjadi penulis konten?
Dulu, saya pernah dapat bulk order menulis konten topik anak-anak dan traveling. Kebutuhannya tinggi, total sekitar 300 artikel per bulan. Karena ada project lainnya yang sedang berlangsung, saya lantas mencari penulis tambahan lewat sejumlah kenalan dan marketplace. Saat itu kami pasang tarif sekitar Rp40.000 per artikel 400-500 kata (2016-2017).
Terus terang, bekerja sama dengan penulis konten pada saat itu lebih banyak dramanya. Sering banget aku di-ghosting huhuhu. Awalnya mengaku bisa dan biasa, kenyataannya zonk.
Akibatnya, saya harus kerja ekstra demi memberikan yang terbaik bagi klien. Apalagi biasanya, klien-klien saya sejauh ini selalu orang yang mendapatkan referensi dari orang yang saya kenal, atau klien saya sebelumnya.
Syukurlah, proyek itu bisa diakhiri dengan baik, dan saya juga mendapat pengalaman luar biasa. Dari kegiatan itu, saya juga belajar untuk mengenali kualitas dan karakter freelancer. Punya intuisi ini penting lho, apalagi di masa kerja sistem remote seperti saat ini.
Baca juga: 8 Cara Menghasilkan Uang dari Blog Pribadi, Kamu Juga Bisa.