Isi Artikel

Hidup sering menawarkan kelokan kejutan yang berujung pada pemandangan indah atau jurang. Kalau sudah melayang menuju jurang, seberapa besar rasa positif itu bisa membuatmu selamat?

Hidup sering menawarkan kelokan kejutan.

Kadang-kadang kelokan itu membawamu ke pemandangan indah bentangan samudera dengan langit biru.

Kadang membawamu ke jurang.

Kalau sudah melayang menuju jurang, seberapa besar rasa positif itu bisa membuatmu selamat?

Jika berbekal parasut, mungkin kamu bisa tetap positif dengan menggunakannya, lantas berharap mendarat nyangkut di pohon seperti Yoon Se-ri bertemu Kapten Ri Jhung Yuk (Crash Landing on You, 2019)

It’s just a perfect landing. (credit to The Swoon)

Jika tidak, sebesar apa rasa positif yang bisa kita munculkan?

Dulu, saya kira masalah optimis-pesimis, atau positif-negatif adalah tentang kepribadian.

Belakangan saya makin sadar, “positif” itu sudah demikian di-abuse oleh banyak motivator sehingga menjadi kedok “tidak bertanggung jawab”.

Don’t get me wrong. Saya tipikal orang positif.

Saya setuju rasa postif itu penting dalam menjalani hidup yang makin berat.

Selalu berusaha melihat kebaikan dari hal buruk. Selalu positif sampai detik-detik terakhir.

Tapi masalahnya, rasa positif itu baru akan konstruktif, jika tepat takaran dan timing-nya.

Seberapa besar rasa positif kita, dan kapan waktu yang tepat buat postif.

Pada akhirnya, kita harus positif berbasis data.

Disclaimer : sebagai lulusan matematika, saya sangat percaya dengan data.

Misalnya, kita sudah belajar rutin. Maka pada saat ujian, kita harus membesarkan rasa positif.

Tapi jika kita enggak pernah menyentuh buku, dan sangat positif dapat nilai terbaik, itu namanya takabur. *_*

Contoh lagi, kita ga mau liat kenyataan kalau penyebaran virus corona itu cepet banget. Kita cuma percaya Tuhan akan selamatkan.

Lalu, dimana letak ikhtiarnya?

Positif, atau careless?

Itulah kenapa, keyakinan tanpa data hanya akan menjerumuskan.

Kadar positif yang berlebihan sama buruknya dengan negatif yang kebablasan.

Kadar yang tepat, saya rasa, sangat dipengaruhi oleh kedewasaan kita.

Semakin mature, maka semakin tepat takaran positif dan negatif yang ia punya, bergantung pada data, waktu dan situasinya.

Masalahnya, kedewasaan tidak selalu berbanding lurus dengan usia, ataupun kepribadian seseorang.

Mungkin, kedewasaan lebih dipengaruhi oleh seberapa jauh kita mau bertanggung jawab pada diri sendiri dan orang lain.

Tentu saja kalau kita memang mau ambil peran bertanggung jawab ya.

Ilustrasinya begini.

Manusia berusia 20-an yang hanya membawa beban diri sendiri, umumnya siap dengan kejutan.

Saya pun begitu.

Photo by Vlad Alexandru Popa from Pexels

Saya ingat berpetualang ke negeri-negeri yang jauh berbekal modal minim (atau nekat?).

Enggak takut nebeng kapal, atau numpang tidur di rumah orang yang asing.

Selama perjalanan itu, saya bisa menikmati banyak hal, justru karena saya menantang diri untuk menerima banyak kejutan.

Dengan bertambahnya usia dan tanggung jawab, saya tak lagi terlalu berani menantang kejutan.

Kenapa? Karena taruhannya terlalu besar buat saya. Ada hidup orang lain, dalam hal ini, anak saya, yang akan dipengaruhi oleh setiap keputusan yang dibuat orangtuanya.

Saya mulai hidup dalam flowchart, diagram alir.

Jika ini, maka saya harus melakukan itu. Jika begitu, maka saya akan melakukan ini.

Tanggung jawab bertambah ketika mulai usaha dan mulai punya karyawan. Hidup harus berdasarkan kerangka.

Bahkan ketika sudah menetapkan kerangka ini pun, tak sedikit kejutan ‘menyebalkan’ yang terjadi.

Misalnya, ditipu teman hingga berimbas pada kerugian material yang lumayan besar, serta nama buruk.

Kejutan-kejutan itu ternyata masih sulit diantisipasi, bahkan ketika sudah mulai hidup dalam kerangka.

Apalagi yang tanpa kerangka.

