Review Youth of May, Cinta Merekah di Gwangju yang Berdarah

Dibaca normal : 4 menit

Pemandangan bulan Mei yang indah di Korea Selatan, akan selalu diwarnai kenangan kelam pemberontakan Gwangju 1980.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on email

Klik tanda di kanan untuk menutup atau membuka menu ini

Sejak episode pertama Youth of May tayang di awal bulan Mei, saya sudah punya feeling: drama ini kayaknya bakal manis tapi bikin perasaan campur aduk. 

Kenapa? 

Karena genre drama ini ialah melodrama, dengan latar Gwangju, dan judulnya Youth of May

Lee Do-hyun dan Go Min-si

Bulan Mei di Korea Selatan ialah bulan peralihan dari musim semi ke musim panas. Kebayang kan indahnya lanskap kota dengan bunga bermekaran. 

Tapi Mei 1980 di Gwangju adalah periode kelam bagi Korea Selatan. 

Gerakan Demokratisasi Gwangju 18 Mei, yang berakhir pada 27 Mei, berujung pada banyak korban, dan luka mendalam bahkan sampai saat ini. Diperkirakan, setidaknya 600 orang tewas.

Banyak masyarakat dan mahasiswa menjadi korban aksi brutal tentara Korea Selatan di bawah komando rezim saat itu. 

Peristiwa tersebut dikenal juga dengan nama Gwangju Uprising. 

Karena itu, saya sudah 90% yakin kalau Youth of May bakal punya ending tragis. 

Tapi gimana ya, saya lemah sama Lee Do-hyun.

Gimana dong, kak? 

Apalagi di drama ini, ia beradu akting dengan aktris Go Min-si. 

Saya penasaran sama aktris baru ini sejak ia tampil di Sweet Home, lalu dikabarkan akan main dalam drama Mount Jiri, karya penulis Kim Eun Hee.  

Berhubung cukup ngefans dengan karyanya, antara lain Signal dan Kingdom, makanya, jadi kepo sama Minsi. 

Minsi dan Dohyun juga pernah adu akting keren sebagai  kakak adik dalam Sweet Home, drakor horor penuh bawang itu. 

Jadi… dah lah. Meski was-was dengan ending yang mungkin bikin susah move on, lets bring it on! 

Alur Cerita Youth of May

Bulan Mei, aksi demonstrasi yang memprotes rezim saat itu mulai memanas di sejumlah kota, termasuk di Seoul dan Gwangju. 

Seorang pemuda, mengendarai mobil atap terbuka, membelah barisan mahasiswa yang tengah berdemo di kampus, di Seoul. Dilihat dari penampilannya, ia anak orang berada. 

Pemuda itu, Hwang Hee-tae (diperankan Lee Do-hyun), mahasiswa kedokteran perguruan tinggi bergengsi Seoul National University. Ia tampak tak ingin tahu dan tak ingin terlibat dalam aksi demo mahasiswa. 

Oleh teman-temannya, ia diolok karena tak turun ke jalan. Namun anak muda ini tak ambil pusing. Ia punya urusan lebih penting, memenuhi keinginan sahabat yang sedang sekarat dan ingin pulang kampung ke Gwangju.

Untuk itu ia naik kereta dari Seoul ke Gwangju, mengurus pemindahan seorang pasien ke kampung halamannya. 

Heetae sendiri asli Gwangju. Ayahnya, seorang pejabat penting, kepala Badan Investigasi Komunis di Gwangju. Tapi hari itu, ia tak berniat pulang ke rumah.   

Begitu tiba di Gwangju, Heetae segera ke rumah sakit. 

Di tengah perbincangan dengan direktur rumah sakit,  seorang pasien yang marah masuk bersama perempuan perawat. Tubuhnya yang besar  tak sebanding dengan tubuh mungil perawat itu. 

Tangan pasian itu mencengkram kerah si perawat. Tapi dengan sekali gerakan, pasien itu takluk. 

Heetae terngaga, tanpa dia sadari, nasibnya dengan perempuan itu sudah begitu dekat.  

Si perawat, Kim Myung-hee (diperankan Go Min-si), adalah pekerja keras andalan rumah sakit tersebut. Ia tak banyak omong, bekerja dalam diam.  

Ia juga anak perempuan sulung keluarga miskin yang tak punya banyak pilihan.

Saat menerima pengumuman penerimaan kuliah di Jerman, ia berteriak girang. Kuliahnya dijadwalkan mulai 1 September 1980. 

Beasiswa sudah di tangan lewat bantuan gereja. Tapi ia tak punya uang untuk membeli tiket berangkat ke Jerman. 

Myunghee punya sahabat tajir, Lee Soo-ryeon (diperankan Keum Sae-rok). Aktivis perempuan ini anak pengusaha besar di Gwangju. 

Namun, untuk pinjam uang kepada Soo-ryeon, Myunghee merasa sungkan. 

Lalu kesempatan itu datang. 

Soo-ryeon meminta Myunghee menggantikan dirinya dalam sebuah kencan buta yang diatur ayahnya. Sebagai bayaran,  Soo-ryeon berjanji akan membelikan tiket pesawat ke jerman. 

