Review Drakor Sweet Home, Kisah Horor Rasa Bawang

Untuk pertama kalinya, saya mewek di tengah-tengah drakor horor yang super intens.

Loncat baca ke...

Setelah menamatkan drakor Start-Up yang berakhir pada 6 Desember 2020, saya sebetulnya janji untuk break dulu selama bulan Desember. Maklum, lagi hang-over gara-gara Start-up.

Berbagai judul drakor baru saat itu enggak bikin saya nengokin Netflix atau Viu. Meski beberapa diantaranya cukup sering digibahkan jauh-jauh hari, seperti True Beauty, Mr. Queen, bahkan aksi Ji Chang-wook dan Kim Ji-won dalam Lovestruck in the City.

Tapi, janji itu pada akhirnya saya batalkan dengan sadar ketika drakor Sweet Home rilis di Netflix, Jumat, 18 Desember 2020.

Wadaw!

Karena tayang sebagai original series yang langsung full 1 season, plus hari Jumat adalah hari paling sempurna buat marathon drakor (apalagi cuma 10 episode), jadilah…. hajar!

Dan.. saya sama sekali tidak menyesal menikmati drakor Sweet Home di akhir pekan. Cuma, nulisnya telat nih. 😀

Alasan menonton drakor Sweet Home

Sweet Home disutradarai Lee Eung-bok.

Sejauh ini, sutradara ‘spesialis budget mahal’ itu selalu berhasil menghadirkan drakor mega hits. Dia paham dan bertanggungjawab dalam mengoptimalkan budget besar menjadi tontonan yang menarik dan populer.

Tema sejarah, digarap cakep, jadinya Mr Sunshine.

Tema romance, digarap indah jadi drakor kesukaan jutaan umat, Descendant of The Sun. Tema fantasi, jadi drama visual indah Goblin.

Yang paling khas dari Eung-bok, semua visual drakor garapannya tuh estetis. Framenya terasa pas, dan kaya analogi.

Lee Eung Bok mampu bikin sesuatu yang biasa atau malah sulit jadi tontonan yang indah dinikmati dan meninggalkan kesan mendalam.

Sumber: Youtube – Netflix

Berhubung drakor Sweet Home merupakan adaptasi kisah horor di Webtoon, saya super penasaran pengen liat seperti apa sentuhan Eung-bok pada kisah horor.

Untuk drakor ini, Netflix bahkan berani berinvestasi dana produksi sekitar Rp34-35 miliar per episode. Daebak!

Cerita populer

Di platform Webtoon, Sweet Home yang ditulis oleh Kimcarnby dan digambar oleh Young Chan Wan ini sudah dibaca total 1,2 miliar kali secara global.

Ya emang sih, karya bagus ga selalu populer, dan begitu juga sebaliknya. Namun, angka pembaca segitu banyak, bahkan secara global, bermakna ada nilai-nilai universal yang disepakati banyak pembaca.

Saat drakor ini tayang, saya juga belum pernah membaca kisah aslinya di Webtoon.

Song Kang (Hyun-so) dan Lee Do-hyun (memerankan Eun-Hyeok)

Casting

Nama-nama pemeran drakor Sweet Home pasti familier di kalangan penonton drakor.

Song Kang yang populer karena mini drama romantis anak sekolahan Love Alarm, saya rasa telah mengambil keputusan tepat lewat drakor horor ini.

Begitu juga dengan Lee Do-hyun; si pangeran kunang-kunang dalam Hotel de Luna (2019), ataupun Park Gyu-young; si perawat manis di Its Okay Not To Be Okay (2020) yang bertepuk sebelah tangan.

Kehadiran aktris Lee Si-young yang juga juara kick boxing amatir juga cukup menarik saya.

Saya pernah menonton aktingnya sebagai saudara perempuan yang lemah sama cinta di drakor Liver or Die, tapi enggak nyangka dia bisa tampil setangguh ini.

Lee Si Young menyiapkan diri enam bulan untuk otot-otot ini.

Sinopsis Drakor Sweet Home

Drakor Sweet Home mengisahkan perjuangan para penghuni apartemen Green Home dalam memerangi para monster yang muncul karena suatu wabah.

Kisah dibuka dengan adegan malam penuh salju. Mungkin lebih dari satu batalion tentara bersiap di barikade, masing-masing memegang senjata.

Lalu seorang remaja berjalan pelan tanpa alas kaki, menginjak salju yang dalam. Tentara bersiap menembak, dan mulai melepaskan peluru.

Remaja itu bergeming, dengan pakaian compang camping, di tengah hujan salju malam hari. Wajahnya disinari lampu mobil -mobil jip militer.

Pembuka yang grande itu cukup memberi kesan. Lalu penonton dibawa mundur sebulan sebelumnya.

Remaja yang sama, tampak memanggul ransel dan membawa layar monitor. Ia berjalan seperti orang linglung, dengan celana dan jaket training, lengkap dengan sandal rumahan, di lingkungan apartemen kumuh Green Home.

Rasa horor muncul ketika pisau pemotong rumput melayang tiba-tiba, nyaris mengenai lehernya.

Remaja itu, Cha Hyun-soo (diperankan Song Kang) terhenyak. Hari pertama ia pindah ke tempat baru sudah disambut ancaman kematian.

Hyun-so sebatang kara setelah keluarganya meninggal dalam kecelakaan mobil. Ia yang lebih asyik dengan game dan tak ikut berlibur, selamat dari kecelakaan.

Namun Hyun-so yang cuma ditinggali sedikit uang, merasa tak ada gunanya hidup. Ia pun merencanakan hari bunuh diri.

Ia tak menyangka, hari bunuh dirinya menjadi titik balik kehidupannya.

