Work From Bali, Waspadai Distraksi

Wajar-wajar saja buat euforia di dua minggu pertama Work From Bali lah ya.

Table of Contents

Dibaca normal : 3 menit

Sampai di Bali, yippie!!!

Setelah road trip panjang dari Depok, termasuk istirahat dan ngelencer tipis-tipis di Yogya, sport jantung sepanjang jalur hutan Baluran hingga transit semalam di Banyuwangi, hingga perjalanan indah setelah Gilimanuk, sampai juga di Rumah Nakula Apartment, Legian.

Baru lepas isya, tapi rasanya badan rontok. Senang, tapi lelah. Lega rasanya sudah parkir di ‘rumah sementara’ kami di Bali. Paling tidak, sebulan ke depan.

Apartemen ini 3 lantai -seperti kebanyakan bangunan tinggi di Bali yang tergolong enggak tinggi- dan tentu saja tanpa lift. Alhamdulillah, jauh-jauh hari sudah memastikan unit di lantai 1, di depan kolam renang. Proses angkut barang relatif mudah karena memang ga banyak bawaan. Sekadar baju, alat masak, dan printilan kecil lainnya. Enggak banyak, tapi cukup banget.

Apartemen Nakula, 1 kamar tidur, plus kamar mandi, dapur dan living room.

Seminggu sampai dua minggu pertama, mood turis masih terasa kental. Bepergian ke banyak tempat, menjajal vibes di banyak pantai. Setiap pukul 3 sore, laptop tertutup dan kaki melangkah ke parkiran mobil. Waktunya jalan-jalan!

Bersyukur bisa memilih sedikit project. Hal langka buat freelancer ialah bisa mendapatkan sedikit project yang berbayar besar. Karena di lapangan, sering kali terjadi sebaliknya. Tapi, yakin aja sih. Suatu saat pasti dapat kok project yang cukup buat setahun atau beli rumah cash, seiring dengan skill, pengalaman, dan network.

Anyway, kerjaan freelance juga yang memungkinkan saya pindah dari Depok, ketika ibu kota sudah terasa menyesakkan. And here I am, in the most beautiful island in the world. Ehem!

Jadi, wajar-wajar saja buat euforia di dua minggu pertama lah ya. Kita juga enggak bisa terlalu keras sama diri sendiri. Apalagi mood liburan ala turis Jakarta masih begitu kuat. Dan ini lah tantangan besar buat Work From Bali: menghalau distraksi.

Buat yang lemah iman, banyak-banyak berdoa deh buat dikuatkan agar tak lewat deadline. Ini cara saya ‘berdamai’ dengan distraksi. Barangkali bermanfaat buat kamu yang mau bekerja dari Bali, atau tempat indah lainnya di muka bumi.

Berdamai dengan kenyataan

Menerima bahwa diri ini lemah atas niat jalan-jalann ke banyak tempat di Bali. Hahaha. Mari akui kelemahan ini, dan memikirkan solusinya. Sudah tau banyak tempat asyik di Bali, ya mari nikmati. Bukankah niatan awal WFB ialah karena ada ‘liburan’ yang bisa kapan saja?

Bekerja lebih awal

Kebetulan saya memang morning person. Bekerja lebih pagi di Bali untuk klien-klien di Jakarta, membuat kita ‘untung’ dalam segi waktu. WITA lebih cepat 1 jam ketimbang WIB. Jadi, memulai bekerja jam 7 WITA (setelah jalan pagi) akan memberi waktu 3 jam sampai kantor-kantor di Jakarta buka.

Atur jadwal

Bekerja di Bali memang dapet bangeh sih life balancenya. Bekerja keras mulai jam 7 hingga pukul 3 sore lalu berlari ke pantai memang ideal. Kalau memungkinkan setiap hari, why not? Pulang dari tempat favorit bikin energi kita kembali full buat esok hari. Tapi kalau beban pekerjaan dan tenggat sedang tak bisa ditawar, ya jangan tiap hari ke pantai dong ah.

Benahi pikiran

Mau distraksi sehebat apapun, kalau kita fokus, ya sebetulnya no problemo aja kan. Saat bekerja ya usahakan fokus saja. Tanamkan dalam benak, kalau saya fokus dan pekerjaan selesai, saya bisa lebih lama tinggal di Bali, dan menikmati semua saat waktunya tiba. 😀

Makan yang benar

Banyak opsi makanan sehat yang bisa kamu pilih buat melancarkan fokus. Beberapa working space di Canggu, misalnya, punya menu semangkuk makanan sehat dan jus yang enak dan bikin kenyang. Pilihan lain ya belanja saja buah dan sayur di pasar lokal. Tambah oke kalau kamu bisa sekadar membuat salad di penginapan, atau masak ringan semacam rebus telur dan panggang roti gandum. Sebisa mungkin hindari junk food.

Tetap bergerak

Olahraga terbukti menjaga fokus dan kebugaran. Kalau kita rutin berolahraga, otak, hati, dan badan lebih siap menerima tantangan apa saja. Eaaa. Di Bali banyak banget tempat fitnes, ataupun yoga. Yang mau sekadar jogging gratisan, banyak pantai dan taman publik. Atau, ya minimal rutin berenang di tempat kamu menginap. Banyak apartemen, atau kost ekslusif yang menyediakan kolam renang.

Tempat kerja yang enak

Saya bisa bekerja dari kamar, ataupun di kafe, sama saja. Tapi untuk alasan pengendalian diri atas pengeluaran yang sebetulnya tidak perlu, saya bekerja dari tempat menginap. Ini sesuaikan saja, apakah mau berhemat untuk penginapan dan bekerja di luar, atau sebaliknya.

Jangan overthinking

Satu fokus, satu kerjaan. Saat bekerja pikirkan itu saja, jangan biarkan pikiran kita melayang kemana-mana. What you see is what you get. Apa yang di depanmu, itu yang dikerjakan dan dipikirkan. Halau jauh-jauh jika ada ide-ide liar yang tidak relevan, apalagi sampai googling demi melanjutkan khayalan.

Selamat Bekerja dari Bali, atau dari mana saja tempat indah di muka bumi.

Share:

Leave a Comment

Your email address will not be published.