Gerbang logika Boolean

Dulu saat belajar aljabar, saya kenalan dengan logika Boolean yang hanya mengenal dua tipe data. Yaitu benar atau salah.

Hitam atau putih, enggak ada abu-abu.

Ketika mulai menjalankan usaha sendiri, mulai punya karyawan, mulai punya lebih banyak tanggungjawab, saya teringat logika Boolean.

Barangkali gerbang logika Boolean bisa diterapkan pada banyak keputusan, setidaknya untuk menakar rasa positif menjadi lebih realistis.

Sebab saya tahu, rasa positif yang kelewatan bisa membawa semuanya jatuh ke jurang.

Logika Boolean hanya mengenal benar, atau salah.

Tinggal kita tetapkan saja, apa saja yang benar dan apa yang salah.

Keterbatasan ini semata untuk memperkecil risiko kehancuran banyak orang.

Sebab bisnis adalah tentang orang. Bukan semata produk atau jasa yang kita hasilkan, atau seberapa besar keuntungan yang kita kejar.

Bisnis terutama tentang karyawan yang bersama-sama kita menempuh masa sulit, serta klien yang kita bantu, dan masyarakat yang terdampak.

Well, untuk hal ini saya setuju dengan pandangan Park Sae ro-yi (Itaewon Class, 2020).
Uhuk!

Entrepreneurship bermodal dendam ala Itaewon Class (2020) -Credit to The Swoon

Setiap orang yang menjalankan usaha, mungkin punya parameter keberhasilan yang berbeda.

Setiap orang yang menjalankan hidup, akan punya parameter kesuksesan masing-masing.

Ukuran itu, tentu jadi hak utuh kita berdasarkan values yang kita yakini, berdasarkan apa yang paling penting buat kita.

Waktu. Uang. Ekspresi. Atau apa?

Values yang kita pilih menentukan sikap dan tindakan kita.

Dan lucunya, values yang kita tetapkan akan menarik kelokan-kelokan kejutan dalam hidup (yang kita kira random).

Karena sebetulnya, kelokan hidup itu enggak random.

Manusia dan kehidupannya, hanyalah setumpuk data yang berulang.

“Kita” saat ini adalah konsekuensi keputusan-keputusan sebelumnya. Jika kita ingin “kita” yang berbeda di lima tahun mendatang, ubah polanya, bangun data baru.

Ketika kita punya data baru, kelokannya mungkin saja akan berbeda.

Maka sebelum kelokan itu datang, ingatlah 7 Habbit ala Stephen Covey.

Tetapkan hidupmu dari ujung, goals apa yang kita mau. Lalu susun langkah menuju itu. Antisipasi risikonya.

Kelak, ketika kita sudah memulai langkah, akan ada kelokan yang belum terlihat (apakah pemanangan indah atau jurang).

Itulah saatnya kita menakar rasa positif, tentu harus berbasis data atau antisipasi yang kita punya.

Yang penting, kita tahu betul ketahanan kita.

Seberapa lama kita mampu bertahan melihat kelokan panjang sebelum melihat pemandangan indah.

Atau seberapa lama kita mau melayang jatuh ke jurang sebelum menggunakan parasut.

Photo by Designecologist from Pexels

Kalau sendiri, mungkin bisa saja bertahan, dikuat-kuatin.

Kalau harus bareng-bareng melayang di jurang, siapkan parasut buat orang lain.

Atau setidaknya, beri tahu mereka agar mereka bisa menyiapkan parasut sendiri.

Mungkin ini rasa positif yang lebih bertangungjawab.

Rasa positif berbasis data.

Sehingga ketika waktunya pengambilan keputusan, kita bisa lebih berani menetapkan. Be decisive.

Toh pada akhirnya tak ada keputusan salah.

Karena yang sudah terjadi pasti sudah yang terbaik buat kita.

Kelak, “keputusan-keputusan salah” itu pada akhirnya, akan terlihat sebagai batu lompatan menuju apa yang kita inginkan.

Dan akhirnya, barulah kita bisa bilang All isWell.

Bukan karena positif yang membabi buta, tapi lebih karena rasa positif yang bertanggung jawab.

Arkeans, be strong.

Current mood: eager to revisit some new year’s decision

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Blog

Recent Posts

Positif!

Hidup sering menawarkan kelokan kejutan yang berujung pada pemandangan indah atau jurang. Kalau sudah melayang menuju jurang, seberapa besar rasa positif itu bisa membuatmu selamat?

Hello world!

Mudah-mudahan blog ini bisa segera ada isinya, berwarna, dengan hal-hal yang membahagiakan, memperkaya, dan menumbuhkan diri tanpa tuntutan menjadi sempurna.