Adegan selanjutnya memperkenalkan para karakter penghuni Green Home. Hingga kemudian wabah virus itu menginfeksi sejumlah penghuni, menjadikan mereka monster yang mengerikan.

Hyun-so pun terinfeksi. Namun, ingatlah hukum dan proses monsterisasi ini. Seseorang menjadi monster ketika ia punya ambisi dan hasrat yang berapi-api.

Sedangkan Hyun-so, manusia tanpa ambisi yang berencana bunuh diri sehingga proses monsterisasinya berjalan lambat, bahkan bisa ditahan.

Ia pun bisa berinteraksi dengan para penghuni lain, bahu-membahu saling melindungi. Hyun-so yang ketahuan terinfeksi pun sempat mengalami diskriminasi, meski dimanfaatkan habis-habisan oleh para manusia yang belum terinfeksi.

Jadi, siapa sesungguhnya yang monster?

My Two Cent Comment

Visual

Enggak tau deh ngomong apa. Visual drakor ini juara. Efek CGI nya luar biasa, makanya wajar kalau mahal.

Pilihan angle kamera juga pas banget. Banyak darah dan adegan sadis (makanya ini masuk 19+), tapi dalam frame yang indah ala Quentin Tarantino. Tau kan adegan banyak darah dalam frame indah berlatar belakang musik yang terasa “kawin” banget sama adegannya? Ya kayak gitu.

Salah satu adegan yang ‘kawin banget’ dengan musik latar (Sumber : Youtube-The SWOON)

Level sadisnya masih di bawah film Kill Bill 1. Bahkan banyak adegan yang mengharukan untuk drama horor.

Ketika Hyun-so harus dipisahkan karena penghuni lain ketakutan, hingga kemudian mereka menerima Hyun-so berbagi ruang.

Ketika kakak beradik yang tak banyak bicara sebelumnya menjadi begitu dekat.

Ketika istri yang tertindas puluhan tahun dalam pernikahannya akhirnya mendengarkan pemintaan maaf.

Ketika para perempuan, yang awalnya ketakutan, justru berproses dan beradaptasi dengan cepat, menjadi jagoan. Baddass!

Bahkan ketika cinta yang mulai mekar harus kembali layu.

Duh, maaf ya, saya berusaha menghindari spoiler. Tapi begitu banyak adegan juara dalam drakor ini. Serius!

New Crush

Semua pemeran bermain luar biasa. Beneran.

Semua karakter unik dan sangat kuat, Kita bisa lihat bagaimana mereka berubah ke satu titik ekstrem. Drama ini begitu hidup, dengan semua karakter yang berhasil jadi bintang untuk setiap adegan mereka.

Park Go-young memerankan Ji Su.

Saya cukup surprise melihat Park Go-young yang begitu manis dalam Its Okay Not To Be Okay, tampil tomboy dan keren sebagai pemain basis, Yoon Ji-su. Keren deh.

Lagu lawas Meet You by a Chance milik band Song Gol Me yang populer era 80-an muncul mengenalkan karakter Ji-su. Beatnya emang enak banget. Penonton Hospital Playlist pasti familier.

Aktor lain yang menarik perhatian ialah Kim Nam-hee.

Selama ini Nam-hee memang tidak memainkan protagonis utama meski sudah cukup sering terlibat dalam drakor.

Kim Nam-hee sebagai Jung Jae-heon.

Namun saya berani bertaruh, banyak penonton Sweet Home yang sayang dengan karakter Jung Jae-heon, guru bahasa yang sedang berusaha menjalankan hidup sesuai iman Katolik yang taat.

Penonton pasti merasa mak nyess pada adegan Jae-hon dan Ji-su (atau malah hapal dialognya), lalu nangis bombay ketika Jae-heon berusaha bertahan.

Dengan porsi adegan yang diberikan, Nam-hee berhasil menampilkan akting yang kuat dan membekas lama.

Pesan

Berbalut kemasan horor-fantasi, dan romansa tipis-tipis, drakor Sweet Home ini menampilkan pesan kemanusian yang kuat.

Para penghuni Green Home

Dalam situasi terjepit, ketika semua orang mau cari selamat, apakah kita semua masih berlaku seperti manusia? Atau sudah saling menerkam seperti monster yang membabi buta?

Sebab pada situasi penuh ketidakpastian, ketakutan, dan kecemasan, di saat itulah jati diri manusia yang sesungguhnya mengemuka. Nilai-nilai sebagai manusia diuji dalam memenuhi hasrat manusia paling sejati: bertahan hidup.

Lewat analogi monster, Sweet Home memunculkan pilihan: apakah kamu mau mati sebagai manusia, atau bertahan hidup sebagai monster yang memakan manusia lainnya?

Bukankah hidup juga begitu?

Sweet Home yang tayang di masa pandemi ini sedikit banyak mengingatkan kita pada sifat egois yang sebetulnya manusiawi, namun bisa membahayakan orang lain.

Aksi nyetok hand santizier dan masker di awal pandemi.

Atau perilaku abai atas ancaman Covid-19 dengan berkerumun tanpa menjalankan protokol kesehatan, sehingga rumah sakit makin penuh dan para tenaga kesehatan justru menjadi korban.

Bukankah itu juga perilaku monster?

Drakor ini super intens, dengan pace yang terjaga sejak episode pertama. Solid! Meski lumayan mencekam, Sweet Home ini bukan jenis horor-thriller menakutkan level 100

Sumber: Youtube – ThePINK

Sweet Home adalah drakor horor yang ‘indah’ dan mengharukan, salah satu drakor terbaik yang pernah saya tonton.

sicaharum.com

Sumber foto: Netflix

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Loncat baca ke...

Blog

Recent Posts