Kencan buta, pertemuan keempat kali tanpa disadari.

Meskipun was-was, Myunghee menyanggupi hadir di kencan buta. Ia dibekali sejumlah tips dari Soo-ryeon agar si lelaki tak suka, dan kencan itu tak berlanjut. 

Tak disangka-sangka, lelaki di kencan buta itu ialah Heetae, yang sudah melihat Munghee berkali-kali.

Pertama kali di rumah sakit.

Lalu di rumah seorang teman.

Berlanjut di jalan, sebelum kencan buta.

Jadi Heetae tahu betul, Myunghee bukan Soo-ryeon, anak pengusaha yang dijodohkan dengan dirinya.

Tapi Myunghee tak tahu apa-apa.

Sementara Heetae udah kadung jatuh cinta.

Kencan buta itu jadi awal perjalanan kisah Myunghee dan Heetae.

Tak selalu mulus, penuh letupan, penuh kekhawatiran di tengah situasi Gwangju yang makin mencekam,  tapi juga manis. Memorable banget lah.

My Two Cent Comment 

Drama Korea Youth of May menawarkan romansa di tengah turbulensi situasi politik yang penting di Korea Selatan. 

Jadi, wajar jika sejumlah episode ditonton dengan penuh kekhawatiran: khawatir bakal kenapa-kenapa sama Myunghee dan Heetae. 😀 

Namun dua episode awal masih bisa ditonton dengan penuh senyum, mengingat interaksi Myunghee dan Heetae yang super gemash.

Semakin bertambah episode, alur cerita membawa kita pada manis pahitnya kisah mereka. Ikut khawatir, sedih, patah hati, lalu gembira lagi ketika mereka menyerah pada suara hati dan memutuskan untuk selalu bersama. 

Selain Myunghee dan Heetae, kisah-kisah karakter lain juga sangat kuat. 

Ada ayah yang mencintai anaknya tapi tak berbalas.

Ada juga ayah yang akhirnya ditolak keluarga.

Ada kakak yang terlalu naif melihat dunia.

Ada persahabatan, serta kesalahpahaman antar teman.

Semua karakter dalam drama ini cukup kuat. Pilihan-pilihan sikap mereka terasa sangat masuk akal, sebagai konsekuensi cara mereka hidup sebelumnya.

Suasana darurat militer, yang kemudian berlanjut dengan  aksi brutal tentara, digambarkan cukup mencekam untuk sekelas drama yang tayang di televisi publik dan rating usia 15 tahun.

Tentu saja, tak sebanding dengan gambaran di Taxi Driver (2017) misalnya. 

Meski begitu, saya cukup dibuat deg-degan terus liat Heetae yang setengah mati njagain Myunghee yang keras kepala. 

Dan pada akhirnya, romantisme 80-an yang minim gawai, perdebatan, kencan sederhana, hingga panggilan sopan antar pasangan, terasa penuh makna dengan latar peristiwa Gwangju Uprising. 

Pada episode finale, Heetae menyadari bahwa doanya setiap pagi, telah terjawab.

Duh, coba aja dia ga berdoa begitu.

Oh Man Seok yang dingin dan ditakuti.

Memang harus diakui, beberapa hal dalam drakor ini, terutama pada episode final, agak terasa mengganggu. Apakah karena hanya 12 episode jadi harus dipadatkan? Atau memang ini sejenis plot hole yang enggak tertolong lagi? 

Masalah ending yang diprotes netizen Indonesia itu memang sama sekali enggak mengganggu saya.

Justru salah satu yang masih mengganggu, kenapa sampai butuh waktu 41 tahun untuk mengungkap kejadian di hari itu.  Aku ga bisa terima. huhu.

Lainnya, gak masalah.

Properti tahun 80-an oke. Kayanya ada jasa penyewaan properti 80-an deh di sana. Hahaha. Soalnya, Reply 1988 ataupun When My Love Blooms, juga oke props-nya.

Pemilihan casting terasa tepat. Go Minsi dan Lee Dohyun membuat drakon ini sulit terlupakan. Mereka termasuk aktor dan aktris bagus yang bisa kita harapkan berkarier panjang. 

Saya juga cukup happy dengan kehadiran Lee Sang-yi (yang tampil seru bersama Lee Da-in dalam Once Again) pada drama ini. Serta Oh Man Seok yang tampil dingin dan kejam, bener-bener sukses bikin sebel.

Lee Sang-yi

Overall, it’s worth watching, even to cry. 

Youth of May mengingatkan atas sebuah keberanian untuk membuka hati, menerima cinta, menjaganya, lalu melepas ketika tiba waktunya.

Drama Korea Youth of May tayang di platform Viu, cocok jadi tontonan marathon di akhir pekan. 

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on email

2 thoughts on “Review Youth of May, Cinta Merekah di Gwangju yang Berdarah”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Klik tanda di kanan untuk menutup atau membuka menu ini

Dapatkan diskon 5% dengan klik iklan ini dan menuliskan kode: sic5
BloG

Drakor, buku, dan celotehan lainnya.

Baca topik lainnya: