Review Ali dan Ratu-Ratu Queens, Film Indonesia Tayang Global di Netflix

Dibaca normal : 4 menit

Dengan sejumlah adegan yang terasa jumping dan gak rasional, sulit buat saya merasakan pesan sesungguhnya dari film Ali dan Ratu-Ratu Queens.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on email

Klik tanda di kanan untuk menutup atau membuka menu ini

Senang rasanya melihat ada sinema Indonesia Ali dan Ratu-Ratu Queens di layanan streaming favorit, Netflix. Begitu beres kerjaan, langsung deh cuss nonton sebelum episode 1 Hospital Playlist tayang. 

Disutradarai oleh Lucky Kuswandi yang pernah menyutradarai film Galih dan Ratna, dan ditulis oleh Gina S. Noer, penulis cerita Dua Garis Biru, film ini mengangkat arti sebuah keluarga, serta perjuangan mengejar mimpi yang berlatar dinamika kehidupan imigran di Queens. 

Sinopsis Ali dan Ratu-Ratu Queens

Bagi banyak orang di dunia, New York City (NYC) adalah kota penampung impian dan asa. Hampir setengah populasinya merupakan imigran dari seluruh negara, dan sekitar 800 bahasa digunakan di sana. 

Kota yang tak pernah tidur itu seolah menjadi destinasi pencapaian, seperti lirik lagu legendaris  New York, New York  yang dinyanyikan Frank Sinatra, “If I can make it there, I’ll make it anywhere”. 

Pergi ke NYC untuk mewujudkan impian, hampir seperti pertaruhan nasib. 

Latar itu lah yang menjadi awal cerita Ali dan Ratu-Ratu Queens. Dikisahkan, seorang perempuan pergi ke NYC, meninggalkan tanah air, suami dan putra tunggal (Ali-diperankan Iqbal Ramadan) yang masih bocah. Impiannya: menjadi penyanyi di NYC.

Belasan tahun kemudian, Ali menjadi anak yatim. Ia belum lama lulus SMA ketika sang ayah meninggal. Saat beberes rumah, Ali menemukan surat-surat dari sang ibu, dan dua tiket yang sudah kadaluarsa. Ia tahu tak bisa menunggu lagi dan mulai berniat mencari sang ibu. 

Seperti ibunya, Ali  bertaruh dengan nasib, dan pergi ke NYC bermodal harapan. 

Ali tiba di kawasan Queens, borough terbesar NYC yang menjadi kantong imigran, termasuk orang-orang Indonesia. Ia mendatangi alamat lama sang ibu dan mendapati empat ahjumma tante yang menghuni apartemen itu, yakni Parti (Nirina Zubir), Biyah (Asri Welas), Ance (Tika Panggabean), serta Cinta (Happy Salma). 

Rupanya tante Parti mengenal sang ibu. 

Ali pun tinggal menyewa salah satu kamar di situ, dan keempat tante  sepakat membantu Ali menemukan sang ibu. 

Lantas, akankah Ali menemukan sang ibu? Seperti apa kehidupan di sana? Apakah Ali berhasil membawa ibu pulang ke Indonesia?

My Two Cents Comment 

Hal menyenangkan dari film Ali dan Ratu-Ratu Queens adalah melihat persahabatan empat perempuan Indonesia di kota yang tak pernah tidur itu.

Ada hal-hal menyentuh tentang persahabatan  teman serumah. Kamu yang pernah ngontrak rumah bareng-bareng, pasti paham. 

Tapi, sayangnya, terlalu banyak hal yang bikin mikir “kok gini sih?”

Sampai film berakhir, alasan sang ibu meninggalkan Ali, masih terasa enggak masuk akal. 

Bener, setiap orang boleh punya mimpi. Punya impian pergi ke bulan juga bebas. 

Tapi sang ibu yang bermimpi nyanyi jauh-jauh ke Amrik tuh tadinya gimana sih? Kita enggak mendapat cukup informasi tentang ini, selain rekaman video dia main piano di rumah. 

Okelah, bukan cuma Agnes Monica yang boleh mimpi merilis album internasional.  Tapi bu Mia ini ngapain sih awalnya kok sampai punya impian gitu, sampai harus meninggalkan anak. 

Ketiadaan informasi ini menjadikan adegan-adegan selanjutnya semakin ga masuk akal. 

Secara kultur, perempuan Indonesia yang sudah punya anak, umumnya akan dihantui rasa bersalah ketika harus meninggalkan si anak. Ini hal yang biasa kita lihat, dan mungkin kita rasakan. 

Sementara ibunya Ali yang digambarkan sebagai ibu baik dan sayang anak, memilih terbang sendirian ke big apple meski sang suami keberatan. Tanpa terlalu cemas, selain adegan pelukan sebelum naik taksi. 

Apakah masuk akal dengan latar belakang itu? 

Beda cerita kalau ia dikisahkan dapat beasiswa. 

Atau diundang ngapain kek ke sana. Lalu pergi, dan memutuskan enggak pulang. 

Atau seperti temanku bilang, “Pergi ke AS sekalian bawa anak. Nekat sekalian.”

Begitulah, pondasi awal kisah yang enggak solid ini membuat film sulit dinikmati. Pada adegan-adegan selanjutnya,  saya semakin merasakan loncatan adegan yang terasa enggak rasional.

Banyak detail yang terabaikan sehingga adegan terasa seperti tempelan yang cuma ngabisin durasi aja.  

Ali pergi ke Amerika Serikat dengan uang Rp28 juta? C’mon! Ini menyesatkan deh ah. Ngerti cuma fiksi, tapi kan gak bisa asal.

Tak ada adegan terkait surat sponsor dari AS. 

Artinya, Ali pergi dengan visa turis. Padahal, visa turis itu punya syarat rekening koran bersaldo minimal Rp100 juta per bulan, selama 3-6 bulan. Tak ada informasi apakah tabungan bapaknya cukup banyak, atau barangkali klaim asuransi jiwa?  

Apa saya aja yang kudet ya? Asik banget kalau bisa ke AS bermodal kurang dari 30 juta! (Please inform me, kalau ada yang tau yaaa)

Ali terbang dari Jakarta ke NYC, dan tiba di sana tanpa terlalu shocked. Udah kaya pergi dari Jakarta ke Bandung lah gitu. Padahal itu pertama kalinya dia pergi ke AS. 

Tau-tau udah keluar dari stasiun metro di Queens aja. Baru pada adegan-adegan berikutnya, ada adegan para tante nunjukin kartu metro/subway berwarna kuning. Err. La sebelumnya kan si Ali mah udah experience naik subway toh?

Kesel aku tuh.

Kemudian, satu yang saya sesalkan, kenapa tak ada satupun adegan yang menunjukkan bahwa orang Indonesia bisa bekerja di sektor formal di AS. Toh itu bukan kebohongan. 

Satu contoh saja, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, di masa mudanya, pernah kerja di biro arsitek di NYC. Itu tahun berapa? Tahun 1998-1999. 

Saat sempat ke sana tahun 2007, saya bertemu desainer busana houte couture asli Indonesia berkarier di NYC. Sempat bertemu juga dengan wartawan, pianis, web developer, animator, konsultan NGO, peneliti, serta desainer brand, yang semua orang Indonesia.

Artinya, gambaran orang Indonesia yang punya kerjaan bergengsi tuh sangat dimungkinkan. Biar ada sedikit pride lah gitu.  

I mean, ini kan tayang di Netflix,  global pula. Teaser-nya aja tayang di Times Square. Apa enggak pengen masukin citra Indonesia yang lebih keren gitu? 

Namun rupanya sutradara dan penulis lebih suka menggambarkan semua orang Indonesia di film ini bertahan hidup sebagai pekerja informal. Enggak salah sih, cuma jadi terkesan inferior.

Parti bekerja sebagai pembersih rumah, dan Cinta, seperti Phoebe di serial Friends, mendapatkan uang dari jasa pijat. 

Biyah, aku ga tau deh kerjaannya apa. Ia digambarkan main catur di taman dengan taruhan, senang membeli lotre, dan memotret selebritas. Dengan ‘kerjaan’ seperti itu, masih bisa hidup nyaman di kamar apartemen. Daebak, lah. 

Okelah jika ingin tetap ada empat tante bertahan hidup sebisanya. Tapi jika ada satu saja karakter ‘citra sukses di NC’ tentu bisa memberi kesan lebih kuat tentang Indonesia  pada sebuah film produksi anak bangsa yang tayang internesyenel. Iya enggak sih? 

Overall, dengan sejumlah adegan yang terasa jumping dan gak rasional, sulit buat saya merasakan pesan sesungguhnya dari film yang diharapkan menyentuh ini. 

IMHO. 

Foto-foto: Palari Films

Baca juga:
Hospital Playlist Season 2, Kisah Hangat dari Dunia yang Utopis

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on email

2 thoughts on “Review Ali dan Ratu-Ratu Queens, Film Indonesia Tayang Global di Netflix”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Klik tanda di kanan untuk menutup atau membuka menu ini

Dapatkan diskon 5% dengan klik iklan ini dan menuliskan kode: sic5
BloG

Drakor, buku, dan celotehan lainnya.

Baca topik lainnya: